Selamat datang di Catercilku alias Catatan Terpencilku. Di sini, di sudut kecil dunia maya ini, aku menuangkan serpihan cerita, pemikiran liar, dan momen-momen
sederhana dari keseharianku. Mungkin tak selalu megah atau luar biasa, tapi itulah hidup, kadang
manis, kadang pahit, dan sering kali penuh kejutan. Melalui tulisan-tulisan ini, aku berharap bisa
berbagi secuil rasa, canda, dan bahkan keluh kesah, layaknya berbicara dengan teman lama di sore
yang tenang. Terima kasih sudah mampir, semoga kita bisa saling berbagi rasa di sini. Selamat membaca,
dari sudut terpencilku ke sudut hatimu.
Langkahnya seringkali terasa seperti gerak mekanis, kaku dan tanpa jiwa. Ia adalah seorang insan yang terjebak dalam tarikan negatif dunia fana. Matanya, meski terbuka, seringkali terhipnotis oleh pendar cahaya neon kepalsuan. Ia bergerak layaknya robot yang dikendalikan oleh benang-benang halus bisikan setan, berputar di labirin yang sama, mengulang kesalahan yang serupa, seolah-olah ia telah kehilangan kendali atas kemudinya sendiri.
Di dalam dadanya, ada sebuah kota tua yang sunyi, namanya Hati Nurani. Di Hati Nurani itu ada sebuah pelita kecil yang tak pernah benar-benar padam. Pelita itu terus membisikkan kerinduan untuk pulang ke jalan yang lurus, jalan yang menjanjikan ketenangan abadi di bawah naungan-Nya. Setiap kali ia bersujud, ada tekad yang mengental, sebuah janji suci yang ia susun rapi untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Namun, dunia adalah panggung sandiwara yang bising.
Tepat saat ia ingin melangkah keluar dari lingkaran setan itu, sang penggoda datang dengan rupa yang paling manis. Godaan itu menyusup lewat celah-celah kecil keraguan, meruntuhkan tembok niat yang baru saja ia bangun dengan payah. Tekadnya yang setinggi langit seringkali luruh menjadi debu hanya dalam satu kedipan mata. Ia kembali jatuh, kembali terjerembab dalam kubangan yang ia benci, kembali menjadi pesakitan yang menanggung beban dosa yang kian memberat.
Ia merasa seperti pendosa tersesat yang membawa peta, namun kakinya dipaksa berlari ke arah yang berlawanan.
Meski begitu, jauh di lubuk sanubarinya, ia tahu satu hal: Pintu itu tidak pernah dikunci. Seberapa jauh pun ia tersesat, seberapa sering pun ia melanggar janji, detak jantungnya adalah sebuah undangan untuk kembali. Ia hanyalah seorang manusia, makhluk yang diciptakan dari tanah, yang sesekali akan berdebu, namun selalu memiliki kesempatan untuk dibasuh oleh air mata pertobatan.
Sebab bagi sang pengelana kebenaran, tidak ada tempat pulang yang paling indah selain kembali bersimpuh di haribaan-Nya, meski harus merangkak dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Itulah dia, insan pengulangi dosa yang paling gigih, namun dia juga adalah pencari ampunan yang tak akan pernah bosan dan berhenti untuk mengetuk pintu Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sejak note ini dibuat, sudah lebih dari dua minggu aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuh media sosial. Rasanya? Jauh lebih tenang.
Platform-platform media sosial sudah aku hapus semua.
Dulu, setiap kali ada waktu luang, jempol ini secara otomatis membuka aplikasi-aplikasi yang penuh dengan kebisingan dan bikin kepala menjadi terasa brainrot. Isinya kebanyakan cuman konten-konten membandingkan hidup dengan orang lain, melihat drama yang tak ada habisnya, berita sampah pemerintah, konten-konten toxic dan lain semacamnya hingga akhirnya memunculkan rasa yang sangat lelah dan muak akan semua itu.
Setelah melepaskannya, aku merasa dunia jadi sedikit lebih luas. Aku punya lebih banyak waktu untuk benar-benar hadir di sini, di dunia ini, di saat ini. Membaca buku, mengamati sekitar, berkomunikasi dengan orang-orang ‘nyata’, atau sekedar menikmati keheningan tanpa perlu membagikannya kepada siapapun kecuali hal yang lebih bermanfaat seperti dengan menulis dan membagikannya di blogku tercinta ini.
Dan ketenangan itu tidak perlu validasi dari tombol suka atau komentar orang lain. Ketenangan yang kutemukan itu ada di dalam ketenangan batin yang jauh dari hingar bingar dunia fana yang memabukkan. Dunia yang membuat lupa sampai tak mengenali diri kita itu siapa hingga terasa sangat asing ketika sedang bercermin. Sampai-sampai melupakan dari mana kita itu berasal, dan akan kemana kita nantinya akan berakhir.
Aku juga mengakui bahwa media sosial itu tidak buruk semuanya. Ada sisi positifnya jika kita tahu cara menggunakannya dengan sangat bijak. Namun, bagiku saat ini, ini bukan lagi tentang platform mana yang bagus atau tidak, yang bermanfaat atau tidak, melainkan tentang self-control yang telah lama hilang karena sudah tertelan terlalu dalam oleh algoritma. Aku ingin kembali memegang kendali penuh atas perhatianku sendiri, bukan membiarkannya untuk dieksploitasi oleh sistem yang dibuat oleh mereka, yang memang sengaja dirancang untuk membuat penggunanya menjadi kecanduan dan menjadi terjerumus pada hal-hal buruk lainnya yang ditimbulkan oleh platform-platform tersebut jika tidak dibentengi dengan kesadaran penuh untuk selalu bijak dalam setiap penggunaannya.
Karena ketenangan itu mahal harganya, maka dari itu, aku tidak ingin menukarnya lagi dengan validasi dan kesenangan yang semu dari dunia maya, dari dunia palsu itu.
Lalu, apakah aku akan kembali menggunakan media sosial lagi suatu saat nanti? Entahlah. Aku tidak ingin berjanji apa pun pada diriku sendiri. Namun yang pasti, jika suatu hari aku memutuskan untuk kembali menggunakan media sosial, caraku menggunakannya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan diriku sendiri untuk hanyut lagi kedalam arus yang melelahkan dan sangat memuakkan itu.
Bagi sebagian muslim, ada dilema moral ketika melihat miliaran dolar perputaran uang dari wisata religi ini mengalir masuk ke kas negara Saudi. Uang dari keringat umat Islam di seluruh dunia yang menabung puluhan tahun demi bisa ke Tanah Suci, pada akhirnya menjadi salah satu pilar ekonomi utama Saudi, selain minyak, terutama dalam menyukseskan Visi 2030 (Saudi Vision 2030) gagasan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Visi yang bertujuan mendiversifikasi ekonomi menuju era post-oil, yang sangat bergantung pada pariwisata, di mana “wisata religi” Haji dan Umroh adalah yang akan menjadi tulang punggungnya, dengan target mendatangkan 30 juta jamaah Umroh per tahun pada 2030.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di bawah administrasi Kerajaan Saudi saat ini, infrastruktur perluasan Masjidil Haram, transportasi publik, dan manajemen peliknya kerumunan jutaan jamaah merupakan sebuah prestasi manajerial modern yang patut diapresiasi.
Masalahnya, ke mana uang berpuluh miliar dolar yang masuk ke Sovereign Wealth Fund Saudi (PIF - Public Investment Fund) itu bermuara?
Tidak jarang, dana ini digunakan untuk manuver geopolitik yang justru memicu amarah umat Islam akar rumput:
Perang di Yaman: Seperti yang kita ketahui bahwa Saudi memimpin koalisi militer mengebom Yaman selama bertahun-tahun dalam perang proksi melawan Houthi. Perang ini menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, kelaparan, dan menewaskan ratusan ribu warga sipil Muslim Yaman.
Sikap Pasif dan Normalisasi Terselubung: Banyak umat Islam mengkritik Saudi karena tidak mengambil tindakan nyata atau sanksi embargo energi (seperti Raja Faisal dulu di tahun 1973) terhadap entitas apartheid Zionis yang sedang menjajah dan menghancurkan Palestina. Parahnya, sebelum pecah 7 Oktober, Saudi dan Israel berada di ambang kesepakatan Normalisasi Hubungan Diplomatik yang difasilitasi AS. Bagi banyak kelompok Islam, ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan pembebasan Palestina.
Dalam urusan domestik, triliunan rupiah dari perputaran uang umat ini juga kerap disorot karena membiayai gaya hidup ultra-mewah keluarga kerajaan (Al Saud). Ribuan pangeran senior terkenal dengan gaya hidup super mewah di Eropa, kepemilikan kapal pesiar (superyacht seharga ratusan juta dolar seperti milik MBS), pembelian lukisan Salvator Mundi seharga pemecah rekor US$ 450 juta, hingga pembelian klub sepak bola Newcastle United.
Terlebih lagi, saat kelaparan dan perang melanda Yaman, Gaza, Sudan, dan Suriah, anggaran raksasa justru dihamburkan untuk proyek-proyek utopis dan ambisi domestik yang minim manfaat bagi umat Islam global seperti:
NEOM & The Line: Proyek kota futuristik di padang pasir seharga triliunan dolar yang dipertanyakan kelayakannya dan telah memakan korban penggusuran suku lokal (Suku Howeitat).
Sports Washing & Hiburan Sekuler: Ratusan triliun rupiah per musim dibakar untuk membayar mahal pemain bola tua (Cristiano Ronaldo, Neymar, Benzema) demi membangun citra baru di mata Barat, yang uangnya jika dibelikan gandum atau beras bisa menyelamatkan rakyat di negara miskin. Belum lagi penyelenggaraan hiburan sekuler seperti konser-konser musik, gulat WWE, dan festival hedonis (MDL Beast) di Saudi yang dianggap banyak pemuka agama justru menggerus nilai kesucian Tanah Arab.
Makkah dan Madinah secara geografis memang berada di semenanjung Arabia. Namun secara spiritual, esensi, dan sejarah, Haramain adalah warisan dan hak milik seluruh komunitas muslim di dunia. Ia bukan aset properti eksklusif milik sebuah negara-bangsa, apalagi sekedar segelintir elite penguasa.
Maka, muncul perandaian di kepalaku:
Bagaimana jika Mekah dan Madinah dilepaskan statusnya sebagai teritori kedaulatan mutlak satu negara (Arab Saudi), dan diubah menjadi daerah khusus yang berstatus persemakmuran (Commonwealth) atau wilayah teritori kolektif khusus milik seluruh negara-negara Islam?
Sebuah wilayah dengan otonomi penuh, di mana otoritas pengelolaannya bukan lagi negara Arab Saudi, melainkan entitas gabungan yang mewakili umat Islam sedunia. Gagasan yang bisa dikatakan radikal.
Lalu, bagaimana bentuk implementasinya?
Pertama, ambil alih pengelolaan ibadah dan teritori Haramain. Urusan Haji, Umroh, dan yurisdiksi atas kedua kota suci tersebut harus ditransformasi agar berada murni di bawah naungan komunitas muslim internasional. Kedaulatannya ada pada umat, bukan pada Kerajaan Saudi.
Kedua, dikelola oleh konsorsium independen semacam “PBB-nya Dunia Islam”. Dibentuk sebuah lembaga konsorsium otonom yang terdiri dari perwakilan negara-negara mayoritas Islam. Lembaga ini bertindak secara transparan, akuntabel, dan bebas dari intervensi politik satu negara tertentu dalam mengambil kebijakan administratif, hukum, dan tata ruang di Mekah dan Madinah.
Ketiga, distribusi surplus untuk umat. Seluruh perputaran ekonomi dari visa, akomodasi, hingga transportasi tidak lagi masuk menggemukkan brankas satu kerajaan. Surplusnya dikembalikan ke negara-negara anggota atau dikelola sebagai kas umat global (menjadi semacam baitul mal internasional). Bayangkan jika miliaran dolar itu digunakan untuk memberikan beasiswa puluhan ribu mahasiswa, membiayai anak-anak yatim piatu, membangun infrastruktur di negara-negara muslim yang miskin, atau membiayai rekonstruksi Gaza dan wilayah konflik lainnya.
Dalam skema tata kelola yang adil ini, peran pemerintah Saudi akan diredefinisi. Rezim Saudi tidak lagi bertindak sebagai “tuan tanah” mutlak, melainkan sebagai “marbot” yang dihormati. Kita, umat Islam sedunia melalui konsorsium perwakilan lah yang menjadi takmirnya.
Entitas lokal dipekerjakan untuk mengurus kebersihan, keamanan fisik, dan infrastruktur, serta tentu saja dibayar dengan sangat layak sesuai standar profesional. Namun arah kebijakan spiritual, kuota, tata kelola keuangan, tata ruang pembangunan kota suci, dan distribusi keuntungan spenuhnya ada di tangan umat Islam global. Dengan begitu, ibadah haji benar-benar kembali pada khitahnya yaitu: persatuan umat, kesetaraan, dan pemberdayaan, bukan sekadar pariwisata spiritual yang menyumbang pundi-pundi kapitalisme birokrasi suatu rezim tunggal.
Tidak sengaja aku menonton video Ken O’Keefe yang lewat di beranda YouTube. Apa yang ia bicarakan pada video tersebut cukup membuatku salut dan merenung. Dengan lantang ia membongkar jaring-jaring manipulasi media, menguliti wajah asli dari “demokrasi” Barat, kemunafikan para elit politiknya, serta agenda maut jangka panjang yang menyasar Palestina.
Di bawah ini adalah poin-poin dan highlight lengkap tentang apa saja yang ia sampaikan dalam video tersebut:
“You couldn’t pay me to be nonviolent if I were born in Gaza. I would be fighting.” (Kamu tidak bisa membayarku untuk menjadi antikekerasan jika aku lahir di Gaza. Aku pasti akan ikut melawan). Begitulah pernyataan tegas yang Ken sampaikan di video tersebut.
Ken membagikan pengalamannya puluhan tahun yang lalu ketika ia melewati berbagai pos pemeriksaan militer saat menetap di Gaza dan Tepi Barat. Ia melihat langsung berbagai penghinaan yang menimpa orang-orang Palestina di sana. Menariknya, terlepas dari segala penderitaan sistematis dan pengepungan tersebut, anak-anak dan rakyat Palestina tidak serta-merta berubah menjadi penuh kebencian. Mereka melawan gempuran taktik brutal negara penjajah dengan kekuatan mental yang tangguh. Bagi Ken, pemandangan bocah-bocah bermodalkan batu menghadapi barisan tank mutakhir bukanlah tindakan pengecut, melainkan bentuk keberanian murni dan tegaknya martabat kemanusiaan. Justru dari Palestina-lah dunia kita saat ini sedang belajar arti sesungguhnya menjadi manusia merdeka utuh yang tak bisa dipatahkan.
Ken berkaca pada masa lalunya sebagai marinir AS (US Marine Corps). Hidup dan dibesarkan di California era 70-an hingga 80-an, ia dahulu percaya mentah-mentah bahwa Amerika adalah “negara terhebat”, garda terdepan demokrasi dan kebebasan.
Kini, ia tersadar bahwa patriotisme buta itu sesungguhnya adalah indoktrinasi murni dan wujud pengendalian mental. Banyak orang di masyarakat (hingga institusi militer) hanya mengaminkan dan “membeo” apa yang dikoar-koarkan di sekitarnya. Mayoritas orang lebih sibuk mengejar popularitas dan penerimaan di lingkaran sosialnya, daripada memberanikan diri untuk mencari tahu kebenaran mutlak di balik suatu konflik yang terjadi.
Saat menelaah cara kerja dunia modern, Ken sendiri bisa dibilang memiliki satu tips radikal untuk memahami segala kerusakan yang sudah terjadi selama ini. Dia bilang: kita tidak akan pernah memahami logika jalannya dunia hari ini jika hanya menggunakan cara pandang manusia yang sehat pikiran dan perasaannya. Kita harus rela masuk ke isi kepala para psikopat.
Menurutnya, mereka yang mengemban jabatan tertinggi dan menjadi figur politik kelas elit sebetulnya “memenuhi syarat” untuk berada di atas sana, justru karena perilaku mereka yang korup dan sangat tidak bermoral itu. Ken secara frontal menunjuk kembali kasus mega-skandal belakangan ini, Jeffrey Epstein, dan pesawat “Lolita Express” sebagai bukti bahwa para elit global benar-benar terlibat dalam kebiadaban moral. Psikopat-psikopat dan sosiopat yang menyukai kekejaman inilah yang pada gilirannya mencetak kebijakan, mengambil uang sogokan, dan yang mensponsori jatuhnya bom-bom genosida di Timur Tengah.
Kemarahan terbesar bagi masyarakat Barat yang sudah tersadar adalah fakta bahwa uang mereka sendiri turut menjadi “iuran” untuk membeli bom yang membunuh anak-anak tak berdosa. Setiap kali mereka membeli secangkir kopi atau barang kebutuhan sehari-hari, sebagian pajak yang dipungut dari sana akan bermuara pada persetujuan dana militer bernilai fantastis untuk negara pelaku genosida. Ironisnya, seperti yang disoroti Ken, uang miliaran dolar itu bukannya dipakai untuk kesejahteraan rakyat sendiri, seperti menanggulangi krisis tunawisma yang kian parah di negara mereka, namun justru dihamburkan untuk membiayai pembantaian.
Oleh karenanya, Ken menyoroti kampanye tentang perlawanan yang legal, yaitu aksi menolak bayar pajak secara bersama-sama, sampai pemerintah bisa menggaransi penuh bahwa uang rakyat tidak dipakai untuk menyokong kejahatan kemanusiaan. Prinsip dasarnya adalah, kewajiban terkecil kita dalam melawan tirani adalah berhenti memberi mereka dana (amunisi) yang digunakan untuk menzalimi orang lain.
Salah satu senjata paling mematikan yang dimiliki para elit penguasa saat ini adalah kendali atas bahasa dan narasi. Dengan mendistorsi makna dari berbagai istilah, mereka berhasil menggiring opini publik untuk membenarkan tindakan-tindakan keji. Sebagai contoh, perlawanan rakyat Palestina yang mempertahankan tanah air mereka sering kali dilabeli secara sepihak sebagai “terorisme”. Label ini sengaja dipakai untuk membangun legitimasi atas invasi dan penjajahan. Sebaliknya, ketika pihak penjajah menghancurkan infrastruktur atau merenggut nyawa warga sipil, kebrutalan tersebut justru diperhalus oleh media massa sebagai upaya “pembelaan diri” atau tindakan kompromi defensif.
Contoh manipulasi kata lainnya yang sering digunakan adalah tameng “anti-semitisme”. Ken menyoroti betapa absurdnya pelabelan ini jika kita menilik pada fakta sejarahnya. Secara harfiah dan etnis, penduduk asli Palestina yang berbahasa Arab adalah bagian dari rumpun bangsa Semit itu sendiri. Hal ini memperlihatkan secara jelas bahwa definisi sebuah kosakata terus dikorupsi dan dibelokkan maknanya secara massal hanya demi membungkam pihak yang menentang dan untuk memuluskan kepentingan ideologis semata.
Konflik dan perang tanpa henti tidak bisa dipisahkan dari peranan sindikat perbankan besar. Ken secara provokatif menyebut institusi “The Federal Reserve” bukan lagi badan milik negara, melainkan bank privat independen yang dikendalikan oleh keluarga-keluarga bankir penguasa macam Rothschild.
Jika kita menelaah jauh ke belakang, bibit kesengsaraan di wilayah Palestina sesungguhnya sudah mulai ditanam semenjak tahun 1800-an, seiring dengan dimulainya rancangan proyek penguasaan wilayah secara masif oleh kelompok Zionis. Di sisi lain, terkait dengan dominasi perbankan, Ken juga menyinggung keberanian Presiden JFK di masa lalu. Kala itu, JFK berusaha membebaskan sistem keuangan Amerika dari jeratan rentenir dengan menerbitkan uang United States Notes yang berstempel merah. Sayangnya, sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap oligarki bankir tersebut harus dibayar mahal dengan nyawa, JFK tewas dibunuh tak lama setelahnya. Hari ini, ekonomi global telah sepenuhnya digadaikan, menciptakan kondisi serupa dengan Republik Weimar (Jerman) saat dilanda hiperinflasi yang sangat parah pasca Perang Dunia I, yang dampak buruknya berlanjut hingga saat ini. Sebagai contoh, ketika genosida di Gaza sedang berlangsung, harga kebutuhan pokok seperti sekilo gula di sana bisa melonjak hingga pada titik yang benar-benar tak terbayangkan oleh akal sehat.
Penderitaan di Gaza saat ini bukanlah peristiwa acak yang tiba-tiba terjadi atau murni bermula dari insiden 7 Oktober yang lalu saja. Di balik semua kebrutalan itu, terdapat tujuan yang sangat gamblang, yaitu mewujudkan agenda Greater Israel atau Israel Raya. Bagi mereka, menguasai tanah Palestina dan menghancurkan kehidupan di dalamnya hanyalah langkah pertama menuju ambisi yang lebih besar.
Rencana ekstrem dan sangat ambisius ini menargetkan perluasan wilayah kekuasaan mereka hingga mencakup batas geografis yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Dalam prosesnya, penduduk asli Palestina adalah kelompok pertama yang harus dibersihkan secara sistematis. Agenda pamungkas mereka adalah merebut kendali mutlak atas situs-situs suci di Yerusalem dan membangun kembali “Kuil Ketiga” (Third Temple) sebagai pusat spiritual dari sosiopat kultus gelap mereka. Semua ini dirancang secara sistematis melalui berbagai manipulasi dan rekayasa, tanpa menyisakan sedikit pun empati maupun nilai kemanusiaan.
Pernyataan yang paling mengena dari Ken adalah: jangan jadi pengecut lalu berlindung di balik kalimat, “Aku cuma perorangan, bisa apa aku di tengah masalah sistemik ini?” Mengucapkan hal tersebut adalah cara mental pecundang, karena bahkan keputusan sekecil apa pun yang kita ambil berkontribusi memberikan dampak ke dunia yang luas.
Menurut Ken, ketika sistem meminta “tacit consent” (persetujuan secara diam-diam) atas sebuah kekerasan, bersuara menentangnya adalah penangkal racun terbaik. Tuhan tidak pernah berbohong, ilusi dan kerusakan adalah mutlak jalan keagamaan palsu para penyembah iblis yang berkuasa. Jika kita mengikuti Kebenaran, meski tidak populer, itu adalah satu-satunya instrumen yang akan mentransedensi kita agar hidup dengan derajat manusia secara utuh.
Banyak orang yang mungkin salah paham ketika aku sering kali ikut nimbrung atau asyik membahas hal-hal yang berbau Kiri atau Sosialisme. Terkadang, karena intensitas obrolan tersebut, beberapa orang mungkin akan menganggapku sebagai seorang Kiri sejati. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, aku ingin meluruskan beberapa hal.
Pertama dan yang paling utama, aku lebih condong dengan segala nilai-nilai Islam. Dan bagiku, Islam adalah kebenaran yang mutlak dalam segala hal dan aspek kehidupan. Boleh dong ya aku berpendapat begitu, itu hak diriku untuk berpendapat… Aku merasa bahwa identitas yang paling pas untuk diriku adalah seorang Islamis. Nilai-nilai, prinsip, dan pandangan hidupku bersumber kuat dari ajaran agama Islam. Walaupun memang sepertinya diriku saat ini nyatanya masih jauh dari sifat-sifat yang diajarkan oleh Nabi (semoga saja bisa jadi lebih baik ya…wkwkwk).
Memang benar, aku terkadang suka membahas topik-topik berbau Kiri. Namun, bukan berarti aku adalah seorang penggiat atau pendukung Kiri garis keras. Aku hanya suka membahas perihal “tongkrongan” mereka dan bertukar pikiran. Alasan utamanya adalah karena memang ada beberapa hal (saja) yang menurutku sejalan dan setuju dengan apa yang aku yakini selama ini, seperti perihal kepedulian terhadap sesama dan kritik terhadap ketimpangan.
Selain dari irisan kecil itu, fondasiku tetap berpijak tegas pada nilai-nilai Islam, bukan pada kerangka ideologi Kiri. Tulisan ini sengaja aku buat sebagai media pelurusan, takutnya karena aku kadang membahas perihal Kiri, orang-orang akan menganggapku benar-benar seorang Kiri. Apalagi, di Library Digital web blog ku ini aku juga menambahkan beberapa buku yang membahas perihal Kiri, jadi dirasa sangat perlu bagiku untuk memperjelas posisiku.
Jadi, untuk merangkum dan memperjelas semuanya, balik lagi dengan statement-nya:
Aku lebih suka disebut sebagai seorang Islamis yang sering nongkrong dengan orang-orang Sosialis.