Berani untuk meng-cutoff orang tidak tahu diri
Tidak semua orang yang masuk ke hidup kita harus kita pertahankan.
Aku tahu ini terdengar kejam. Egois, mungkin. Tapi semakin lama aku menjalani hidup ini, semakin aku sadar bahwa tetap berteman, berkolega atau apapun itu, dengan seseorang yang terus-menerus membuat kita tidak nyaman itu bukanlah kebaikan, melainkan pengkhianatan terhadap diri kita sendiri.
Dan “tidak nyaman” di sini bukan soal perbedaan pendapat sesekali, atau gesekan kecil yang wajar terjadi di setiap interaksi. Bukan itu.
Yang kumaksud adalah ketidaknyamanan yang sudah jadi pola. Yang hadir berulang-ulang. Yang membuat kita merasa kecil, merasa rugi, merasa harus berjalan di atas kulit telur setiap kali berhadapan dengan orang yang tidak tahu diri itu.
Rasa tidak nyaman yang diam-diam menggerogoti energi kita, membuat kita ragu dengan diri sendiri, dan perlahan-lahan menghapus rasa damai yang seharusnya kita miliki.
Itu bukan pertemanan, bukan kekeluargaan, bukan kedekatan yang sehat. Itu adalah beban.
Dan yang paling menyulitkan adalah, kadang orang itu bukan “orang jahat.” Mereka tidak harus melakukan sesuatu yang secara terang-terangan salah. Kadang mereka cuma… tidak cocok. Frekuensi kita berbeda. Cara mereka ada membuat kita terus merasa sesak, meski mungkin mereka sendiri tidak sadar akan hal itu.
Dan itu valid.
Kita tidak harus menunggu sampai seseorang benar-benar menghancurkan kita baru boleh pergi. Kita tidak harus menunggu sampai ada bukti konkret yang bisa kita tunjukkan ke orang lain sebagai pembenaran. Rasa muak kita sendiri sudah cukup untuk menjadi alasan.
Karena batas setiap orang itu berbeda-beda. Apa yang bisa ditoleransi orang lain belum tentu bisa kita tanggung. Dan itu tidak membuat kita lemah, itu justru menandakan bahwa kita cukup mengenal diri sendiri untuk tahu kapan harus berhenti.
Tapi ya, aku paham. Meng-cutoff itu tidak mudah.
Mungkin saja ada rasa bersalahnya, sedikit, maybe. Muncul pertanyaan-pertanyaan di kepala, “Apakah aku sebetulnya terlalu sensitif?” “Apakah memang aku yang berlebihan?” “Bagaimana kalau ternyata aku yang salah?”
Dan rasa bersalah itu wajar menurutku. Sangat manusiawi. Tapi jangan sampai rasa bersalah itu yang kemudian mengontrol keputusan kita. Jangan sampai kita terus mengorbankan ketenangan hanya karena takut untuk disebut “jahat”.
Dalam hal seperti ini, ketegasan bukanlah kekejaman.
Memilih untuk menjauh dari seseorang yang membuat hidup kita tidak tenang itu bukan tanda bahwa kita manusia yang buruk. Itu tanda bahwa kita akhirnya memilih untuk memprioritaskan diri kita sendiri, dan itu bukan dosa.
Kita sering diajari untuk selalu memaafkan, selalu bersabar, selalu menjaga silaturahmi bagaimana pun kondisinya. Tapi jarang sekali ada yang mengajari kita bahwa melepaskan pun kadang adalah bentuk penghargaan terhadap diri kita sendiri.
Karena kalau kita hancur, kita cuma sedang menjadi “makanan” bagi ego orang lain yang tidak pernah merasa cukup.
Kalau kita terus memaksakan diri berada di lingkungan yang salah, kita bukan hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga perlahan kehilangan versi terbaik dari diri kita. Dan itu tidak adil, bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sendiri.
Jadi iya, ada kalanya kita harus tegas.
Tegas untuk bilang,
Sampai di sini saja. Memangnya Anda itu siapa?
Tegas untuk memilih ketenangan di atas kebiasaan.
Tegas untuk melepaskan, bukan karena membenci, tapi karena kita tahu diri kita juga layak dijaga.
Dan siapa tahu, dengan kita menjauh, justru orang itu akhirnya sadar sendiri. Sadar bahwa selama ini ada yang salah dari caranya memperlakukan orang lain. Sadar bahwa kehadiran seseorang itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh begitu saja. Kadang orang baru tahu rasa ketika mereka kehilangan. Dan mungkin, meng-cutoff itu adalah pelajaran yang mereka butuhkan, pelajaran yang tidak akan pernah mereka dapat selama kita terus bertahan dan diam.
Bukan berarti kita menghukum. Tapi kalau keberadaan kita selalu mereka injak, maka perginya kita mungkin adalah satu-satunya cara agar mereka mengerti.
Dan kalau rasa bersalah itu datang lagi, ingatkan kepada diri sendiri:
Kamu meng-cutoff tidak lain dan tidak bukan karena kamu sedang menyelamatkan dirimu sendiri dari orang-orang yang sering menginjak-injakmu.
Dan itu cukup.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.