skip to content
Catercilku
Back

Jika harus memilih, aku berdiri di barisan Iran

Aku tahu dunia geopolitik itu tidak hitam-putih.

Aku tahu bahwa setiap konflik punya lapisan-lapisan yang rumit, bahwa setiap pihak punya narasi masing-masing, dan bahwa melihat sesuatu secara biner itu berbahaya. Aku tidak bisa melihat ini hanya dari kacamata siapa Syiah, siapa Sunni, siapa Barat, siapa Timur, atau label-label sempit lainnya. Kita harus membedakan mana pemahaman teologis dengan bagaimana kita menyikapi geopolitik. Dunia tidak sesederhana itu, aku sadar betul.

Dengan konteks panas Geoplitik di Timur Tengah akhir-akhir ini antara AS-Israel VS Iran, kalau aku harus memilih berdiri di satu garis yang mana antara dua barisan tersebut, maka aku sudah tahu di mana kakiku berpijak.

Aku memilih berdiri di barisan Iran.

Bukan sebagai pendukung buta, bukan sebagai pengikut fanatik, tapi sebagai seseorang yang sudah terlalu muak melihat kelakuan Amerika Serikat dan Israel selama bertahun-tahun.

Karena jujur saja, kalau kita mau bicara soal siapa yang selama ini menjadi sumber masalah di Timur Tengah, jawabannya sudah sangat jelas.

Amerika Serikat.

Dan Israel.

Dua nama itu sudah seperti sinonim dari kekacauan di kawasan tersebut. Invasi Irak dengan dalih senjata pemusnah massal yang ternyata tidak pernah ada. Campur tangan di Libya yang meninggalkan negara itu dalam reruntuhan. Dukungan tanpa syarat kepada Israel yang terus-menerus melanggar hukum internasional. Sanksi demi sanksi yang dijatuhkan kepada negara-negara yang berani menolak tunduk. Semua itu bukan teori konspirasi. Itu fakta sejarah yang sudah didokumentasikan oleh dunia.

Dan Israel?

Negara yang dibangun di atas tanah yang dirampas. Negara yang membombardir pemukiman sipil lalu menyebutnya “pertahanan diri.” Negara yang mengurung jutaan manusia di Gaza seperti hewan dalam kandang, memblokir makanan, air, obat-obatan, lalu bersikap seolah-olah mereka yang jadi korban. Negara yang bisa membantai anak-anak dan wanita tak bersalah di depan mata dunia tanpa konsekuensi apapun, karena mereka tahu ada Amerika yang selalu siap memveto setiap resolusi PBB yang mengecam mereka.

Kemunafikan. Itu kata yang paling tepat.

Amerika bicara soal demokrasi, tapi mendukung rezim-rezim otoriter yang patuh kepada mereka. Bicara soal hak asasi manusia, tapi tutup mata ketika Israel melakukan apa yang oleh banyak pakar hukum internasional sebagai genosida. Bicara soal kebebasan, tapi menjatuhkan sanksi seenak jidatnya kepada siapa pun yang berani berdiri “melawan Amerika”.

Propaganda mereka begitu halus, begitu masif, sampai-sampai setengah dunia percaya bahwa Amerika itu “polisi dunia yang baik hati” dan Israel itu “negara demokrasi satu-satunya di Timur Tengah.” Lucu sekali. Demokrasi macam apa yang dibangun di atas penindasan dan perampasan tanah orang lain?

Dan di tengah semua itu, di tengah dunia yang diam membisu, di tengah negara-negara Arab yang sibuk normalisasi hubungan dengan Israel demi kepentingan ekonomi mereka sendiri, Iran berdiri.

Iran yang berada di garda terdepan membela Palestina.

Saat negara-negara lain hanya bisa mengeluarkan “kecaman keras” dan “keprihatinan mendalam” yang tidak ada artinya, Iran justru berani maju ke garis depan. Saat dunia terlalu pengecut untuk bersuara, Iran bersuara. Saat yang lain sibuk berdiplomasi kosong, Iran menunjukkan bahwa ada yang masih punya nyali untuk melawan.

Apakah Iran sempurna? Tidak. Tentu saja tidak.

Tidak ada negara yang sempurna. Iran punya masalahnya sendiri, punya kekurangannya sendiri, punya sisi-sisi yang bisa aku kritisi juga. Aku tidak menutup mata dari itu semua. Aku bukan tipe orang yang meninggikan satu pihak lalu menutup diri dari kekurangannya.

Tapi di antara pilihan yang ada, di antara pihak-pihak yang berseteru ini, Iran adalah pihak yang paling masuk akal untuk didukung. Bukan karena mereka malaikat, tapi karena pihak seberangnya jauh lebih buruk.

Ketika kita bicara soal siapa yang menghancurkan Palestina, jawabannya bukan Iran. Ketika kita bicara soal siapa yang membombardir rumah sakit dan sekolah, jawabannya bukan Iran. Ketika kita bicara soal siapa yang membuat jutaan pengungsi kehilangan segalanya, jawabannya bukan Iran.

Maka daripada itu, aku memilih berdiri di barisan Iran.

Bukan sebagai pendukung penuh yang fanatik. Bukan sebagai orang yang menganggap Iran tidak bisa salah. Tapi sebagai seseorang yang sudah gerah, sudah muak, sudah tidak tahan lagi melihat kemunafikan, kepicikan, dan kebiadaban yang dilakukan oleh Amerika dan Israel, dan memilih untuk tidak diam.

Aku berdiri di barisan Iran. Bukan karena Iran sempurna, tapi karena aku tahu siapa yang selama ini selalu menjadi sumber masalahnya.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.