Cerita Sukanagara
Pada tanggal 5 Juli lalu, aku mendapat kesempatan untuk bertugas sebagai panitia acara diklat Koding KA bagi guru-guru SMP di Sukanagara, Cianjur Selatan. Selain menjadi panitia, sesekali aku juga merangkap sebagai instruktur koding. Tapi yang ingin kuceritakan di sini bukan tentang acaranya, melainkan tentang hari-hari yang kulewati di Sukanagara tentang keseharian yang sederhana, namun membekas.
Sukanagara adalah kecamatan yang cukup jauh dari pusat kota Cianjur. Jalannya berliku dan menanjak, seolah membawa siapa pun yang datang menjauh dari keramaian menuju ketenangan. Udaranya sejuk, tidak dingin menggigit, tapi cukup menyegarkan. Pagi-pagi di sana terasa berbeda. Kami menginap di sebuah penginapan bernama Tjikoepa, tempat yang cukup nyaman untuk melepas lelah sekaligus menikmati suasana khas perdesaan.
Setiap pagi, sekitar pukul 6.30, kami sudah disambut hangat sarapan oleh mang-mang Tjikoepa kami menyebutnya, yang berganti-ganti dari nasi goreng pedas, ayam goreng, lalu kembali ke nasi goreng, dan seterusnya setiap harinya. Tak lupa teh celup panas yang menemani kami menikmati pagi. Kadang kami duduk-duduk di koridor depan, mengobrol ringan soal rencana kegiatan hari itu atau sekadar membicarakan betapa syahdunya suasana di Sukanagara. Tidak banyak yang bisa didengar selain suara burung, desiran angin, dan sesekali suara kendaraan dari kejauhan.
Transportasi umum di sana tidak seramai Cianjur kota. Jam 4 sore saja, sudah sulit menemukan angkutan yang lewat. Pernah suatu kali kami mencoba mencari tempat laundry. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya ketemu, tapi ternyata tutup. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih, dan tidak ada satupun angkutan yang bisa kami tumpangi. Akhirnya kami pulang jalan kaki. Lelahnya bukan main, tapi jadi pengalaman yang akan selalu kami ingat.
Kami hanya berempat: aku dan temanku sebagai panitia, serta dua fasilitator. Kompak, saling membantu, dan sering menghabiskan waktu bersama, entah untuk menyeduh teh pagi-pagi buta, atau sekadar berbagi cerita. Suasana kecil seperti itu justru yang terasa paling hangat.
Hari kelima adalah hari terakhir diklat di Sukanagara, kami sorenya harus langsung berpindah ke Cipanas, lokasi diklat selanjutnya, karena besoknya langsung mulai kegiatan diklat lagi. Tapi jujur, hatiku masih tertinggal di Sukanagara. Masih kangen dengan udaranya, paginya, obrolannya, dan suasana tenang yang jarang bisa ditemukan di tempat lain.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.