Kita sedang hidup di Distopia yang tidak terlihat Distopia
Dunia yang kita nikmati dan tinggali saat ini rasanya seperti baik-baik saja.
Tidak ada yang aneh. Kita bangun pagi, pergi kerja atau sekolah, buka media sosial, pesan makanan lewat aplikasi, nonton film di malam hari, lalu tidur. Besok diulangi lagi. Semuanya berjalan normal. Semuanya terasa aman.
Tapi kalau aku jujur? Tidak.
Kita sedang terlena. Terlena dengan ilusi bahwa dunia ini baik-baik saja, bahwa semua hal berjalan sebagaimana mestinya, bahwa tidak ada yang perlu dipertanyakan. Padahal kalau kita benar-benar mau jujur, membuka mata lebar-lebar, dan berpikir lebih dalam, dunia ini sudah lama berubah menjadi sesuatu yang lain.
Dunia sudah benar-benar berubah setelah Perang Dunia kedua.
Bukan cuma soal peta yang digambar ulang atau negara-negara baru yang lahir. Tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu. Setelah PD2, manusia tidak “bebas” lagi seperti yang diceritakan di buku-buku sejarah. Yang terjadi justru sebaliknya. Sistem-sistem baru dibangun, institusi-institusi global dibentuk, dan tatanan dunia direkayasa sedemikian rupa sehingga kekuasaan tidak lagi berbentuk jelas seperti kerajaan atau diktator yang duduk di atas takhta. Kekuasaan sekarang tersembunyi. Terselubung. Melebur ke dalam kehidupan sehari-hari kita sampai kita tidak lagi menyadarinya.
Kita bergerak di bawah sistem yang kuat, tapi kita tidak merasa sedang dikontrol.
Coba pikirkan sebentar. Siapa yang menentukan apa yang kita konsumsi? Siapa yang membentuk opini kita? Siapa yang memutuskan bahwa kita harus kerja seumur hidup demi beli hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan? Siapa yang merancang algoritma yang menentukan apa yang kita lihat, baca, dan pikirkan setiap hari?
Kita memang tidak sedang hidup di penjara dengan jeruji besi. Tetapi kita sedang hidup di penjara yang dindingnya terbuat dari kenyamanan, hiburan, dan ilusi kebebasan.
Ada sebuah novel yang judulnya Brave New World (versi bahasa Indonesianya: Dunia Baru Yang Gemilang) karangan Aldous Huxley. Brave New World adalah sebuah novel yang menceritakan dunia distopia yang dimana manusia didalam ceritanya tersebut tidak ditindas dengan kekerasan, tetapi dengan kesenangan. Manusia di dunia itu tidak perlu diberangus, karena mereka sudah terlalu sibuk menikmati hidup untuk peduli bahwa mereka sebenarnya tidak bebas. Dan aku merasa, kita sekarang sedang hidup di dunia yang tidak jauh berbeda dari itu saat ini.
Distopia tidak selalu terlihat seperti distopia.
Kita membayangkan distopia itu seperti di film-film. Gelap, menakutkan, penuh penderitaan yang kasat mata. Tapi bagaimana kalau distopia yang sebenarnya justru terlihat cerah, berwarna, dan menyenangkan? Bagaimana kalau sistem yang mengendalikan kita justru bikin kita merasa bahagia, sehingga tidak pernah terlintas di pikiran kita untuk mempertanyakannya?
Coba lihat di sekitar kita. Buktinya sudah ada di mana-mana.
Ponsel yang kita pegang setiap hari itu bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah alat pengawasan paling canggih yang pernah ada dalam sejarah manusia. Setiap lokasi yang kita kunjungi tercatat. Setiap percakapan bisa disadap. Setiap pencarian di internet membentuk profil digital tentang siapa kita, apa yang kita inginkan, dan apa yang bisa dijual kepada kita. Dan kita membawanya ke mana-mana dengan sukarela. Bahkan kita panik kalau tertinggal.
Media sosial. Kita pikir kita bebas berpendapat di sana. Padahal apa yang kita lihat di timeline sudah dikurasi oleh algoritma yang dirancang bukan untuk memberi kita informasi, tapi untuk membuat kita tetap scrolling. Algoritma itu tahu kapan kita sedih, kapan kita marah, kapan kita kesepian. Dan ia mengeksploitasi semua emosi itu demi engagement. Kita bukan pengguna, kita adalah produk. Data kita dijual. Perhatian kita dimonetisasi. Dan kita bahkan berterima kasih karena platformnya “gratis.”
Privasi digital? Sudah mati. Edward Snowden mengungkap bahwa pemerintah AS lewat program PRISM telah memata-matai komunikasi miliaran manusia di seluruh dunia, dan reaksi dunia? Sebentar ribut, lalu lupa. Setiap hari kita menekan tombol “I Agree” pada Terms of Service yang tidak pernah kita baca, menyerahkan hak penuh atas data pribadi kita tanpa tahu apa konsekuensinya. Wajah kita dipindai oleh facial recognition di bandara, mall, bahkan jalanan. Sidik jari dan data biometrik kita tersimpan di server entah milik siapa. Dan kalau kita protes? Jawaban yang selalu diberikan adalah, “kalau kamu tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, kenapa takut?” Seolah-olah privasi hanya hak bagi mereka yang bersalah. Padahal privasi adalah hak dasar setiap manusia, bukan hak istimewa yang harus diperjuangkan.
Lalu konsumerisme. Kita diajari sejak kecil bahwa sukses itu artinya punya rumah bagus, mobil baru, gadget terbaru, baju branded. Seluruh hidup kita didesain untuk mengejar itu semua. Kerja berjam-jam, bertahun-tahun, kadang di pekerjaan yang kita benci, demi beli barang-barang yang sebenarnya tidak bikin kita bahagia lebih dari beberapa hari. Lalu beli lagi. Dan lagi. Siklusnya tidak pernah berhenti karena memang didesain untuk tidak pernah berhenti.
Sistem utang. Ini mungkin salah satu rantai paling efektif yang pernah diciptakan. Kredit rumah 20-30 tahun. Kredit kendaraan. Pinjaman pendidikan. Pay later untuk beli barang yang bahkan sebenarnya tidak kita butuhkan. Sebelum kita sadar, separuh hidup kita sudah terikat untuk membayar utang. Dan orang yang terikat utang adalah orang yang tidak bisa protes, tidak bisa berhenti bekerja, tidak bisa melawan. Persis seperti yang diinginkan oleh sistem.
Dan di atas semua itu, ada sistem keuangan dunia. Ini mungkin salah satu mesin kontrol paling besar yang pernah dibangun manusia, tapi hampir tidak ada yang membicarakannya. Setelah PD2, tatanan keuangan global dibentuk ulang lewat sistem yang bernama Bretton Woods, menjadikan Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia. Sejak saat itu, satu negara bisa memegang kendali atas ekonomi dari seluruh planet. Lalu di tahun 1971, Nixon (Presiden Amerika Serikat ke-37) mencabut standar emas, dan uang tidak akan lagi didukung oleh sesuatu yang nyata. Uang yang kita pegang sekarang ini, uang kertas dan angka di layar, hanyalah uang fiat. Nilainya ada karena kita percaya ia bernilai. Tidak lebih dari itu. Uang fiat itu “sihir”.
Bank sentral literally bisa mencetak uang dari “udara kosong”. Mereka menyebutnya “kebijakan moneter.” Tapi yang terjadi sebenarnya? Setiap kali uang baru dicetak, nilai uang yang sudah ada di tangan kita akan menyusut. Inflasi. Kita diberitahu bahwa inflasi itu “normal,” bahwa itu bagian alami dari ekonomi. Padahal inflasi adalah pajak tersembunyi yang paling menghancurkan, karena ia akan memukul orang-orang kecil paling keras. Orang kaya punya aset, properti, saham, investasi yang nilainya ikut naik bersama inflasi. Lalu orang biasa? Tabungannya perlahan akan menguap tanpa mereka sadari.
IMF dan Bank Dunia, dua institusi yang lahir dari era pasca-PD2, sering kali datang ke negara-negara berkembang dengan “bantuan” berupa pinjaman. Tapi pinjaman itu datang dengan ada syaratnya. Seperti privatisasi aset publik. Liberalisasi pasar. Penghematan anggaran sosial. Negara-negara yang seharusnya berdaulat justru terjebak dalam siklus utang yang membuat mereka bergantung selamanya. Ini bukan bantuan. Ini adalah kolonialisme dalam bentuk baru, ditulis dalam bahasa ekonomi yang sengaja dibuat rumit agar rakyat biasa tidak mampu memahaminya.
Informasi yang kita konsumsi pun sudah dikontrol. Media mainstream di hampir seluruh dunia dimiliki oleh segelintir korporasi besar. Narasi yang sampai kepada kita sudah disaring, dibingkai, dan diarahkan. Kita seolah-olah merasa punya “pilihan” karena ada banyak channel, banyak portal berita, banyak sumber informasi. Tapi kalau ditelusuri ke atas, semuanya dimiliki oleh orang-orang yang sama. Ilusi pilihan. Itu saja yang kita punya. Perhatikan bagaimana berita selalu membingkai isu dengan cara tertentu. Siapa yang jadi “pahlawan” dan siapa yang jadi “teroris,” siapa yang “membawa demokrasi” dan siapa yang “mengancam stabilitas.” Framing itu bukan kebetulan. Itu direkayasa. Dan kita menelannya setiap hari tanpa pernah bertanya siapa yang menulis naskahnya.
Lalu ada propaganda yang disisipkan lewat hiburan. Ini mungkin senjata paling halus dari semuanya. Kita pikir film, musik, dan serial TV itu hanya hiburan semata. Padahal industri hiburan, terutama Hollywood, sudah lama menjadi alat brainwash yang sangat efektif. Serial TV yang menormalisasi pengawasan massal, seolah-olah dimata-matai itu wajar demi “keamanan.” Film-film yang menanamkan narasi bahwa gaya hidup Barat adalah standar kesuksesan dan kebahagiaan universal. Standar kecantikan yang dibentuk lewat layar, membuat jutaan orang merasa tidak cukup tanpa operasi, diet, dan produk tertentu. Sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan nilai-nilai tertentu lewat kartun dan film animasi, mulai dari siapa yang “baik” dan siapa yang “jahat,” hingga seperti apa bentuk “hidup yang sukses.” Sejarah pun ditulis ulang lewat film, mengubah siapa pahlawan dan siapa penjahat sesuai kepentingan yang berkuasa. Musik pop mengagung-agungkan materialisme, hedonisme, dan gaya hidup konsumtif seolah-olah itu adalah puncak dari kebahagiaan. Semua itu bukan kebetulan. Itu dirancang.
Hiburan tidak hanya menyisipkan narasi. Ia juga berfungsi sebagai alat distraksi massal. Sementara kebijakan yang merugikan rakyat sedang disahkan, perhatian kita menjadi dialihkan ke drama selebriti, skandal artis, dan reality show yang sengaja dirancang untuk membuat kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting sama sekali. Seperti Bread and circuses alias roti dan sirkus, strategi zaman Romawi kuno yang masih bekerja dengan sempurna di abad ke-21 ini. Hanya saja sekarang rotinya diganti dengan fast food dan sirkusnya diganti dengan layar.
Dan apa yang paling menakutkannya?
Generasi berikutnya tidak akan pernah tahu bahwa dunia ini pernah berbeda. Mereka akan lahir ke dalam sistem ini, tumbuh di dalamnya, dan menganggap semuanya normal. Bagi mereka, pengawasan adalah keamanan, konsumsi adalah kebahagiaan, dan ketergantungan adalah kebebasan. Mereka bahkan tidak akan punya referensi untuk membandingkannya.
Itulah kejeniusan dari sistem yang kita hidup di dalamnya sekarang ini. Ia tidak perlu menggunakan kekerasan. Ia cukup memberikan kita layar untuk ditonton, produk untuk dibeli, narasi untuk dipercaya, dan utang untuk mengikat. Dan kita, dengan sukarela, menyerahkan kebebasan kita tanpa pernah menyadarinya.
Aku harus bilang, kita sekarang sedang hidup di dunia distopia yang tidak terlihat distopia.
Dan mungkin itu yang paling menakutkan. Bukan distopianya. Tapi fakta bahwa kita bahkan tidak menyadari sedang berada di dalamnya.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.