skip to content
Catercilku
Back

Hari-hari Tanpa Media Sosial

Sejak note ini dibuat, sudah lebih dari dua minggu aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuh media sosial. Rasanya? Jauh lebih tenang.

Platform-platform media sosial sudah aku hapus semua.

Dulu, setiap kali ada waktu luang, jempol ini secara otomatis membuka aplikasi-aplikasi yang penuh dengan kebisingan dan bikin kepala menjadi terasa brainrot. Isinya kebanyakan cuman konten-konten membandingkan hidup dengan orang lain, melihat drama yang tak ada habisnya, berita sampah pemerintah, konten-konten toxic dan lain semacamnya hingga akhirnya memunculkan rasa yang sangat lelah dan muak akan semua itu.

Setelah melepaskannya, aku merasa dunia jadi sedikit lebih luas. Aku punya lebih banyak waktu untuk benar-benar hadir di sini, di dunia ini, di saat ini. Membaca buku, mengamati sekitar, berkomunikasi dengan orang-orang โ€˜nyataโ€™, atau sekedar menikmati keheningan tanpa perlu membagikannya kepada siapapun kecuali hal yang lebih bermanfaat seperti dengan menulis dan membagikannya di blogku tercinta ini.

Dan ketenangan itu tidak perlu validasi dari tombol suka atau komentar orang lain. Ketenangan yang kutemukan itu ada di dalam ketenangan batin yang jauh dari hingar bingar dunia fana yang memabukkan. Dunia yang membuat lupa sampai tak mengenali diri kita itu siapa hingga terasa sangat asing ketika sedang bercermin. Sampai-sampai melupakan dari mana kita itu berasal, dan akan kemana kita nantinya akan berakhir.

Aku juga mengakui bahwa media sosial itu tidak buruk semuanya. Ada sisi positifnya jika kita tahu cara menggunakannya dengan sangat bijak. Namun, bagiku saat ini, ini bukan lagi tentang platform mana yang bagus atau tidak, yang bermanfaat atau tidak, melainkan tentang self-control yang telah lama hilang karena sudah tertelan terlalu dalam oleh algoritma. Aku ingin kembali memegang kendali penuh atas perhatianku sendiri, bukan membiarkannya untuk dieksploitasi oleh sistem yang dibuat oleh mereka, yang memang sengaja dirancang untuk membuat penggunanya menjadi kecanduan dan menjadi terjerumus pada hal-hal buruk lainnya yang ditimbulkan oleh platform-platform tersebut jika tidak dibentengi dengan kesadaran penuh untuk selalu bijak dalam setiap penggunaannya.

Karena ketenangan itu mahal harganya, maka dari itu, aku tidak ingin menukarnya lagi dengan validasi dan kesenangan yang semu dari dunia maya, dari dunia palsu itu.

Lalu, apakah aku akan kembali menggunakan media sosial lagi suatu saat nanti? Entahlah. Aku tidak ingin berjanji apa pun pada diriku sendiri. Namun yang pasti, jika suatu hari aku memutuskan untuk kembali menggunakan media sosial, caraku menggunakannya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan diriku sendiri untuk hanyut lagi kedalam arus yang melelahkan dan sangat memuakkan itu.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.