skip to content
Catercilku
Back

Fanatik membunuh nalar

Yang membuatku enggan diam dan patuh saja sebagai warga negara Indonesia adalah kebiasaan warganya yang begitu mudah terjangkit penyakit fanatisme terhadap pemimpinnya, terutama yang tampak bersinar di mata dan merdu di telinga. Saat fanatisme menguasai isi kepala, batas antara salah dan benar sudah menjadi buram alias abu-abu. Segala tindakan akan dibela mati-matian, seolah pemimpin adalah makhluk suci dan sempurna tanpa sebuah cela.

Kita boleh berbangga-bangga pada pemimpin yang katanya berpihak pada rakyat, yang mendengar dan menolong rakyat. Tetapi sehebat apa pun ia, tetaplah manusia biasa, penuh batas dan potensi khilaf. Sebagai masyarakat, akal sehat harus jadi kompas utama. Jika ia benar, dukung dan patuhi. Jika ia salah, luruskan dan suarakan. Jangan sampai kita terseret oleh arus dan tersesat dalam kepatuhan membabi buta karena mengedepankan emosional semata.

Sudah saatnya kita bercermin dari masa lalu. Kini Indonesia justru dikatakan sedang mundur karena dipimpin oleh mereka yang tak cukup cakap mengurus negeri. PHK massal, kemiskinan naik, harga-harga melambung, nilai Rupiah terjun bebas, hingga pemangkasan anggaran pendidikan atas nama efisiensi.

Dan semua ini berpangkal dari apa?

Dari kalian yang membela para pemimpin hanya karena emosi, bukan karena akal dan nurani!

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.