Menjadi Manusia Capybara
Mencoba belajar dari capybara.
Tenang, tidak terburu-buru, dan tidak ikut arus kegaduhan dunia.
Capybara tidak pernah terlihat gelisah meski hidupnya sederhana. Ia hanya duduk diam, berendam, menikmati waktu seperti tak ada yang perlu dikejar.
Menjadi manusia capybara berarti belajar menerima ritme hidup apa adanya, tidak semua hal harus cepat, tidak semua tujuan harus megah. Ada keindahan dalam keheningan, ada kebijaksanaan dalam ketenangan.
Capybara juga ramah pada siapa pun, tanpa pandang bentuk, warna, atau jenis. Ia hidup berdampingan bahkan dengan buaya, tanpa rasa curiga berlebihan. Mungkin, di situlah letak kebijaksanaannya, percaya, tapi tetap waspada. Berani tenang di dunia yang selalu ingin berteriak.
Kadang aku merasa manusia terlalu keras pada dirinya sendiri. Terlalu ingin diakui, terlalu takut tertinggal. Padahal, menjadi seperti capybara yang hanya ingin damai mungkin justru bentuk tertinggi dari hidup yang penuh. Setuju?
Mungkin itu artinya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tenang dan enjoy menjalaninya.
Dan malam ini, saat note ini kutulis dari HoCi untuk kedua kalinya, aku duduk di depan balkon, menatap kelap-kelip ramainya malam Cipanas dari ketinggian 1077mdpl. Udara dingin menyapa lembut, dan dalam diam itu aku merasa…
mungkin beginilah rasanya jadi capybara… sederhana, tenang, tapi penuh hidup di dalam hati.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.