skip to content
Catercilku
Back

Gunung yang tinggi dan kokoh lebih peka dibanding diriku yang seorang manusia rapuh

Play Music

Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 21:

Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

Sebuah gunung. Bukan bukit. Bukan gundukan tanah. Tapi gunung. Sesuatu yang menjulang ribuan meter ke angkasa, yang telah berdiri kokoh sejak jutaan tahun lamanya, yang terbuat dari batu, mineral dan magma yang sudah membeku menjadi struktur paling masif yang pernah dimiliki permukaan bumi. Ia tidaklah bergerak. Ia tidaklah mengeluh. Ia tidaklah goyah oleh angin dan tidak runtuh oleh hujan, tidak tunduk oleh gemuruh badai yang menampar sisinya setiap malam. Gunung adalah simbol dari keteguhan. Simbol dari ketegaran. Simbol kekuatan yang melampaui apa pun yang pernah manusia bisa bangun.

Dan Allah mengatakan bahwa gunung itu akan bisa hancur.

Bukan retak. Bukan sekedar bergetar. Tapi akan hancur berkeping-keping, tunduk merendah lalu terpecah belah karena takut kepada-Nya.

Kenapa?

Karena gunung sanggup merasakan sesuatu yang seharusnya hanya bisa dirasakan oleh makhluk yang memiliki hati. Gunung itu mengalami sebuah rasa takut yang bukan sekedar gentar, melainkan ketakutan yang lahir dari pengenalan. Takut karena tahu siapa yang sedang berbicara. Takut karena menyadari betapa agungnya Kalam yang sedang turun kepadanya.

Gunung, bagi mata kita hanyalah benda mati yang tidak punya akal, tidak punya jiwa, tidak punya hati, justru digambarkan sanggup merasakan keagungan itu hingga ia tidak mampu menahan dirinya sendiri. Ia runtuh. Ia hancur. Bukan karena lemah, tapi karena ia tahu dirinya tidak layak berdiri tegak di hadapan sesuatu yang sebesar itu.

Itu gunung.

Lalu aku melihat diriku sendiri.

Manusia.

Makhluk yang konon diciptakan dengan akal yang bisa berpikir, hati yang bisa merasa, dan ruh yang seharusnya bisa mengenali Tuhannya lebih dari entitas mana pun di alam semesta ini. Makhluk yang katanya adalah sebaik-baiknya ciptaan, yang diberikan keistimewaan yang tidak diberikan kepada gunung, kepada langit, kepada bumi, bahkan kepada malaikat sekalipun.

Tapi aku?

Aku membaca ayat-ayat-Nya seperti membaca deretan kata biasa selama ini. Aku mendengar peringatan-Nya seperti mendengar suara latar yang sudah aku biasakan untuk diabaikan. Aku tahu ada ancaman di balik ketidaktaatanku, tapi aku tetap melangkah lurus seolah-olah itu bukan urusanku. Aku tahu ada janji yang begitu indah jika aku mau mendekat, tapi kakiku tetap diam. Hatiku tetap utuh. Tidak retak, tidak hancur, tidak bahkan bergetar.

Utuh. Tapi bukan dalam artian kuat.

Utuh dalam artian beku. Mati rasa. Keras. Seperti batu yang sudah kehilangan kemampuan untuk merespons apa pun.

Dan di sinilah ironi yang paling menyakitkan.

Gunung yang secara fisik jauh lebih kokoh dariku, yang secara material jauh lebih keras dariku, yang secara eksistensi bahkan tidak memiliki kapasitas untuk “merasa,” justru digambarkan sebagai entitas yang lebih peka dibanding diriku. Gunung sanggup hancur karena Kalam-Nya. Aku? Aku bahkan masih tidak menangis karenanya.

Gunung itu tidak punya pilihan untuk merasa atau tidak merasa. Ia tidak punya kehendak bebas. Ia tidak punya ego yang bisa menghalanginya. Tapi justru karena itulah ia tunduk sepenuhnya. Tidak ada penghalang antara dirinya dan keagungan yang datang kepadanya. Ia menerima, dan ia lebur.

Sedangkan aku, yang diberikan kehendak bebas, yang diberikan pilihan untuk tunduk atau membangkang, justru menggunakan kebebasan itu untuk membangun tembok. Tembok ego. Tembok kesibukan. Tembok “nanti saja.” Tembok “aku masih muda.” Tembok “toh Tuhan Maha Pengampun.” Tembok demi tembok yang aku susun rapi di sekeliling hatiku sampai tidak ada lagi yang bisa menembusnya, bahkan Kalam yang mampu menghancurkan gunung sekalipun.

Bukankah itu mengerikan…

Al-Qur’an sanggup meluluhlantakkan gunung, tetapi mengapa tidak sanggup meluluhlantakkan hatiku?

Bukan karena Al-Qur’an yang kurang dahsyat. Tapi karena aku sudah terlalu mahir dalam mengabaikan-Nya. Terlalu terlatih dalam ketidakpedulian-Nya. Terlalu nyaman dalam kebas yang sudah kuanggap sebagai ketenangan.

Makhluk yang seharusnya paling peka justru menjadi yang paling tumpul. Ketika gunung saja bisa merendah, tapi manusia justru menjulang dengan keangkuhannya. Ketika benda mati sanggup hancur karena takut, tapi makhluk berakal justru berdiri tegak dengan sombongnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Di akhir ayat itu, Allah berfirman:

Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.

Supaya mereka berpikir.

Bukan supaya mereka kagum lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Bukan supaya mereka bilang “MasyaAllah, keren,” lalu melupakannya. Tapi supaya mereka berpikir. Berhenti. Merenungi. Bertanya kepada diri sendiri. Kalau gunung saja bisa hancur, kenapa aku masih berdiri tegak seolah-olah tidak ada yang perlu aku takutkan?

Aku yang terbuat dari tanah. Sesuatu yang bahkan lebih rapuh dari batu. Sesuatu yang akan hancur hanya karena terkena air. Itulah asal usulku. Tapi, dari tanah itu, mengapa aku justru malah membangun keangkuhan setinggi gunung dan hati yang sekeres batu?

Apakah mungkin ini yang dimaksud dengan hati yang terkunci. Bukan karena Tuhan yang kejam, tapi karena pemiliknya sendiri yang terus-menerus menolak untuk membuka pintunya. Terus-menerus memilih kenyamanan di atas ketundukan. Terus-menerus memilih kebisingan dunia di atas keheningan yang mendekatkan.

Kalau gunung yang paling tinggi dan paling kokoh di muka bumi ini sanggup merendah hingga menjadi debu di hadapan Kalam-Nya, maka sesungguhnya tidak ada satu alasan pun bagiku, bagi kita, untuk tetap berdiri dengan angkuh.

Aku ini bukan gunung. Aku bahkan lebih lemah dari itu.

Dan justru karena lebih lemah, seharusnya lebih mudah untuk tunduk. Lebih mudah untuk merendah.

Tapi kenyataannya…

Tinggi dan kerasnya gunung lebih peka dibanding hati manusia. Gunung lebih memilih hancur demi menghormati Keagungan dari Sang Pencipta, tetapi sementara kita memilih keras untuk menentang-Nya.

Dan itu, mungkin, adalah penghinaan terbesar yang kita timpakan kepada diri kita sendiri.

Wahai Tuhan Yang Maha Esa, lunakkanlah hatiku yang lebih keras dari gunung ini. Hancurkan keangkuhanku sebagaimana Kalam-Mu sanggup menghancurkan batu. Dan jadikan aku merendah, sebagaimana gunung yang rela menjadi debu di hadapan-Mu. Aamiin.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.