Alam hancur oleh Keserakahan Manusia
Lihatlah dunia ini. Rusak. Hancur. Dihabisi perlahan tapi pasti oleh makhluk paling sombong dan rakus yang pernah menginjakkan kaki di bumi, manusia. Lebih tepatnya, manusia yang tunduk pada nafsu tak berujung dan diperbudak sistem keji bernama kapitalisme.
Hutan-hutan kita paru-paru dunia, dibabat tanpa belas kasihan. Dibakar hidup-hidup demi kebun sawit, demi tambang, demi vila-vila mewah untuk segelintir orang yang tak tahu arti cukup. Gunung dikeruk, laut diracuni, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah. Semua atas nama “kemajuan”. Semua demi pertumbuhan ekonomi yang nyatanya hanya memperkaya para bajingan yang sudah kaya sejak lama.
Kerusakan-kerusakan ini tidak hanya soal hutan yang dibabat habis atau sungai yang mati. Kapitalisme dan keserakahan juga menyalakan api pembakaran untuk bumi bernama pemanasan global. Asap pabrik, pembakaran hutan, kerakusan industri, semuanya menumpuk menjadi karbon di udara, membuat bumi semakin panas, membuat es di kutub semakin mencair, cuaca menjadi gila, banjir dan kekeringan pun datang silih berganti. Ekosistem porak-poranda, jutaan makhluk hidup kehilangan rumah, tetapi manusia tergilakan oleh kerakusan tetap pura-pura buta demi sebuah tumpukkan uang.
Global warming bukan ancaman masa depan, ini adalah bencana hari ini, sekarang, di depan mata, dan semua itu buah dari kerakusan yang tak pernah tahu kapan akan berhenti.
Dan yang lebih busuk lagi,
pemerintah ikut menjadi dalangnya…
Pemerintah yang mana?
Pemerintah yang korup. Pemerintah yang menutup mata pada penderitaan rakyat dan kerusakan alam, tapi membuka tangan lebar-lebar untuk suap, untuk izin tambang, untuk proyek-proyek yang hanya menguntungkan segelintir elite. Pemerintah yang pura-pura peduli di depan kamera, tapi di belakang meja menandatangani kontrak penghancuran bumi. Pemerintah yang membiarkan aparatnya jadi alat pemukul, bukan pelindung. Pemerintah yang lebih takut kehilangan investasi daripada kehilangan hutan, sungai, dan masa depan anak cucu bangsanya sendiri.
Alih-alih melindungi alam dan rakyatnya, mereka malah menjadi kaki tangan kapitalisme. Proyek-proyek yang katanya “pembangunan”. Jalan tol, bendungan, bandara, tambang, kawasan industri, semuanya dibangun di atas reruntuhan hutan, kampung adat, sawah rakyat, dan kehidupan flora-fauna yang dilenyapkan. Mereka seolah-olah tuli terhadap jeritan masyarakat adat, terhadap laporan ilmuwan, terhadap teriakan aktivis lingkungan, terhadap kenyataan bahwa bumi pada hari ini sedang sekarat. Tuli, atau lebih tepatnya mereka memilih untuk tidak peduli.
Mereka menyebut ini investasi, pertumbuhan, modernisasi. Tapi nyatanya ini adalah penghancuran sistematis atas alam oleh negara, untuk segelintir elite. Hukum dijadikan alat penjaga kepentingan mereka. Aparat dikerahkan bukan untuk menjaga hutan, tapi untuk memukul mundur warga yang melawan perampasan tanah.
Semuanya satu komplotan: pengusaha rakus, pejabat korup, dan birokrat pengecut. Mereka merampok alam di siang bolong dan berharap kita diam. Tapi tidak. Kita harus marah. Kita harus teriak. Kita harus menolak.
Karena jika kita diam sekarang, yang akan diwariskan ke anak cucu bukan dunia yang layak huni, tapi kuburan raksasa penuh debu, api, dan air yang tak bisa diminum. Alam tidak butuh manusia. Tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Dan kalau hari itu tiba, hari di mana semua telah hancur tak bersisa, kita tahu siapa yang harus disalahkan.
Bukan hanya kapitalisme. Tapi juga pemerintah yang mengkhianati amanahnya, membiarkan, bahkan menyetujui pembantaian terhadap bumi.
Dan kepada mereka semua, darah kehancuran ini ada di tangan kalian.
When the last tree is cut, When the last river is emptied, When the last fish is caught, Only then will Man realize that he can not eat money.
—Eric Weiner
Sebagai akhiran, mari dengarkan lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul sama, “Efek Rumah Kaca”. Lagu ini adalah pengingat dan refleksi tentang apa yang sedang terjadi pada bumi kita hari ini.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.