Kaum Penuntut Ilmu yang Tertindas
Pendidikan sejati bukanlah transfer pengetahuan, tetapi tindakan sadar untuk memerdekakan manusia.
Namun kita lihat pada hari ini pendidikan sering kali kehilangan makna sejatinya. Pendidikan telah direduksi menjadi komoditas yang diperjualbelikan, bukan lagi ruang pembebasan. Untuk bisa “belajar” saja seseorang kini harus membayar terlebih dahulu dengan biaya yang memberatkan dirinya dan keluarganya. Seolah kemerdekaan berpikir adalah hak istimewa bagi yang mampu secara ekonomi.
Sekolah dan universitas sudah menjadi pasar, bukan ruang kesadaran.
Ilmu pengetahuan menjadi produk, bukan alat pembebasan.
Guru dan dosen kadang terpaksa menjadi penyedia jasa akademik, bukan lagi pemandu kesadaran kritis.
Janganlah kita pandang Pendidikan itu sebagai “bank pengetahuan”, yang sekedar diisi oleh si guru ke kepala si pembelajar yang masih kosong, pendidikan itu seharusnya menjadi sebuah dialog kemanusiaan yang menumbuhkan keberanian kita untuk berpikir kritis. Namun dalam sistem sekarang ini, pendidikan “perbankan” bukan hanya terjadi secara intelektual, tapi juga secara ekonomi.
Seseorang baru boleh “berpikir” setelah mampu “membayar”?
Padahal pengetahuan adalah hak asasi manusia, bukan barang dagangan.
Pendidikan sejati semestinya membuka jalan menuju kemerdekaan batin dan sosial, bukan memperlebar jarak antara yang mampu dan yang tidak.
Jika pendidikan hanya bisa diakses dengan uang, dengan dalih “standar mutu” dan “biaya pendidikan”…
(omong kosong)
…maka pendidikan sudah berhenti menjadi alat pembebasan dan berubah menjadi alat reproduksi penindasan.
Sistem seperti ini justru hanya akan melanggengkan struktur sosial yang menempatkan kaum kelas bawah tetap di bawah, dan yang berkuasa tetap di atas.
Pendidikan seharusnya tidak dijalankan demi sebuah profit. Ketika pendidikan diperlakukan sebagai ladang bisnis, maka nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri akan terkikis. Pendidikan harus kembali pada esensinya, yaitu sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, jangan hanya dijadikan sebagai slogan omong kosong belaka, jangan jadikan pendidikan menjadi jalan untuk memperkaya segelintir pihak.
Pendidikan sejati seharusnya tidak menuntut murid untuk membeli tiket menuju pengetahuan, seharusnya menjadi pembuka pintu bagi semua manusia untuk berpikir, mempertanyakan, dan mencipta apa pun latar belakang ekonominya. Karena pada akhirnya, pembebasan manusia seharusnya dimulai ketika pengetahuan tidak lagi dijaga oleh nominal angka harga yang harus dibayar, tetapi dibagikan dengan atas dasar rasa sosialisme terhadap sesama manusia.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.