skip to content
Catercilku
Back

Bius Cantiknya Wanita

Kecantikan dari wanita bukan sekedar rupa yang menyenangkan mata, melainkan gema sunyi dari kebijaksanaan yang tak terucap, dan kekuatan yang dibalut kelembutan abadi. Dalam setiap kisah, mereka dimuliakan sebagai simbol suci, hadir dalam dongeng nenek moyang, dan hidup dalam adat yang mengajarkan penghormatan. Mereka adalah puisi yang ditulis semesta, bait-baitnya mengalir dalam darah peradaban.

Para filsuf mungkin menyebutnya harmoni antara bentuk dan jiwa, antara apa yang tampak dan apa yang terasa. Namun aku, sebagai seorang lelaki yang masih belajar cara membaca makna di balik tatapan dan senyuman itu, lebih sering terdiam, terperangkap dalam kekaguman yang tak terucap. Aku tidak sekedar melihat kecantikan itu, aku tenggelam di dalamnya. Dalam senyum yang lahir tanpa sadar, dalam tutur kata dan gerak yang halus, ia mampu menenangkan badai di dalam batin ini, seolah dunia berhenti sejenak untuk mendengarkan bisikan lembut dari mereka.

Kecantikan itu bukan miliknya seorang saja. Ia menjalar lembut, seperti aroma bunga di pagi hari yang diam-diam mengubah udara menjadi puisi. Ia menyentuh cara dunia memandang, meresap ke dalam caraku bermimpi, menari di antara harapan dan kenyataan. Aku, dengan segala keterbatasan dan keraguan, belum mampu untuk mengangkat pintu besi raksasa itu untuk benar-benar memiliki seluruh keindahan itu. Namun, begitulah, aku masih hanya ingin cukup dekat untuk memahami kedalaman samudra di dalam kedua mata itu, dan cukup jauh untuk terus mengagumi cahaya yang tak pernah padam di hati dan jiwanya.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.