skip to content
Catercilku
Back

Jangan percaya kepada Manusia (yang minim akhlak dan pendusta)

Dulu, aku adalah orang yang sangat mudah percaya pada manusia. Aku percaya pada setiap kata yang terucap, pada janji, dan pada niat baik yang ditawarkan. Bagiku saat itu dunia adalah tempat di mana ketulusan akan selalu dibalas dengan ketulusan, dan kepercayaan adalah fondasi dari setiap koneksi antar manusia.

Namun, waktu dan pengalaman perlahan-lahan mengajariku pelajaran yang berbeda. Pelajaran yang sering kali harus dibayar mahal dengan luka dan kekecewaan.

Kenyataan berulang kali memperlihatkan bahwa harapan yang digantungkan terlalu tinggi pada manusia sering kali berakhir jatuh berserakan. Semakin besar kepercayaan yang aku berikan kepada seseorang, semakin besar pula ruang yang kubuka untuk sebuah luka baru. Aku mulai menyadari sebuah pola yang menyakitkan bahwa menggantungkan semua kepercayaan kepada manusia hanya membawaku pada sakit hati yang terus-menerus.

Ini bukanlah sebuah keluhan luapan emosi sesaat. Ini adalah sebuah refleksi pribadi yang jujur dan tenang, sebuah kesadaran yang lahir dari rentetan kejadian yang mengikis habis kepolosanku.

Aku menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa semua manusia itu jahat. Sama sekali tidak. Masih banyak orang baik di luar sana, aku yakini itu. Namun, aku akhirnya menyadari satu kebenaran yang tak bisa disangkal bahwa manusia itu adalah tempatnya kelemahan, kepentingan, dan perubahan hati.

Hati manusia itu sangat dinamis. Seseorang yang hari ini berjanji manis, bisa saja esok hari berubah menjadi khianat, dusta dan mengecewakan karena prioritasnya telah berubah. Seseorang yang hari ini bersikap penuh kasih, bisa saja berbalik menjadi asing hanya karena perbedaan kepentingan. Kepercayaan yang kita bangun bertahun-tahun ternyata bisa runtuh hanya oleh satu momen perubahan sikap. Kepercayaan pada manusia, pada hakikatnya, adalah sesuatu yang amat rapuh.

Ada masa di mana aku merasa marah dan sedih sebetulnya ketika melihat kenyataan ini. Namun, dengan begitu semuanya perlahan terasa lebih damai sekarang.

Kehilangan kepercayaan pada manusia pada akhirnya bukanlah tentang menjadi sosok yang sinis, pembenci, atau menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Ini adalah tentang belajar menjaga jarak dengan harapan. Ini tentang kedewasaan untuk menyadari keterbatasan mutlak yang dimiliki oleh manusia, termasuk diriku sendiri.

Aku belajar untuk tetap berbuat baik, tetap membantu, dan tetap menghargai orang lain, namun dengan satu perbedaan besar: tanpa ekspektasi yang berlebihan terhadap manusia.

Aku tidak lagi menggantungkan kebahagiaanku, rasa amanku, atau ketenanganku pada validasi dan janji manusia lain.

Mungkin, ini juga semacam teguran. Ketika harapan kepada manusia terus-menerus dipatahkan, itu adalah sebuah isyarat yang jelas bahwa aku telah bersandar pada dahan yang rentan patah.

Kini, aku mulai mencari dan menggenggam sebuah pegangan yang lebih kokoh. Sebuah sandaran yang tidak akan mudah runtuh oleh perubahan sikap, ego, atau waktu. Sandaran kepada Dzat yang tidak pernah ingkar, yang menggenggam hati manusia itu sendiri.

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia. –Sayyidina Ali.

Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (Q.S Al-Insyirah: 8)

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.