Terima Kasih, Kipas Angin
Di sudut kamar yang tak pernah ramai, terpasang engkau, kipas angin setia. Tak bersuara memanggil, tak mengeluh lelah, namun terus berputar, menyejukkan gelisah.
Aku baru tersadar, di malam-malam panjang saat gerah menusuk dan kantuk menjauh, engkaulah yang lembut mengusir panas, mengayun hening dengan desah yang halus.
Bukan hanya angin yang kau beri, tapi ketenangan, kenyamanan, yang tak pernah kuucapkan terima kasih, karena aku terlalu terbiasa akan hadirmu.
Kini, kulihat engkau tak sekuat dulu, dengan baling-baling yang mulai renta, namun tetap setia, tetap ingin berguna, walau tak ada balas budi dari manusia.
Terima kasih, kipas angin di kamarku. Untuk kesetiaanmu, untuk hembusanmu. Maafkan aku yang lupa menghargai, benda mati yang diam-diam menyelamatkan malamku.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.