Lailah dan Majnun
Ketika aku kecil dulu, ada kisah lama bertajuk Lailah dan Majnun. Ada nama Lailah yang begitu suci dalam hati seorang Majnun. Ia mencintainya dengan segenap jiwa, sampai dunia di sekitarnya lenyap, dan yang tersisa hanyalah bayangan wajah Lailah. Orang-orang menyebutnya gila, padahal ia hanya terlalu setia pada rasa di hatinya.
Kadang aku melihat diriku di sana. Ada bagian kecil dari Majnun yang hidup dalam diriku, saat rasa terlalu besar untuk disembunyikan, saat bayangan seseorang bisa hadir bahkan di tengah sepi, dan saat cinta terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Aku paham betul bagaimana cinta bisa jadi kekuatan, tapi juga bisa jadi beban yang membuat langkah terasa berat.
Namun, aku juga belajar dari kisah itu. Majnun kehilangan dirinya karena cintanya. Aku tak ingin sepenuhnya begitu. Aku ingin menyukai dengan tulus, tapi tanpa harus melupakan diriku sendiri. Aku ingin menjadikan cinta bukan sekedar kegilaan, melainkan cahaya yang menuntun langkah.
Lailah dalam kisah itu hanyalah simbol tentang seseorang yang begitu berharga, tentang perasaan yang begitu dalam, tentang kerinduan yang tak bisa selalu terjawab. Dan aku, di dunia ini, hanya berusaha memahami bahwa setiap orang mungkin punya “Lailah”-nya masing-masing, sosok yang membuat hati menjadi bergetar, tapi sekaligus menguji seberapa kuat kita menjaga diri agar tidak tenggelam akan rasa tersebut.
Aku saat ini mungkin merasa seperti si Majnun yang melangkah sendirian di padang pasir yang luas.
Tanganku kosong, tapi cintaku penuh.
Meski sosok yang menarik itu terasa jauh dan sulit tergapai, aku akan tetap berdiri tegak.
Biarlah dunia menyebutku gila, sebab aku tahu, lebih mulia terluka karena cinta, daripada hidup tanpa rasa.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.