A Lonely Boy
Sejak kecil, aku sudah menyematkan gelar “Lonely Boy” pada diriku sendiri. Bukan sebagai bentuk keluhan, melainkan sebuah pengakuan jujur akan realitas yang kujalani. Sebagian besar waktu dalam hidupku dihabiskan dalam diam, menyendiri di sudut-sudut ruangan, atau tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku tumbuh besar menyaksikan dunia yang riuh dari balik kaca jendela, merasa sebagai penonton daripada pemain utama dalam panggung sosial yang ingar-bingar.
Aku tidak pernah benar-benar mahir dalam seni berbasa-basi atau menari di atas etiket pergaulan yang seringkali terasa palsu. Kerumunan manusia seringkali membuat energiku terkuras habis. Namun, paradoks itu selalu ada. Di balik itu, ada kerinduan akan koneksi yang mendalam. Ketika aku menemukan sama-sama yang satu “frekuensi”, seseorang yang bisa berbicara bahasa jiwa yang sama, dunia tiba-tiba terasa masuk akal. Obrolan bisa mengalir deras seperti sungai, melintasi waktu dan ruang. Namun, manusia semacam itu adalah anomali, permata langka di tumpukan jerami.
Selain daripada momen langka itu, aku kembali menjadi sosok yang “tersisihkan”, merasa asing. Bukan karena dibuang, melainkan karena aku merasakan ketidakcocokan yang begitu nyata. Rasa tidak ‘nyambung’ itulah yang pada akhirnya membuatku kembali merasa sendiri, seolah aku adalah potongan puzzle yang salah tempat. Ketidakcocokan ini menjadi dinding pemisah, membuatku sulit masuk ke dalam lingkaran manusia yang hanya berputar pada permukaan. Dan pada akhirnya, aku selalu pulang ke rumah yang paling kukenal: kesendirian.
Kenalanku cukup banyak. Namun, ini memantik sebuah pertanyaan di benakku: jika kamu mengenal banyak orang, tetapi pada akhirnya jiwamu tetap merasa sepi, bukankah itu juga termasuk definisi dari kesendirian? Memiliki banyak kenalan tidak menjamin hilangnya rasa sepi jika tidak ada koneksi yang mengikat. Bahkan, dari sejak kecil hingga lulus kuliah, orang-orang yang kuanggap bisa membuatku tidak merasa kesepian bisa dihitung jari tangan.
Aku tidak anti sosial, aku hanya lebih suka menghabiskan waktu dengan kesendirian. Jika aku adalah seorang anti sosial, lalu kenapa aku bisa merasakan empati yang begitu dalam terhadap kisah-kisah manusia yang selalu kutemui? Kenapa aku masih merindukan kedalaman sebuah percakapan yang tulus? Aku tidak membenci manusia, aku hanya menghemat energiku untuk hal-hal yang benar-benar menyentuh jiwa, bukan sekedar riuh rendah yang berlalu-lalang dan penuh kepalsuan. Aku juga sering mengkritik kondisi di negara ini karena alasan tidak lain dan tidak bukan karena empatiku terhadap sesama. Aku juga bersosialisasi dengan orang-orang hanya jika memang ada keperluan atau manfaatnya, entah itu untuk belajar, bekerja, atau membantu orang lain. Di luar itu, jika tidak ada manfaat yang jelas, aku lebih memilih untuk tetap di rumah, menikmati waktu sendiri dan mengisi energi. Bagiku, bersosialisasi tanpa tujuan yang jelas hanya akan menguras tenaga dan membuatku merasa hampa.
Walaupun jujur, aku paling sebal ketika sudah bertemu dengan manusia-manusia egois yang merasa seolah dunia berhutang budi pada mereka, melangkah tanpa peduli siapa yang mereka injak demi kepuasan pribadi, yang dipikirannya hanya ada “aku, aku dan aku”. Dan yang paling melelahkan adalah menghadapi manusia-manusia bertopeng, mereka yang berakting dan membohongi dirinya sendiri di hadapan manusia lainnya hanya demi secuil validasi sosial atau agar dianggap “normal” oleh kerumunan. Bagi mereka, menjadi “nyata” adalah resiko besar. Bagiku, terus-menerus memakai topeng adalah siksaan yang tak tertahankan dan menjijikan.
Dan satu hal yang tidak kalah menjijikan dan yang paling aku benci adalah berurusan dengan orang-orang yang punya penyakit hati, dengki, iri, penuh prasangka buruk, atau suka menebar kebencian. Tidak ada manfaatnya sama sekali, hanya akan menghabiskan energi dan membuat suasana jadi keruh. Aku lebih memilih menjaga jarak dari mereka, karena akan cukup melelahkan harus menanggung beban energi negatif yang tidak perlu dari orang-orang semacam itu. Sama halnya dengan orang-orang yang hobinya ikut campur ke urusan hidup orang lain. Kalau ikut campur untuk membantu, itu tidak masalah, bahkan kadang sangat dibutuhkan, that’s actually great. Tapi kalau hanya untuk menambah duri dalam hidup orang lain, menyebar gosip, atau sekedar menghakimi tanpa empati, like, what the hell are you even doing?! Get a life! Aku benar-benar tidak paham apa manfaatnya bagi mereka selain menambah keruh suasana dan membuat hidup orang lain jadi lebih berat.
Aku sudah terbiasa berteman akrab dengan kesunyian. Ia bukan musuh yang menakutkan, melainkan kawan lama yang setia. Ketika pandemi COVID-19 melanda dan memaksa dunia untuk berjarak, memisahkan manusia dari interaksi fisik, aku melihat orang-orang di sekitarku panik. Mereka merasa tertekan, kesepian, dan kehilangan pegangan karena ‘normal’ mereka direnggut. Bagi mereka, isolasi adalah penjara. Bagiku? Itu hanyalah hari Selasa biasa. Aku merasa baik-baik saja, bahkan mungkin lebih damai. Dunia akhirnya melambat menyamai ritme hidupku.
Aku memiliki dua sahabat setia yang tidak pernah menuntutku untuk menjadi orang lain: Buku dan Internet.
Buku adalah gerbang teleportasi pribadiku. Cukup dengan membuka selembar kertas, aku bisa meninggalkan tubuh fisiku dan menjelajahi alam pikiran lintas dimensi. Aku bisa belajar tentang ironi kekuasaan dari Animal Farm, atau berkelana mengejar harta karun bersama Santiago dalam The Alchemist. Di lain waktu, aku menenggelamkan diri dalam abstraksi logika buku-buku ilmu komputer dan memahami mekanisme dunia lewat literatur ekonomi. Tak lupa, aku juga mencari ketenangan dan jawaban fundamental dalam lembaran-lembaran buku-buku agama. Dalam heningnya membaca, aku tidak pernah merasa sendiri, aku justru dikelilingi oleh ribuan suara bijak yang berbisik langsung ke dalam kepalaku.
Lalu ada Internet, jendela tanpa batas menuju dunia lain yang tak kasat mata. Sebuah semesta yang dibangun di atas nilai biner nol dan satu, namun memiliki kedalaman yang tak terhingga bagiku. Di sana, aku bisa berpetualang tanpa batas fisik, menemukan komunitas-komunitas tersembunyi, belajar tentang segala hal mulai dari sejarah peradaban kuno, astrofisika hingga rahasia dunia yang jarang banyak orang tahu, dan menemukan bahwa di belahan bumi lain ada “lonely people” lain yang merasakan hal yang sama sepertiku.
Bersama mereka, aku tidak perlu memakai topeng atau memaksakan basa-basi. Aku bebas menjadi diriku sendiri, menyerap segala pengetahuan dan emosi tanpa perlu merasa dihakimi. Menyendiri secara fisik tidak lantas membuat jiwaku kosong. Justru sebaliknya, aku merasa penuh.
Ternyata, dalam kesendirianku, aku menemukan keramaian yang lebih bermakna. Dalam diamku, aku menemukan percakapan yang paling jujur. Biarlah hanya orang-orang yang mencintaiku yang menemaniku. Aku juga lebih memilih lebih perhatian kepada orang-orang yang mencintaiku saja dibanding kepada ‘noise’ di luaran sana.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.