skip to content
Catercilku
Back

Benci Perang

Peperangan adalah bukti dari betapa besarnya ego manusia.

Ketika satu pihak merasa lebih benar, lebih kuat, lebih pantas menguasai, maka lahirlah konflik. Kata-kata tak lagi cukup, diplomasi telah diabaikan, dan akhirnya peluru menjadi bahasa terakhir. Setiap peluru yang ditembakkan, setiap bom yang dijatuhkan, adalah hasil dari keangkuhan manusia yang tak mau mengalah.

Apa yang diperoleh dari perang?

Nyawa manusia menjadi sangat murah.

Tanah yang direbut berubah jadi kuburan massal.

Bangunan yang dihancurkan tak lagi bisa menampung harapan.

Anak-anak kehilangan masa depan, dan generasi muda dipaksa menjadi saksi kehancuran.

Kelak, ketika dunia hanya tersisa menjadi abu karena ratusan ton bom nuklir yang saling dijatuhkan, saat itulah umat manusia akan benar-benar tersadarkan, betapa merugikannya pengorbanan yang harus dibayar hanya demi peperangan.

Tetapi sayangnya semua itu sudah terlambat.

Terlambat untuk meminta maaf.

Terlambat untuk memperbaiki.

Terlambat untuk membangun kembali.

Yang tertinggal hanyalah kesunyian… dan penyesalan.

Perang, pada akhirnya, adalah kesia-siaan yang megah. Ia memuaskan ego sesaat, tetapi mengorbankan seluruh peradaban.

Dan ketika umat manusia akhirnya menyadari betapa tidak bergunanya semua perang itu, mungkin kita sudah tak ada lagi kesempatan untuk belajar dari kesalahan.

Ingatlah hal ini.

Jika ditanya, “Dalam perang ini, pihak mana yang kamu dukung, A atau B?”

Jawablah dengan lantang,

“Kami bersama perdamaian.”

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.