Membaca buku itu seperti makan
Aku punya satu analogi yang menurutku cukup pas untuk menggambarkan betapa pentingnya membaca buku.
Membaca itu seperti makan.
Serius. Bukan metafora yang dibuat-buat. Kalau kita pikirkan baik-baik, mekanismenya memang hampir sama.
Ketika kita makan sesuatu, apapun itu, makanan itu masuk ke tubuh kita dan punya dampak. Makan makanan bergizi, tubuh kita sehat, kuat, punya energi. Makan junk food terus-terusan? Ya tubuh kita yang bayar. Makan terlalu banyak, obesitas. Makan terlalu sedikit, malnutrisi. Apa yang kita masukkan ke tubuh kita, itulah yang membentuk tubuh kita.
Nah, sama persis dengan membaca.
Apa yang kita baca, itulah yang membentuk pikiran kita. Buku yang kita baca, artikel yang kita konsumsi, informasi yang kita serap, semuanya itu masuk ke kepala kita dan diam-diam memahat cara kita berpikir, memandang dunia, dan mengambil keputusan.
Baca buku filsafat, kita mulai mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita anggap biasa. Baca buku sejarah, kita mulai paham kenapa dunia bisa jadi seperti sekarang. Baca buku psikologi, kita mulai mengerti kenapa manusia bertingkah seperti yang mereka lakukan. Baca buku sains, kita mulai melihat alam semesta dengan kekaguman yang berbeda.
Tapi sebaliknya, kalau yang kita konsumsi hanyalah gosip, konten sampah, dan informasi yang dangkal, ya jangan heran kalau pikiran kita juga jadi dangkal. Sama seperti orang yang tiap hari makan gorengan lalu heran kenapa badannya tidak sehat.
Dan yang menarik dari analogi ini adalah efeknya tidak langsung terasa.
Sama seperti makan satu buah apel tidak langsung membuat kita sehat, membaca satu buku juga tidak langsung membuat kita bijaksana. Tapi akumulasinya? Itu yang dahsyat. Apa yang kita baca hari ini mungkin baru terasa dampaknya bertahun-tahun kemudian, ketika kita ada di suatu titik dalam hidup dan tiba-tiba teringat sesuatu yang pernah kita baca, lalu itu membantu kita mengambil keputusan yang tepat.
Pikiran yang terbentuk dari bacaan yang baik itu akan menjadi fondasi untuk segala hal ke depannya. Cara kita menilai orang, cara kita merespons masalah, cara kita memandang, cara kita mendefinisikan, semuanya dipengaruhi oleh apa yang sudah kita serap ke dalam kepala kita selama ini.
Orang yang rajin membaca punya semacam “perpustakaan internal” di kepalanya. Ketika menghadapi situasi yang sulit, dia punya lebih banyak referensi untuk berpikir. Ketika harus berdiskusi, dia punya lebih banyak sudut pandang. Ketika harus membuat keputusan besar, dia punya lebih banyak pertimbangan. Bukan karena dia lebih pintar secara bawaan, tapi karena dia sudah lebih banyak “makan.”
Dan sama seperti diet, kita juga perlu selektif dalam memilih bacaan.
Tidak semua buku sama nilainya, sama seperti tidak semua makanan sama gizinya. Ada buku yang benar-benar mengubah cara pandang kita, dan ada juga yang setelah selesai dibaca tidak meninggalkan apa-apa. Ada bacaan yang membuat kita tumbuh, dan ada yang cuma membuang waktu.
Maka jadilah pemilih. Pilih bacaan-bacaan yang benar-benar bernutrisi untuk pikiran. Baca yang membuat kita berpikir lebih dalam, yang menantang asumsi kita, yang memperluas cakrawala kita. Jangan hanya makan yang manis-manis. Sesekali konsumsi juga yang pahit, yang berat, yang membuat kita tidak nyaman, karena justru dari situlah pertumbuhan datang.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Kenapa sih harus baca buku?”
Jawabannya, karena alasan yang sama kenapa kamu harus makan. Tubuhmu butuh makanan untuk hidup. Pikiranmu butuh bacaan untuk berkembang.
Dan percayalah, orang yang kelaparan secara intelektual itu sama menyedihkannya dengan orang yang kelaparan secara fisik. Bedanya, yang satu kelihatan, yang satu tidak.
Tapi dampaknya? Sama-sama merusak.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.