Mengatasnamakan Rakyat
Rakyat, rakyat, rakyat… Kata itu begitu sering diucap, seolah setiap pagi pejabat gosok gigi pakai pasta “demi rakyat”. Tiap malam sebelum tidur, mereka selimuti diri pakai selimut “kepentingan rakyat”. Hangat bukan main, meski rakyatnya sendiri kedinginan.
Katanya, “Kami dengar suara rakyat!” Tapi suara kami kayaknya pakai mode getar, atau mungkin perlu bayar pajak selangit dulu biar bisa didengar satu-satu?
Lalu keluar kebijakan:
“Kami naikkan ini… demi kesejahteraan rakyat.”
“Kami naikkan harga BBM… demi subsidi yang tepat sasaran untuk rakyat.”
“Kami izinkan eksploitasi di tanah adat… demi kesejahteraan rakyat lokal.”
“Kami utang lagi… demi masa depan rakyat.”
Ah, iya masa? rakyat mana? Rakyat planet mana?
Setiap kali kami protes, katanya:
“Ssst, jangan ribut. Ini demi stabilitas nasional.” Tapi stabil yang mana? Harga nggak stabil, kerja susah stabil, yang stabil cuma janji-janji yang tak ada kemajuan.
Kadang kita mikir, kalau benar semua ini demi rakyat, kenapa rasanya kayak rakyat cuma jadi nama panggilan saat kampanye doang?
Tapi sudahlah… Yang penting jangan lupa, Senin upacara, nyanyikan lagu wajib, dan berdiri tegak, karena katanya… kita masih merdeka.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.