skip to content
Catercilku
Back

Jika Multiverse memang ada, diriku di Universe lain jadi apa ya?

Play Music

Jika multiverse memang ada, diriku di universe lain jadi apa ya…

Pertanyaan ini selalu membuatku berpikir. Apakah di suatu tempat di luar sana, ada versi diriku yang

Mengambil keputusan yang dulu aku takuti?

Sedang menjalani mimpi yang belum sempat kuraih di sini?

Memiliki kehidupan yang benar-benar berbeda karena satu perbedaan kecil di masa lalu?

Apakah mungkin multiverse memang bukan sekedar teori fisika, tapi juga ruang bagi semua kemungkinan yang tidak terjadi di dunia ini.

Kadang aku membayangkan, ada diriku di universe lain yang waktu itu berani bilang “ya” ketika di sini aku memilih “no”. Ada diriku yang mengambil jalan yang berbeda, entah itu soal karier, hubungan, atau bahkan hal-hal kecil yang kelihatannya sepele tapi ternyata mengubah segalanya.

Mungkin di universe lain, diriku sedang duduk di kafe di kota yang belum pernah aku kunjungi, menulis sesuatu yang berbeda, menjalani hidup yang bahkan tidak bisa aku bayangkan dari sini. Atau mungkin diriku di sana justru sedang menatap langit yang sama, bertanya-tanya tentang versi dirinya yang ada di sini.

Lucu juga kalau dipikir-pikir. Mungkin semua versi diriku di setiap universe sama-sama sedang bertanya-tanya tentang versi dirinya yang lain.

Yang membuatku paling takjub dari konsep teori multiverse ini adalah betapa satu keputusan kecil bisa bercabang menjadi kehidupan yang sepenuhnya berbeda.

Bayangkan. Kalau dulu aku misalnya berangkat lima menit lebih awal, mungkin aku akan bertemu seseorang yang bisa mengubah hidupku. Kalau dulu aku memilih buku yang berbeda untuk dibaca, mungkin pikiranku akan terbentuk dengan cara yang sama sekali berbeda.

Menurut teorinya, setiap detik, kita sedang membuat cabang-cabang baru. Dan setiap cabang itu, menurut teori multiverse, benar-benar ada. Bukan sekedar “bagaimana kalau,” tapi benar-benar terjadi di suatu tempat, di suatu waktu, di universe yang lain.

Berat juga ya kalau dipikir terlalu dalam.

Tapi aku rasa, merenungkan multiverse bukan berarti menyesali jalan yang sudah diambil.

Justru sebaliknya. Kalau memang semua kemungkinan itu nyata adanya di luar sana, berarti diriku yang sekarang ini pun adalah salah satu dari kemungkinan itu. Diantara trilyunan cabang keputusan yang bisa terjadi, nyatanya aku ada di sini. Di titik ini. Menulis catatan ini. Menjadi diriku yang sekarang.

Dan mungkin itu sudah cukup.

Bukan karena hidup ini sempurna, jauh dari itu. Tapi karena setiap keputusan yang membawaku ke titik ini, baik yang benar maupun yang salah, yang berani maupun yang pengecut, semuanya membentuk diriku yang sekarang. Dan diriku yang sekarang ini, dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya, adalah satu-satunya versi yang bisa aku jalani sepenuhnya.

Versi-versi lain di universe lain? Biarlah mereka menjalani ceritanya masing-masing.

Entahlah, mungkin multiverse itu nyata. Mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, pemikiran tentang multiverse ini mengingatkanku pada satu hal sederhana tentang bahwa hidup ini penuh dengan kemungkinan, dan setiap pilihan yang kita buat itu sangat berarti.

Jadi untuk diriku di universe lain, di mana pun kalian berada dan apa pun yang sedang kalian jalani, aku harap kalian baik-baik saja juga.

Dan untuk diriku yang di sini, di universe ini, ya sudah jalani saja. Dengan sepenuhnya ya…

Multiverse

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.