Prosa Liris Insan Pendosa
Langkahnya seringkali terasa seperti gerak mekanis, kaku dan tanpa jiwa. Ia adalah seorang insan yang terjebak dalam tarikan negatif dunia fana. Matanya, meski terbuka, seringkali terhipnotis oleh pendar cahaya neon kepalsuan. Ia bergerak layaknya robot yang dikendalikan oleh benang-benang halus bisikan setan, berputar di labirin yang sama, mengulang kesalahan yang serupa, seolah-olah ia telah kehilangan kendali atas kemudinya sendiri.
Di dalam dadanya, ada sebuah kota tua yang sunyi, namanya Hati Nurani. Di Hati Nurani itu ada sebuah pelita kecil yang tak pernah benar-benar padam. Pelita itu terus membisikkan kerinduan untuk pulang ke jalan yang lurus, jalan yang menjanjikan ketenangan abadi di bawah naungan-Nya. Setiap kali ia bersujud, ada tekad yang mengental, sebuah janji suci yang ia susun rapi untuk menjadi hamba yang lebih baik. Namun, dunia adalah panggung sandiwara yang bising.
Tepat saat ia ingin melangkah keluar dari lingkaran setan itu, sang penggoda datang dengan rupa yang paling manis. Godaan itu menyusup lewat celah-celah kecil keraguan, meruntuhkan tembok niat yang baru saja ia bangun dengan payah. Tekadnya yang setinggi langit seringkali luruh menjadi debu hanya dalam satu kedipan mata. Ia kembali jatuh, kembali terjerembab dalam kubangan yang ia benci, kembali menjadi pesakitan yang menanggung beban dosa yang kian memberat. Ia merasa seperti pendosa tersesat yang membawa peta, namun kakinya dipaksa berlari ke arah yang berlawanan.
Meski begitu, jauh di lubuk sanubarinya, ia tahu satu hal: Pintu itu tidak pernah dikunci. Seberapa jauh pun ia tersesat, seberapa sering pun ia melanggar janji, detak jantungnya adalah sebuah undangan untuk kembali. Ia hanyalah seorang manusia, makhluk yang diciptakan dari tanah, yang sesekali akan berdebu, namun selalu memiliki kesempatan untuk dibasuh oleh air mata pertobatan.
Sebab bagi sang pengelana kebenaran, tidak ada tempat pulang yang paling indah selain kembali bersimpuh di haribaan-Nya, meski harus merangkak dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Itulah dia, insan pengulangi dosa yang paling gigih, namun dia juga adalah pencari ampunan yang tak akan pernah bosan dan berhenti untuk mengetuk pintu Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.