Mungkin saja AI adalah Senjata milik Elit untuk Membunuh Kebenaran
Aku punya satu pemikiran yang mungkin terdengar paranoid. Mungkin ini terdengar teori konspirasi. Mungkin saja.
Tapi semakin aku pikirkan, semakin masuk akal juga. Atau setidaknya, semakin sulit untuk diabaikan.
Bagaimana kalau AI, deepfake, dan semua teknologi manipulasi konten yang sedang berkembang pesat saat ini bukan hanya sekedar kemajuan teknologi? Bagaimana kalau semua ini adalah bagian dari skenario besar yang dirancang oleh segelintir orang paling berkuasa di dunia untuk menghancurkan satu hal fundamental yang menjadi fondasi dari kebenaran itu sendiri, yaitu, kepercayaan pada apa yang kita lihat dan dengar?
Coba pikirkan.
Dulu sebelum era deepfake, kalau ada rekaman video seseorang melakukan sesuatu, itu adalah bukti. Titik. Tidak bisa dibantah. Rekaman audio, foto, video, semua itu punya kekuatan hukum yang sangat kuat. Jika ada pejabat tertangkap kamera melakukan tindakan yang menyalahi aturan hukum, jika ada rekaman suara seseorang merencanakan kejahatan, itu sudah cukup untuk menjatuhkan mereka. Bukti visual dan audio adalah senjata terakhir rakyat kecil untuk melawan kebohongan para elit atau orang-orang yang berkuasa.
Sekarang?
Dengan hadirnya AI, kita bisa membuat video palsu yang nyaris sempurna, suara tiruan yang tidak bisa dibedakan dari aslinya, dan gambar rekayasa yang terlihat sepenuhnya nyata. Kini siapa pun bisa membantah bukti apa pun, karena sekarang semua orang tahu bahwa AI bisa membuat semua itu.
Di satu sisi, konten palsu memang benar-benar ada dan menyebar di mana-mana, membuat kita harus skeptis terhadap segala sesuatu. Tapi di sisi lain, skeptisisme massal itu justru bisa dimanfaatkan untuk membantah bukti yang benar-benar asli.
Misalnya. Ada seorang pejabat tertangkap kamera melakukan tindakan-tindakan amoral. Mungkin orang-orang akan menyangka bahwa itu hanyalah Deepfake, “Ah tidak mungkin, mungkin saja pakai AI?”. Ada rekaman audio perencanaan korupsi bocor ke publik? “Ah itu suara AI palingan yang dibuat oleh orang yang ingin menjatuhkan dia.” Video kejahatan perang tersebar, dan lain sebagainya.
Karena hal tersebut, mungkin mereka tidak perlu lagi gempar dengan adanya bukti. Mereka tidak perlu lagi mengancam saksi. Mereka tidak perlu lagi membakar dokumen-dokumen. Sekarang cukup tanamkan keraguan di masyarakat. Cukup buat semua orang percaya bahwa segala sesuatu di zaman ini bisa dipalsukan dengan mudah menggunakan AI, maka tidak ada yang bisa dibuktikan lagi kebenarannya.
Ini bukanlah sekedar masalah teknologi. Ini adalah gaslighting dalam skala global.
Gaslighting bagi yang belum tahu adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang membuat korbannya meragukan persepsi, ingatan, dan bahkan kewarasannya sendiri. Dan sekarang, hal itu sedang dilakukan kepada seluruh umat manusia sekaligus. Kita sedang diajari untuk tidak percaya pada mata dan telinga kita sendiri. Kita sedang dikondisikan untuk meragukan segalanya, sampai akhirnya kita tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang rekayasa.
Dan siapa yang paling diuntungkannya?
Yang diuntungkan adalah para elit manipulator. Para oligarki, korporasi raksasa, politisi korup, dan semua pihak yang selama ini paling takut terhadap bukti. Mereka yang sebelumnya bisa dijatuhkan oleh satu bukti dokumen, rekaman video dan lain sebagainya, kini punya tameng yang sempurna. Mereka bisa saja melakukan apa pun. Kejahatan perang, korupsi sistematis, kelakuan amoral, dan ketika buktinya muncul, mereka tinggal berkata, “Itu AI.” Dan publik, yang sudah terlalu lelah dan bingung membedakan mana asli dan mana palsu, hanya akan mengangguk dan melanjutkan hidupnya kembali.
Coba perhatikan bagaimana investasi terhadap AI datang dari mana. Siapa yang mendanai risetnya? Perusahaan teknologi raksasa yang berafiliasi erat dengan pemerintahan dan badan intelijen. Bukan kebetulan bahwa teknologi yang paling menguntungkan kekuasaan justru mendapatkan pendanaan terbesar. AI ini bisa saja bukan hanya inovasi yang tumbuh secara organik, tetapi memang proyek yang didorong dari atas ke bawah, dari elit untuk melindungi elit.
Ada satu teori yang namanya The Dead Internet Theory.
Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas di internet saat ini sudah bukan berasal dari manusia lagi. Komentar, postingan, diskusi, review, bahkan akun-akun yang kita pikir adalah orang sungguhan, sebagian besarnya bisa saja adalah bot dan AI. Internet yang kita kenal sudah “mati,” dan yang tersisa hanyalah ilusi keramaian yang diciptakan oleh mesin-mesin.
Kedengarannya memang gila dan paranoid. Tapi coba kita perhatikan. Ada berapa banyak akun di media sosial yang bagi kita terasa aneh? Komentar-komentar yang generik, profil tanpa wajah nyata, diskusi yang terasa seperti template. Kita sudah hidup di era di mana bot bisa membuat post, membalas komentar, bahkan mungkin berdebat dengan kita di kolom komentar tanpa kita sadari bahwa lawan bicara kita itu memang bukan manusia asli.
Jika The Dead Internet Theory ini benar, bahkan sebagian saja, maka opini publik pun bisa saja direkayasa, bukan?
Trending topic bisa saja dibuat untuk dimanipulasi. Narasi bisa saja sudah diarahkan. Konsensus publik bisa saja sudah diciptakan dari nol oleh sekelompok orang yang mempunyai kendali atas pasukan bot di tangannya. Kita bisa saja berpikir bahwa kita sedang membaca “suara-suara rakyat” yang ada di internet, padahal yang kita baca adalah skenario yang sudah ditulis oleh orang-orang yang memiliki kendali atas semua hal tersebut.
Dan ini bersambung langsung dengan bahasan deepfake sebelumnya. Kalau konten saja bisa dipalsukan, dan sekarang bahkan “orang” di internet pun bisa dipalsukan, maka apa yang tersisa? Kita tidak hanya kehilangan kepercayaan pada bukti, tetapi juga kehilangan kepercayaan pada siapa yang nyata dan siapa yang tidak.
Dunia di mana kebenaran sudah menjadi relatif. Di mana bukti sudah kehilangan maknanya. Di mana semua orang saling curiga tapi tidak ada yang bisa membuktikan apa pun. Dan sekarang, bahkan “orang” yang kita ajak bicara di internet pun belum tentu nyata. Maka yang mati bukan hanya kebenaran, tetapi juga kepercayaan itu sendiri.
Itulah dunia kita saat ini.
Dan ironisnya, kita sendiri juga yang membantu membangunnya. Setiap kali kita share konten AI, setiap kali kita menggunakan deepfake untuk hiburan, setiap kali kita menormalisasi teknologi ini, kita seperti sedang menambah satu batu bata demi satu batu bata di dinding yang akan mengurung kebenaran itu sendiri di masa yang akan datang.
Aku tidak bilang AI itu sepenuhnya jahat. Menurutku, teknologi itu netral. Tapi cara ia dipopulerkan, cara ia dimasukkan ke setiap aspek kehidupan tanpa regulasi yang memadai, seperti deepfake yang dibiarkan berkembang liar, itu yang harusnya dipertanyakan, baik dari sisi etika maupun regulasinya.
Karena ketika semua orang sudah terbiasa dengan dunia di mana segalanya bisa dipalsukan, maka tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Dan ketika tidak ada yang bisa dipercaya, mereka yang berbohong pun tidak akan pernah bisa tertangkap.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.