Terhinakan
Ada saat dimana aku direndahkan
kata-kata menjadi badai, tatap jadi luka,
dunia terasa menutup, dan aku menyusut.
Di sana kuteringat cerita penghinaan kepada Nabi ketika di Thaif
sebuah jiwa yang dicaci, dilempar dan ditolak,
namun tetap tegak menengadah kepada Yang Maha Kuasa.
Beliau mengajarkan, menangis bukan tanda lemah,
melainkan jembatan untuk kembali pada Rabb.
Kehinaan di mata manusia tak menanggalkan harga di sisi-Nya.
Ketika pintu-pintu manusia terkunci,
terbukalah pintu langit untuk yang berserah.
Doa menjadi pelukan, kerendahan menjadi kemuliaan yang baru.
Jadi aku belajar
bukan musnah yang menuntutku, melainkan pengajaran
melepaskan sandaran yang rapuh, menggandeng Yang Abadi.
Di balik setiap hina, ada undangan menuju rahmat,
di balik setiap nyeri, ada jalan kembali pada cinta-Nya.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.