skip to content
Catercilku
Back

The Taste of Tea: Surealis, Absurd, tapi Penuh Kehangatan

Play Music

Baru-baru ini aku menonton sebuah film Jepang berjudul: The Taste of Tea (Cha no Aji).

Dan jujur, film ini bukan jenis film yang bisa aku jelaskan dengan mudah ke orang lain.

Kalau biasanya film itu punya formula yang jelas seperti ada konflik besar, ada pahlawan, ada klimaks yang memompa adrenalin dan semacamnya, film ini justru sebaliknya. Ia seperti mengajakku masuk ke dalam keseharian keluarga “aneh”, keluarga Haruno. Tapi aneh dengan cara yang sangat hangat.

Ruang Antara Realita dan Imajinasi

Film ini bisa dibilang adalah definisi dari surealisme yang terasa sangat hangat.

Kita tidak hanya menonton aktivitas fisik karakter-karakternya. Kita seperti merasa dipaksa masuk ke dalam isi dari kepala mereka.

Ada anak kecil di keluarga tersebut bernama Sachiko yang merasa terus-menerus diikuti oleh replika raksasa dari dirinya sendiri.

Ada paman yang dihantui oleh kenangan masa kecilnya yang sangat konyol dan membuatku tertawa dengan tingkah lakunya.

Ada seorang kakek yang eksentriknya sudah di level luar biasa.

Dan yang menarik, semua itu disajikan dengan begitu natural. Seolah-olah hal-hal absurd itu memang bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga tersebut, dan mungkin memang begitu adanya.

Setiap anggota keluarga Haruno punya dunia batinnya masing-masing. Ada yang sedang jatuh cinta diam-diam, ada yang berjuang dengan identitasnya, ada yang sederhana saja hanya ingin membuat animasi. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Semuanya diceritakan dengan porsi yang sama, dengan ketenangan yang sama.

Absurditas yang Menenangkan

Biasanya sesuatu yang “absurd” atau tidak masuk akal seringkali terasa membingungkan, bahkan menakutkan. Tapi di film ini, absurditas itu justru seperti menjadi bumbu yang manis dan hangat.

Kejadian-kejadian aneh yang terjadi di sana terasa sangat manusiawi. Seolah-olah sutradara film ini ingin bilang bahwa setiap orang memang punya “dunia kecil” yang aneh di dalam pikirannya masing-masing. Dan itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau disembunyikan. Itu justru yang membuat kita menjadi manusia.

Ada satu hal yang aku sadari setelah menonton film ini mengenai bahwa kita itu kadang terlalu sering menuntut sesuatu untuk masuk akal. Kita ingin semuanya bisa dijelaskan, bisa dilogikakan, bisa dipahami dengan rapi. Padahal hidup sendiri jarang sekali beroperasi dengan logika yang sempurna.

Kadang kita memikirkan hal-hal yang aneh juga. Kadang kita bermimpi tentang sesuatu yang tidak masuk akal. Kadang ada perasaan yang tidak bisa kita jelaskan. Dan film ini bilang, “ya, itu tidak apa-apa kok.”

Estetika yang Tenang

Secara visual, film ini indah dengan cara yang sangat Jepang sekali. Mulai dari pemandangan pedesaan yang hijau, jalan-jalan kecil yang sepi, langit sore yang keemasan. Semuanya disajikan dengan tempo yang lambat, melankolis, seolah memberikan ruang bagi penontonnya untuk benar-benar merasakan, bukan hanya menonton.

Tidak ada soundtrack yang dramatis. Tidak ada editing yang cepat. Semuanya mengalir seperti air sungai yang tenang, pelan, tapi terus bergerak.

Seperti Minum Teh hangat di Sore Hari

Menonton film ini rasanya persis seperti judulnya. Tenang. Sedikit pahit di beberapa bagian. Tapi meninggalkan rasa nyaman yang lama.

Film ini memang tidak berusaha mengajarkan pelajaran hidup yang besar. Tidak ada monolog inspiratif. Tidak ada momen “aha” yang mengubah hidup. Yang ada hanyalah kehidupan itu sendiri dengan segala keanehan, keindahan, dan kesunyiannya.

Dan mungkin itulah pelajaran terbesarnya, bahwa hidup memang terkadang tidak selalu harus masuk akal untuk bisa dinikmati. Kadang, cukup dengan duduk, santai, menyeruput teh, dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya.

The Taste of Tea

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.