Masabodoisme
/ 9 min read
Updated:Table of Contents
Pembukaan
Ada masa dalam hidupku di mana aku merasa menjadi penonton dari lakon yang seharusnya aku perankan. Setiap keputusan seolah menunggu persetujuan tak tertulis dari mata-mata tak dikenal yang menilai dari kejauhan. Aku terlalu peduli. Terlalu ingin diterima. Terlalu ingin dianggap “baik”, “pantas”, dan “sesuai”. Aku tersesat dalam labirin ekspektasi yang bahkan tak pernah kutulis sendiri.
Setiap komentar orang lain, bahkan yang tak disengaja, kadang kuanggap “sabda”. Setiap penolakan kuartikan sebagai kegagalan total atas eksistensiku. Hingga lelah menjadi versi yang diinginkan orang lain, aku mulai bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya membuatku merasa hidup? Siapa yang kuperjuangkan, jika akhirnya aku kehilangan diriku sendiri?
Dari pertanyaan-pertanyaan itulah lahir jalan hidup yang kujalani hari ini: Masabodoisme.
Masabodoisme aku kemukakan bukan sebagai bentuk pemberontakan anarki. Ia bukan sikap acuh semata, tapi ini adalah filosofi personal, jalan tengah antara membiarkan dunia mengatur hidupku dan menjadi egois yang membutakan hati.
Masabodoisme adalah keberanian untuk berkata:
Aku tidak harus menyenangkan semua orang. Tapi aku juga sangat-sangat tidak ingin menjadi orang yang apatis serta dapat menyakiti. Bebas, tapi masih memiliki pagar. Cuek, tapi tidak kehilangan rasa.
Ini adalah perjalananku untuk hidup tanpa beban topeng, namun tetap menjaga bentuk. Tidak semua harus ditanggapi. Tidak semua harus dibalas. Tapi semuanya patut untuk dipahami, lalu dipilih mana yang layak didengar, dan mana yang cukup ditertawakan.
Antara peduli dan terluka
Kepedulian adalah hal yang mulia. Tapi tidak semua kepedulian lahir dari cinta, kadang ia tumbuh dari ketakutan. Takut dianggap tidak sopan. Takut dikucilkan. Takut dianggap tidak berguna. Takut dianggap bodoh. Lama-lama, aku tidak tahu lagi apakah aku peduli karena memang peduli, atau karena takut tidak dianggap ada?
Aku pernah menjadi orang yang terlalu banyak memikirkan kata orang. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku belum mengenal diriku sendiri. Setiap saran kuterima mentah-mentah, setiap kritik kutelan tanpa kunyah. Aku mencoba menjadi “baik” menurut standar semua orang seperti dalam bersikap dan berpakaian, hingga tak sadar aku seperti bukan hidup sebagai diriku.
Peduli itu melelahkan, jika tak tahu batasnya. Sorry, that’s the reality.
Aku mulai sadar bahwa tidak semua luka datang dari kebencian. Kadang, luka paling dalam justru datang dari kepedulian yang berlebihan. Saat kita terlalu membuka diri pada dunia untuk mendikte dengan memberi akses terlalu luas bagi orang lain untuk masuk, dan tanpa sadar, mereka mengacak-acak tatanan dalam diri kita.
Ada masa di mana aku tidak bisa berkata “tidak”, karena takut melukai. Padahal dalam diamku, akulah yang terus terluka. Ada masa di mana aku menuruti semua ekspektasi hingga aku merasa kosong. Seolah-olah aku hanya hidup sebagai pengisi peran figuran dalam hidup orang lain.
Dari luka-luka itulah Masabodoisme mulai tumbuh. Bukan sebagai tembok, tapi sebagai pagar. Agar aku bisa berdiri di halaman hidupku sendiri, tanpa terus diganggu oleh komentar dari luar pagar.
Munculnya Masabodoisme
Masabodoisme tidak lahir dalam sehari. Ia bukan pencerahan instan yang muncul di tengah malam setelah menonton video motivasi. Ia lahir perlahan, seperti benih yang tumbuh dari tanah kelelahan dan siraman rasa eneg kepalsuan. Ia tumbuh dari banyak hal, dari kata-kata yang menyakitkan, dari ekspektasi yang terus-menerus bergentayangan, dan dari rasa capek menjadi versi yang disukai orang lain tapi asing bagi diriku sendiri.
Awalnya, aku hanya diam. Tapi diam yang bukan karena tenang, diam karena bingung, tapi karena terduduk. Bingung memilih antara menjadi versi yang didiktekan oleh orang lain baik secara eksplisit maupun implisit dan menyelamatkan diri sendiri. Lalu aku mencoba memberanikan diri untuk, perlahan-lahan, masabodo. Bukan masabodo yang menyerah, tapi masabodo yang membebaskan.
Masabodoisme lahir ketika aku menyadari satu hal penting:
Aku tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang, bahkan jika aku mengorbankan diriku sendiri.
Saat itulah aku menamainya: Masabodoisme. Sebuah prinsip hidup yang berangkat dari rasa lelah menjadi budak validasi. Masabodoisme bukan sikap dingin tanpa empati. Bukan pemberontakan yang sembrono. Masabodoisme adalah seni memilih perang yang layak dihadapi, dan membiarkan sisanya berlalu bersama angin.
Dalam Masabodoisme, aku belajar berkata:
- Tidak semua komentar harus aku tanggapi.
- Tidak semua ekspektasi harus aku penuhi.
- Tidak semua orang berhak masuk ke dalam ruang batinku.
Karena dalam hidup ini, terlalu banyak suara yang ingin kita dengar hingga suara diri sendiri menjadi paling pelan.
Masabodoisme mengajakku mendengar ulang suara itu, suara yang pernah hilang karena terlalu sibuk menjadi “baik” di mata semua orang.
Kini aku tahu aku bisa hidup dengan lebih ringan, dengan tidak menjadikan setiap opini sebagai perintah dan dikte.
Aku tetaplah manusia sosial, tapi bukan budak sosial.
Aku tetap bisa peduli, tapi bukan berarti harus gampang tunduk. Dan di sinilah aku sekarang, melangkah dalam jalanku sendiri. Jalan yang mungkin sepi, tapi jujur. Jalan yang kutemukan, yaitu jalan Masabodoisme.
Kebebasan yang Tetap Punya Pagar
Masabodoisme bukan berarti hidup seenaknya. Ini bukan ajakan untuk menjadi liar, apalagi egois. Justru sebaliknya, Masabodoisme mengajarkanku untuk menyaring. Untuk tahu mana suara orang yang hanya ingin mengontrol, dan mana nilai yang layak kujaga agar aku tidak berubah menjadi makhluk tanpa bentuk dan arah.
Aku memang ingin bebas, tapi bukan bebas dari tanggung jawab. Aku ingin menjadi diriku sendiri, tapi bukan berarti menginjak batas yang sudah digariskan oleh nilai, oleh hati nurani, bahkan oleh Tuhan.
Aku belajar untuk masabodo dengan sadar, bukan sembarangan.
Aku masabodo dengan gaya berpakaianku. Aku tidak merasa perlu selalu mengikuti tren atau menjadi fomo. Bagiku, berpakaian adalah soal kenyamanan dan kejujuran pada diri sendiri, cukup mengenakan apa yang aku sukai, yang sopan, nyaman, dan tidak memaksakan sesuatu yang bukan diriku.
Aku masabodo terhadap tuntutan untuk selalu tampil menawan atau pura-pura terlihat mapan bagai seorang pangeran kaku demi mendapat pengakuan, apalagi perhatian dari wanita. Aku tidak sedang mengikuti audisi peran. Aku hanya ingin menjadi laki-laki yang utuh, bukan sekedar kemasan yang dipoles demi impresi semu.
Aku masabodo jika dianggap “kekanak-kanakan” karena masih menikmati bermain game, menonton anime, atau sekedar duduk sendiri sambil menikmati susu bubuk. Selama itu tidak mengganggu tugasku, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak membuatku lupa bersyukur, mengapa harus ragu?
Aku masabodo jika disebut kurang ambisius karena memilih jalan hidup yang lebih pelan, lebih tenang, dan lebih selaras dengan jiwaku. Bagiku, bukan siapa yang tercepat yang menang, melainkan siapa yang paling memahami ke mana ia melangkah dan ke mana ia ingin pulang.
Aku masabodo jika ada yang menilai diriku “biasa aja”. Karena aku tidak sedang berlomba untuk menjadi luar biasa di mata orang lain, aku hanya sedang berusaha menjadi utuh di hadapan diriku sendiri.
Aku juga tidak ingin menjadi manusia yang sekedar dijadikan alat. Aku menolak hidup hanya untuk memenuhi kepentingan atau ekspektasi orang lain, apalagi jika keberadaanku hanya dianggap sebagai fungsi tanpa ruh-relasi dan timbal balik. Hidupku bukan sekedar alat untuk tujuan orang lain, melainkan ruang untuk tumbuh dan menjadi diri sendiri secara utuh dan sadar.
Masabodoisme bukan tentang menjadi apatis. Ini adalah pilihan sadar untuk membebaskan diri dari beban ekspektasi kosong, namun tetap berpegang pada nilai-nilai yang menjaga pikiran tetap jernih dan tidak melukai siapa pun.
Inilah kebebasanku. Kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan yang memahami batas. Justru karena ada pagar itulah, aku dapat berlari lebih leluasa tanpa takut tersesat atau terbelenggu.
Tantangan dan Godaan
Masabodoisme bukanlah jalan tanpa rintangan. Justru ketika aku memilih hidup dengan prinsip ini, tantangan dan godaan datang silih berganti. Kadang berupa suara lantang dari luar, kadang berupa bisikan lembut dari dalam diri sendiri.
Godaan pertama datang dari rasa ragu. Aku pernah bertanya pada diriku sendiri:
Apakah dengan masabodo ini aku sedang bijak… atau sedang menipu diri? Apakah ini bentuk kemerdekaan… atau hanya pelarian dari rasa takut dan kegagalan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu bisa kujawab dengan sempurna, tapi mereka membantuku memurnikan niat.
Lalu datanglah godaan implisit:
Kok sekarang kamu kayak orang yang beda dari dulu? Dulu kamu kelihatan lebih sopan dan pendiam. Kamu kayak lebih terbuka sekarang.
Mereka tidak marah. Tidak frontal. Bahkan mereka tidak mengatakannya, tapi aku bisa menangkap ada penilaian yang menggantung di udara.
Aku bukannya jadi tidak sopan, aku hanya tidak lagi berpura-pura manis demi kenyamanan orang lain. Aku bukannya jadi terlalu terbuka, aku hanya tidak ingin terus menyembunyikan siapa diriku sebenarnya hanya agar tidak membuat orang risih. Aku bukannya berubah jadi orang baru, aku hanya berhenti menjadi topeng lama.
Kadang komentar seperti itu mengusik. Bukan karena aku tidak yakin pada diriku, tapi karena sebagian dari diriku masih ingin dianggap “baik” oleh mereka yang dulu mengenalku dalam versi lama. Tapi aku harus ingat, kebaikan yang sejati bukan tentang tampil pendiam dan bisa ditebak, tapi tentang jadi diri sendiri tanpa niat menyakiti.
Itulah ujian Masabodoisme. Tetap tenang di tengah getaran nostalgia orang lain yang ingin menarik kembali ke versi lama yang lebih nyaman bagi mereka, tapi menyiksa bagi diriku.
Buah dari Masabodoisme
Hidup dengan prinsip Masabodoisme tidak membuat segalanya jadi sempurna. Tapi ia membuat segalanya terasa lebih nyata. Lebih jujur. Lebih hidup.
Dulu, aku menjalani hidup seperti memikul beban yang tak kelihatan, berat karena harus selalu “baik”, pendiam, kikuk, harus selalu “cukup”, harus selalu bisa menyenangkan semua orang. Sekarang, aku memang tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi setidaknya aku bisa hidup dengan damai dalam diriku sendiri.
Buah pertama yang kurasakan adalah ringannya batin. Rasanya seperti melepas tas punggung yang ternyata selama ini berisi beban pikiran orang lain, ekspektasi, asumsi, dan penilaian yang tak pernah benar-benar aku pilih. Aku bisa bernafas lebih panjang. Bisa tertawa tanpa rasa bersalah. Bisa merasa cukup walau tak sempurna.
Buah berikutnya adalah kebebasan untuk memilih jalanku sendiri, bukan sekedar mengikuti arus demi terlihat normal. Aku bisa menikmati kesendirian tanpa harus merasa kesepian. Aku bisa menolak tanpa rasa bersalah. Aku bisa mengekspresikan diri tanpa takut dicap “tidak cocok”.
Masabodoisme juga mengajarkanku untuk mengenali siapa saja yang mencintaiku tanpa syarat. Orang-orang yang tetap tinggal bahkan ketika aku tak lagi berpura-pura. Mereka yang tidak pergi saat aku berhenti menyenangkan mereka. Mereka yang menghargai versiku yang baru, bukan karena aku lebih “baik”, tapi karena aku lebih jujur.
Dan buah yang paling mengejutkan adalah aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Bukan karena aku menjadi lebih religius di mata orang, tapi karena aku tidak lagi sibuk mencitrakan kesalehan. Hubunganku dengan Tuhan menjadi lebih sunyi, tapi lebih tulus. Aku bisa memandang ke dalam dan berkata,
Tuhan, inilah aku, tanpa topeng, tanpa pretensi. Terimalah aku dalam bentukku yang paling jujur.
Bagiku, Masabodoisme bukan lagi sekedar prinsip, tetapi ia adalah rumah. Rumah yang tidak megah, tapi cukup untuk bernaung dari badai komentar, tuntutan, dan penilaian dunia. Dan aku tahu, selama aku meniti jalan ini, aku harus tetap dalam keadaan sadar, sadar dengan tanggung jawab, dan dengan rasa.
Aku tak lagi ingin hidup dari “tepuk tangan” palsu. Aku ingin hidup dari kedamaian.
Penutup
Menurutku, Masabodoisme bukan sekedar cuek. Ia adalah kebijaksanaan untuk tahu kapan harus mendengar, kapan harus menutup telinga. Kapan harus menanggapi, kapan cukup diam dan tersenyum. Kapan harus memperjuangkan sesuatu, dan kapan harus ikhlas melepaskan.
Aku tidak ingin menjadi keras kepala, tapi juga tidak mau lagi menjadi lunak yang terus-menerus karena “tuntutan” orang lain.
Aku ingin hidup dengan utuh, dalam kebebasan yang sadar, dalam kejujuran yang bertanggung jawab, dalam spiritualitas yang tenang.
Dan jika di tengah jalan aku kembali ragu, kembali goyah, aku akan ingat satu hal:
Masabodoisme adalah seni memilih mana yang pantas dipedulikan dan mana yang cukup ditertawakan, agar bisa hidup jujur tanpa harus menyakiti.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.