skip to content
Catercilku
Back

Mungkin lu NPD... Bahas Narsisme + Tes

/ 7 min read

Table of Contents

Awal Mula

Belakangan ini timeline media sosialku sering sekali lewat pembahasan mengenai Narcissistic Personality Disorder atau yang sering disingkat NPD. Jujur, awalnya aku pikir ini cuma istilah keren buat orang yang suka pamer atau hobi selfie aja. Tapi, setelah baca-baca lebih jauh, ternyata isunya jauh lebih kompleks dari itu aja.

Rasa penasaranku membawaku menyelami referensi dari ahlinya perihal NPD ini, salah satunya dari sumber referensi yang sering dipakai para psikolog yaitu, DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Ternyata, ada perbedaan besar antara sekedar “percaya diri tingkat tinggi” dengan gangguan kepribadian narsistik.

Berhubung background ku adalah software engineer, disini aku juga coba bikin aplikasi sistem pakar/skrining sederhana yang aku masukkan/inject kedalam tulisan ini, dengan aturannya mengikuti berdasarkan apa yang aku baca tersebut. Bukan untuk diagnosis sungguhan (karena aku bukan psikolog asli juga wkwk), tapi lebih buat refleksi diri aja. Siapa tahu sifat-sifat yang kita anggap wajar selama ini ternyata…

Mari kita cek saja.

Coba Tes Dulu

Sebelum cerita lebih lanjut soal NPD, aku merekomendasikan untuk mencoba terlebih dulu aplikasinya untuk skrining/mengetes apakah kamu itu masih termasuk normal atau memang termasuk NPD.

Programnya sederhana saja pakai aturan sistem pakar “5 dari 9” menurut kriteria dari DSM-5 tersebut.

Silahkan tes dan lihat hasil jawabannya:

Instrumen Skrining Mandiri NPD

Penting: Aplikasi ini adalah sistem pakar sederhana yang mengadopsi kriteria dari DSM-5. Hasilnya bukan diagnosis medis. Ini percobaanku saja, sebagai gambaran dan refleksi diri.
  • Tes ini terdiri dari 18 pernyataan.
  • Harus jawab jujur sesuai kondisi kamu sehari-hari, karena kalau tidak jujur, kamu tidak akan tahu kamu itu NPD atau bukan.
  • Gunakan skala 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai 5 (Sangat Setuju).

Catatan Teknis (Untuk yang Penasaran)

Jika ada yang penasaran mengenai cara kerja aplikasinya secara teknikal (untuk para nerd), berikut adalah detail pembahasannya.

Sebenarnya ini adalah penerapan sederhana dari Sistem Pakar atau Expert System dengan menggunakan metode Forward Chaining.

  1. Rule Base (Basis Aturan): Aturannya diambil mentah-mentah dari DSM-5, yaitu ada 9 kriteria diagnosis.
  2. Mapping Pertanyaan: Setiap 1 kriteria dipecah menjadi 2 pertanyaan turunan. Jadi total ada 18 pertanyaan.
  3. Thresholding: Karena jawabannya pakai Skala Likert (1-5), aku pasang threshold rata-rata di angka 3.5.
    • Artinya, kalau rata-rata jawaban kamu di satu kriteria itu di atas 3.5 (cenderung setuju), maka sistem menganggap kriteria itu “Terpenuhi”.
  4. Inferensi (Kesimpulan):
    • Jika ≥ 5 kriteria terpenuhi -> Output: Indikasi Kuat.
    • Jika 3-4 kriteria terpenuhi -> Output: Ciri Narsistik (Traits).
    • Sisanya -> Normal.

Simpel kan? Tidak perlu AI canggih sebenarnya, Algoritmanya cukup menggunakan metode Forward Chaining sederhana, rapi dan berdasarkan aturan pakarnya saja.

Apa yang Aku Pelajari Soal NPD?

Dari hasil yang aku pelajari, ternyata seseorang baru bisa dibilang NPD kalau punya pola yang MENETAP. Jadi kalau cuma sekali dua kali sombong misalnya, itu belum tentu NPD.

Menurut DSM-5, setidaknya ada 9 kriteria utama. Dan diagnosis biasanya ditegakkan kalau seseorang memenuhi minimal 5 dari 9 kriteria ini:

1. Merasa Paling Hebat (Grandiositas)

Ini adalah ciri yang paling klasik. Mereka memiliki rasa mementingkan diri sendiri yang sangat berlebihan. Kalau kamu ngobrol sama mereka, rasanya mereka selalu memposisikan diri sebagai tokoh utama di film fiksi ilmiah yang menyelamatkan dunia. Mereka sering melebih-lebihkan prestasi atau bakat mereka. Misalnya, baru belajar coding seminggu tapi sudah merasa setara dengan programmer senior dan legenda di dunia, dan mengharapkan orang lain mengakui “kehebatan” itu tanpa bukti yang jelas.

2. Sering Berkhayal Sukses Tanpa Batas

Pikiran mereka layaknya bioskop yang memutar film tentang kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta ideal yang tanpa batas secara 24 jam nonstop. Berbeda dengan mimpi orang biasa yang biasanya yang masih napak ke tanah, khayalan mereka seringkali tidak realistis dan mereka bisa sangat tersinggung jika realitas tidak sesuai dengan skenario indah yang ada di kepala mereka.

3. Merasa Spesial dan Unik

Mereka percaya bulat-bulat bahwa mereka itu “spesial” dan unik, sehingga meyakini kalau mereka hanya bisa dimengerti oleh, atau seharusnya hanya bergaul dengan orang-orang lain yang juga spesial, berstatus tinggi, atau institusi yang elit. Orang biasa dianggap “kurang level” atau “NPC” (Non-Playable Character jika dianalogikan dalam Game), dalam hidup mereka. Ini sering bikin mereka terlihat snob atau pilih-pilih teman secara ekstrem.

4. Butuh Banget Dipuji (Haus Validasi)

Mereka membutuhkan asupan kekaguman, pujian, dan atensi yang berlebihan secara terus-menerus. Ini bukan sekedar “senang dipuji”, tapi “butuh dipuji” layaknya butuh oksigen. Kalau tidak dapat atensi, mereka bisa merasa hampa, kecewa berat, atau bahkan marah. Validasi dari luar adalah bahan bakar utama untuk ego mereka yang sebenarnya cukup rapuh.

5. Merasa Berhak Istimewa (Entitlement)

Punya ekspektasi yang seringkali tidak masuk akal untuk selalu mendapatkan perlakuan khusus atau kepatuhan otomatis dari orang lain. Mereka merasa aturan umum (seperti mengantre, membayar tiket, atau aturan lalu lintas) itu dibuat untuk “orang biasa”, bukan untuk mereka. Jika keinginan mereka tidak dituruti, mereka bisa bingung atau murka karena merasa hak asasinya dilanggar.

6. Suka Memanfaatkan Orang Lain (Eksploitatif)

Dalam hubungan interpersonal, mereka seringkali eksploitatif. Artinya, mereka tidak ragu memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan mereka sendiri (entah itu uang, status, atau sekadar tumpangan). Hubungan pertemanan seringkali bersifat transaksional, mereka baik kalau ada maunya, atau berteman hanya dengan orang yang bisa memberikan “benefit” bagi citra diri mereka.

7. Kurang Empati

Ini tanda yang mungkin paling menyakitkan bagi orang di sekitarnya. Mereka enggan atau tidak mampu mengenali, memahami, atau peduli pada perasaan dan kebutuhan orang lain. Kalau kamu curhat sedih, respons mereka mungkin dingin, mengalihkan topik ke diri mereka sendiri, atau malah meremehkan masalahmu. Bukan karena mereka jahat, tapi sirkuit empati di otak mereka seolah tidak nyambung.

8. Iri Hati atau Merasa Diirikan

Egonya sering terancam oleh keberhasilan orang lain. Mereka sering merasa iri pada kesuksesan orang lain, atau sebaliknya, mereka sangat yakin (seringkali tanpa dasar) bahwa orang lainlah yang iri kepada mereka. Ini membuat mereka sulit untuk tulus memberikan selamat kepada teman yang sedang berprestasi.

9. Arogan dan Angkuh

Sikap ini yang paling gampang terlihat dari luar. Bahasa tubuh yang angkuh, nada bicara yang merendahkan, atau tatapan sinis. Mereka sering memandang orang lain dengan sebelah mata dan tidak ragu menunjukkan sikap sombong, terutama kepada orang yang mereka anggap statusnya di bawah mereka.

Sering Update Story = NPD?

Ini pertanyaan yang sering muncul:

Apakah orang yang sering update status atau story di kehidupannya itu tanda NPD?

Menurut para psikolog, belum tentu.

Di era digital saat ini, mendokumentasikan hidup adalah hal yang wajar (mungkin🤷‍♂️). Namun, para ahli membedakan perilaku narsistik dengan perilaku normal berdasarkan dua faktor utama yaitu: Motif dan Reaksi.

  1. Motif (Haus Validasi vs. Sekedar Sharing)

    • Perilaku Normal: Seseorang memposting sesuatu karena ingin berbagi momen kebahagiaan, menyimpan kenangan digital, atau sekedar mengisi waktu luang.
    • Perilaku Narsistik: Postingan dilakukan semata-mata untuk mendapatkan “suplai narsistik”. Jumlah likes dan views dianggap sebagai tolak ukur harga diri. Konten seringkali dikurasi secara ekstrem untuk membangun citra kesempurnaan palsu dan fantasi kesuksesan (Sangat berkaitan dengan Poin 2: Fantasi Tanpa Batas & Poin 4: Butuh Banget Dipuji).
  2. Reaksi terhadap Respons (Stabil vs. Rapuh)

    • Perilaku Normal: Jika postingan mendapat sedikit respons, hal tersebut tidak mempengaruhi suasana hati mereka secara signifikan.
    • Perilaku Narsistik: Kurangnya atensi dapat memicu “cedera narsistik”. Mereka bisa merasa sangat marah atau terhina jika dunia tidak mengakui “kehebatan” mereka (Relevan dengan Poin 1: Grandiositas & Poin 9: Arogan), bahkan seringkali menghapus postingan yang sepi like karena gengsi.

Pada intinya, frekuensi postingan di media sosial tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator bahwa dia itu NPD tanpa melihat konteks psikologis yang ada di baliknya.

Penutup

Ketika proses menulis dan membuat program tes tersebut membuatku menyadari satu hal, bahwa batas antara “percaya diri” dan “narsistik” itu sebenarnya beda tipis, tapi dampaknya bisa beda jauh. Percaya diri itu membangun, tapi narsistik itu bisa merusak (diri sendiri dan orang lain).

Tapi ya, sekali lagi, aku bukan ahli Psikolog, aku hanya seorang Programmer yang suka belajar dan berbagi banyak hal kepada semua orang.

Aplikasi di atas cuma untuk edukasi dan iseng-iseng refleksi saja. Kalau memang merasa ada yang “klik” dari tulisan ini atau dari hasil jawaban aplikasi skrining tersebut, menurutku lebih baik ngobrol saja dengan profesional (Psikolog/Psikiater) sungguhan, karena itu adalah jalan paling terbaik.

Semoga bermanfaat.

Salam Pengembara👋


Referensi

  1. DSM-5 (American Psychiatric Association).
  2. Cleveland Clinic. Narcissistic Personality Disorder (NPD)
  3. Mayo Clinic. Narcissistic personality disorder: Symptoms & causes.
  4. Mitra, P. & Fluyau, D. Narcissistic Personality Disorder. NCBI Bookshelf.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.