
Benarkah Kelangkaan (Scarcity) Itu Mitos?
/ 13 min read
Updated:Table of Contents
Baru-baru ini aku menonton sebuah video yang cukup “menampar” logika ekonomi yang selama ini aku pelajari. Video dari kanal Vier Agi Leventa berjudul “Kelangkaan Buatan dan Kemiskinan Struktural” ini menjadi pemicu aku untuk menulis ini. Video ini membahas tentang bagaimana dunia bekerja di balik layar, atau setidaknya, bagaimana narasi tentang “dunia” itu dibentuk.
Jujur saja, selama ini kita selalu didoktrin baik di sekolah maupun di kehidupan sehari-hari bahwa kemiskinan terjadi karena sumber daya alam itu terbatas, sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Ini adalah dalil dasar ekonomi klasik mengenai Scarcity (Kelangkaan). Tapi setelah menyimak penjelasan di video tersebut, aku jadi tersadar akan satu pertanyaan besar:
Bagaimana jika “kelangkaan” itu sebenarnya tidak nyata, melainkan sengaja diciptakan?
Terdengar seperti teori konspirasi. Mungkin. Tapi mari kita bedah pelan-pelan.
Dibawah ini adalah rangkuman lengkapku dari video tersebut yang sudah aku kembangkan dengan pemikiranku sendiri. Sayang banget kalau insight ini cuma disimpan olehku sendiri.
Dogma Ekonomi yang Kita Telan Mentah-Mentah
Di video itu dijelaskan bahwa kurikulum ekonomi modern, terutama yang merujuk pada definisi Lionel Robbins tahun 1932, dibangun di atas dua premis utama yang seolah sudah jadi hukum alam:
- Unlimited Wants: Keinginan manusia itu kayak lubang hitam, nggak ada puasnya, eksponensial, dan tanpa batas.
- Limited Resources: Bumi ini terbatas, sumber daya itu langka.
Sebelum lanjut, aku akan jelaskan dulu sebentar tentang Hukum Permintaan dan Penawaran alias Supply and Demand dalam Dasar Ilmu Ekonomi Modern bagi yang belum tahu-menahu mengenai hal ini. Konsep dasarnya sangat sederhana:
Bayangkan kita ada di pasar. Jika ada 10 orang yang ingin membeli jengkol (demand tinggi), tapi penjual cuma punya 2 butir jengkol (supply rendah), apa yang terjadi? Harga jengkol pasti melambung tinggi karena barangnya “langka”. Sebaliknya, jika ada 100 jengkol tapi yang beli cuma 1 orang, harganya bakal jatuh obral.
Ekonomi modern berdiri di atas asumsi bahwa kondisi pertama (kurang barang) adalah kondisi alami di dunia ini. Makanya, jika terjadi kondisi kedua dimana ada 100 jengkol tapi yang beli cuma 1 orang, harganya bakal jatuh bebas.
Dan ingat, dalam kapitalisme, harga jatuh berarti keuntungan hilang.
Itu sebabnya, sadar atau tidak, sistem ekonomi kita seringkali justru “mempertahankan” atau bahkan “merekayasa” kelangkaan ini. Tujuannya sederhana:
Agar barang tetap dianggap berharga dan roda profit tetap berputar kencang.
Rumusnya sederhana:
Scarcity = Unlimited Wants > Limited ResourcesKarena keinginan (demand) selalu dianggap lebih besar dari sumber daya (supply), maka timbullah Scarcity alias Kelangkaan.
Implikasinya jadi apa? Karena barangnya dianggap “langka”, maka muncullah mekanisme harga. Siapa yang punya uang, dia yang berhak mendapatkan. Yang nggak punya? Ya nasib, itu dianggap sebagai seleksi alamiah pasar.
Poin menarik dan mengerikannya yaitu, sistem ini meyakinkan kita bahwa “serakah” itu adalah sifat alami manusia. Kita dididik untuk percaya bahwa adalah wajar jika kita ingin segalanya.
Padahal, benarkah manusia memang tidak pernah puas, atau sistem kapitalisme yang melatih kita untuk tidak pernah puas?
Coba kita renungkan sama-sama. Apakah kita benar-benar butuh ganti HP setiap tahun? Apakah kita benar-benar butuh lusinan baju yang akhirnya cuma numpuk di lemari? Atau keinginan itu cuma ditanamkan lewat iklan, tren, dan tekanan sosial yang dirancang oleh mesin ekonomi itu sendiri?
Artificial Scarcity: Kelangkaan yang Direkayasa
Bang Vier mengutip dari sosiolog yang bernama Jean Baudrillard, yang berpendapat bahwa kapitalisme itu unik, dia memproduksi barang besar-besaran, tapi di saat yang sama dia juga harus memproduksi “kekurangan”.
Kenapa? Karena logikanya sebetulnya sederhana:
Kalau kita merasa “cukup”, mesin ekonomi berhenti berputar.
Sistem ekonomi hari ini bahan bakarnya adalah “ketidakpuasan”. Kalau hari ini semua orang bangun tidur dan merasa puas dengan apa yang mereka miliki, tidak akan ada orang yang belanja barang baru. Kalau tidak ada yang belanja, penjualan anjlok, pabrik tutup, saham runtuh. Jadi demi menjaga ekonomi tetap tumbuh, maka kepuasan kitalah yang harus terus dikorbankan.
Jika semua orang merasa cukup dengan HP-nya selama 5 tahun, pabrik HP bangkrut. Jika semua orang cukup dengan 5 pasang baju, industri fashion runtuh. Makanya, kita harus dibuat merasa kurang. Kita harus dibuat merasa HP kita kuno, baju kita norak, mobil kita ketinggalan zaman dan lain-lain.
Dan “kelangkaan” ini seringkali bukan karena barangnya tidak ada, tapi karena diadakan supaya sengaja menjadi nggak ada (kelangkaan yang direkayasa/artificial scarcity).
Ada beberapa bukti nyata yang bisa kita temui tapi jarang kita ketahui dan kritisi:
-
Pemusnahan Stok Barang Mewah: Brand fashion mewah (seperti kasus Burberry yang sempat viral) lebih memilih membakar stok baju yang nggak laku daripada menyumbangkannya atau menjual murah. Tujuannya? Demi menjaga brand image dan harga tetap mahal. “Kelangkaan” produk mereka harus dijaga supaya tetap eksklusif. Gila kan?
-
Planned Obsolescence: Produk elektronik didesain untuk cepat rusak atau melambat kinerjanya setelah periode tertentu. Lampu yang didesain putus setelah sekian ribu jam, atau baterai HP yang drop drastis setelah 2 tahun. Ini bukan “keterbatasan teknologi”, ini “strategi bisnis”.
-
Paradoks Pangan: Makanan dibuang ton-tonan di negara maju (food waste), sementara di belahan bumi lain ada kelaparan. Masalahnya bukan karena bumi tidak mampu menumbuhkan cukup gandum atau padi. Produksi pangan dunia itu faktanya cukup untuk memberi makan 10 miliar orang! Silahkan cek paper-nya.
Tapi kenapa masih ada yang kelaparan?
Jawabannya: Artificial Scarcity. Distribusi yang sengaja ditahan demi profit. Kalau dibagi gratis, harga pasar hancur.
Jadi, masalahnya bukan karena alam “pelit”, tapi karena distribusi yang rusak demi profit.
Ini bukan lagi sekedar masalah hitung-hitungan ekonomi, tetapi masalah Moral. Pantaskah kita membiarkan makanan membusuk di gudang hanya demi menjaga harga, sementara di tempat lain ada anak manusia yang mati kelaparan? Di mana letak kemanusiaan kita ketika profit “disembah” menjadi tuhan yang lebih penting daripada nyawa?
Dampak Mental: Otak Kita Jadi “Kalkulator Dagang”
Poin ini yang paling relate sama kehidupan kita sehari-hari, terutama buat generasi kita yang mesti serba hustle. Video ini membahas dampak psikologis dari doktrin kelangkaan.
Ketika kita hidup dalam bayang-bayang kekurangan, entah itu kekurangan uang (state of poverty) atau kekurangan waktu (busy trap), kapasitas otak (IQ) kita secara harfiah menurun.
Ada istilah namanya “Scarcity Mindset”. Fokus kita jadi menyempit (tunnel vision), cuma bisa mikirin solusi jangka pendek sperti “Besok makan apa?”, “Bayar cicilan pakai apa?”, “Uang saku untuk anak sekolah bagaimana?”. Akibatnya, kita jadi susah mikir panjang, gampang stres, dan terjebak solusi instan yang merugikan (seperti Pinjol atau judi online).
Lebih parahnya lagi, doktrin ekonomi ini mengubah cara pandang kita terhadap arti hidup. Kita jadi penganut paham Opportunity Cost yang ekstrem. Otak kita berubah jadi kalkulator dagang:
- “Kalau gue tidur siang 1 jam, gue rugi waktu produktif sekian rupiah.”
- “Kalau gue main sama anak atau nongkrong sama teman tanpa ngomongin bisnis, gue kehilangan kesempatan networking.”
Inilah akar dari Anxiety, Burnout, dan FOMO (Fear of Missing Out). Kita merasa bersalah kalau kita istirahat. Kita melihat waktu bukan sebagai ruang untuk hidup lagi, tapi sebagai aset yang harus diuangkan. Hubungan antar manusia pun jadi transaksional seperti bahasa “Apa untungnya teman ini buat karir gue nantinya?”.
Dan lagi, racun ini juga sudah menginfeksi dunia Pendidikan. Sekolah dan kampus hari ini tak ubahnya bisa jadi hanya sekedar training center korporat yang berkedok institusi akademis. Tujuannya bukan lagi memanusiakan manusia, tapi mencetak aset produksi. Pertanyaan mahasiswa bukan lagi “Ilmu ini bikin aku makin bijak nggak ya?”, tapi “Jurusan ini Return on Investment-nya cepet nggak ya?”.
Ditambah lagi dengan biaya sekolah/kuliah yang makin hari makin mahal dan tidak masuk akal. Ini semakin mempertegas bahwa pendidikan hari ini bukan lagi jadi hak asasi, melainkan termasuk komoditas dagangan mewah. Jadi wajar jika orientasi mereka lulus nanti adalah “Balik Modal” secepat-cepatnya.
Menyedihkan, tapi itulah realitasnya.
Pendidikan hari ini menurutku telah berubah menjadi pabrik massal pencetak “robot berdasi”. Kita kehilangan nalar kritis dan kemerdekaan berpikir, lalu dengan sukarela mereduksi diri sendiri menjadi sekrup kecil dalam mesin raksasa industri yang siap dibuang kapan saja jika ada sekrup lain yang lebih murah.
Kita seolah-olah dididik dengan sangat sistematis untuk menjadi budak sukarela. Budak yang patuh, yang selalu menjadi “Yes Man”, yang rela menukar kewarasan dan waktu hidupnya demi memperkaya bos-bos mereka, sambil gemetar ketakutan kehilangan rantai emas yang mengikat lehernya bernama Gaji Bulanan.
Jauh sekali jika dibandingkan dengan pendidikan di Era Keemasan Islam. Dulu, orang menuntut ilmu bukan untuk “melamar kerja”, tapi untuk mengejar Hikmah dan kebenaran. Institusi pendidikan kala itu tidak mencetak “sekrup industri”, tapi melahirkan yang bahasa hari ini disebut Polymath, yaitu manusia-manusia raksasa yang menguasai kedokteran, astronomi, filsafat, hingga sastra sekaligus.
Dulu, pendidikan itu untuk membebaskan jiwa dan meluaskan akal. Sekarang? Pendidikan cuma jadi alat untuk mencetak “Baterai” bagi mesin kapitalisme, yang nantinya akan dibuang ke tempat sampah saat dayanya sudah habis.
Dan sistem pendidikan inilah yang menjadi support system paling ampuh untuk melanggengkan kegilaan ini. Ia menanamkan chip di otak kita sejak dini bahwa segala sesuatu harus ada nilai uangnya.
Mengerikan? Ya. Karena kita sudah kehilangan esensi menjadi manusia merdeka hanya karena kita terlalu sibuk menghitung nilai untung-rugi.
Perspektif Alternatif: Solusi Ekonomi Islam
Lalu, apa solusinya? Apakah kita harus kembali ke zaman batu? Tentu tidak. Dalam video tersebut dia menjelaskan mengenai penawaran dalam perspektif Ekonomi Islam yang menurutku sangat masuk akal sebagai antitesis kapitalisme yang ugal-ugalan pada hari ini.
Ada perbedaan fundamental dalam cara pandang:
-
Membedakan Kebutuhan (Needs) vs Keinginan (Wants):
Kapitalisme seringkali menyamakan keduanya. “Aku butuh iPhone 16” dianggap sama validnya dengan “Aku butuh makan”.
Islam memisahkan dengan tegas. Kebutuhan (makan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya) itu sebenarnya terbatas. Perut ada batas kenyangnya, tubuh ada batas luasnya untuk pakaian. Tapi keinginan? Itu memang tak terbatas.
Fokus ekonomi Islam adalah menjamin pemenuhan kebutuhan dasar seluruh manusia, bukan melayani keinginan tanpa batas segelintir orang seperti yang terjadi pada hari ini dalam sistem kapitalisme. Keinginan boleh dipenuhi, tapi setelah kebutuhan dasar semua orang aman (konsep Fardhu Kifayah dalam konteks sosial).
-
Fokus pada Distribusi:
Islam memandang masalah utama ekonomi bukan pada kurangnya produksi (sebab Allah sudah menjamin rezeki di bumi ini cukup untuk semua makhluk-Nya), melainkan pada macetnya distribusi.
Dalam Al-Quran (Surah Al-Hashr: 7), Allah menjelaskan:
“Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
Untuk memastikan harta itu berputar, Islam punya mekanisme yang canggih dan tegas, contohnya:
-
Larangan Penimbunan (Ihtikar): Haram hukumnya menimbun barang kebutuhan pokok demi mendongkrak harga. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah menimbun barang kecuali orang yang berdosa” (HR. Muslim).
-
Larangan Riba: Riba adalah “lintah darat” ekonomi yang menyedot kekayaan dari yang miskin ke yang kaya tanpa produktivitas riil. Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah 275: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
-
Hukum Pertanahan: Tanah yang ditelantarkan lebih dari 3 tahun bisa diambil alih negara. Umar bin Khattab pernah berkata, “Orang yang memagari tanah tidak berhak (atas tanah itu) setelah (membiarkannya) tiga tahun.” Jadi, tidak ada cerita tanah nganggur cuma buat spekulasi properti.
-
Larangan Judi (Maysir) & Penipuan (Gharar): Menutup celah spekulasi yang membuat ekonomi tak ubahnya kasino. Dalam sistem ini, uang berpindah tangan tanpa ada nilai tambah (value) yang diciptakan. Islam melarang keras praktik “mencari untung di atas penderitaan orang lain” melalui ketidakpastian dan perjudian nasib.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 90).
-
-
Mekanisme Keadilan Sumber Daya: Sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak (air, energi/api, padang gembala/tambang) dalam Islam haram diprivatisasi secara mutlak. Itu harus milik umum (Public Goods), dikelola negara untuk rakyat. Bayangkan kalau air dikuasai swasta sepenuhnya dan dimahalkan demi profit? Itu yang terjadi sekarang. Selain itu, ada mekanisme Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf yang berfungsi sebagai pump agar harta bisa terus berputar, tidak hanya mengendap (menimbun) di brankas orang-orang kaya.
Penutup
Rasa cemas dan merasa “kurang” yang sering kita rasakan mungkin bukan sepenuhnya salah kita. Mungkin itu adalah hasil dari desain sistem tempat kita tinggal sekarang ini.
Ada kata pepatah yang pernah aku dengar:
Hidup itu sebenarnya sederhana, tapi kitalah yang bersikeras membuat sistemnya menjadi rumit.
Kita hidup di dunia yang setiap harinya sering dibisikan: “Kamu masih belum cukup. Kamu butuh barang ini supaya bahagia.”
Padahal, mungkin kebahagiaan itu ada pada rasa cukup (Qana’ah)🤔?
Seperti kata pepatah lagi juga, bahwa:
“Bahagia itu ada, karena ada batasnya.”
Jika keinginan kita tanpa batas, maka kita tidak akan pernah sampai pada titik “bahagia”, melainkan akan terus-menerus berlari untuk mengejar fatamorgana yang tak kunjung datang.
Satu hal yang sering aku coba ingatkan ke diriku sendiri setiap waktu adalah tentang konsep Qada dan Qadar. Aku sering merasa cemas memikirkan masa depan, padahal dalam keyakinanku, jatah rezeki itu sebenarnya sudah tertulis rapi bahkan sebelum kita lahir.
Menurut yang aku pahami, tugas kita hanyalah berikhtiar (berusaha) sebaik mungkin. Masalah hasil? Itu hak prerogatif Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pola pikir seperti ini, rasanya hidup jadi lebih tenang. Kita tidak perlu stres berlebihan saat gagal, dan tidak perlu sombong saat sudah berhasil.
Tapi jangan salah paham juga. Menolak konsumerisme bukan berarti kita harus anti-kemajuan atau hidup terbelakang.
Kita tetap wajib mengembangkan teknologi sepesat mungkin untuk mempermudah kehidupan umat. Zuhud itu adalah tentang lifestyle (gaya hidup) hati yang tidak diperbudak dunia, bukan behavior yang malas, menurut yang aku pahami. Kita tetap harus berinovasi, melakukan improvisasi, dan evaluasi terus-menerus, namun semuanya harus diimbangi dengan Takwa.
Sebagai bukti sejarah, ketika Eropa sedang tenggelam dalam masa kegelapan (Dark Ages), peradaban Islam justru sedang berada di puncak kejayaannya (Golden Age).
Kota-kota seperti Baghdad dan Cordoba menjadi pusat cahaya ilmu pengetahuan dunia. Bukan karena mereka rakus menumpuk harta, tapi karena mereka haus akan ilmu pengetahuan sebagai jalan mengenal Tuhan. Mereka membangun perpustakaan raksasa, rumah sakit gratis, dan observatorium canggih, bukan mall atau pusat belanja yang konsumtif. Ini bukti bahwa kita bisa maju tanpa harus kehilangan jiwa.
Islam menawarkan konsep hidup sederhana. Kesederhanaan inilah yang menjadi benteng yang menghalangi kita dari eksploitasi alam yang berlebihan. Hidup harus berporos pada keseimbangan antara ibadah dan urusan dunia.
Dengan menciptakan norma sosial yang terjaga dan hukum yang jelas, kita bisa menciptakan Kestabilan dan Kemajuan di saat yang sama. Bukan kemajuan semu yang rapuh seperti sekarang.
Di titik inilah sering terjadi kesalahpahaman. Karena kritikku yang tajam terhadap status quo, seringkali muncul asumsi bahwa aku berkiblat pada ideologi perlawanan tertentu.
Meskipun di tulisan-tulisanku sebelumnya aku memang sering terdengar “pro-kiri” dalam mengkritik ketimpangan, namun pada dasarnya aku percaya bahwa Islam-lah satu-satunya jalan yang paling baik dan benar.
Sebagai seorang Muslim dari sejak lahir, aku mengimani bahwa Islam bukan sekedar “alternatif”, tapi satu-satunya sistem yang sesuai dengan fitrah manusia dan alam semesta. Sistem yang dirancang langsung oleh Pencipta manusia, yang paling tahu apa yang terbaik untuk ciptaan-Nya sebagai khalifah di bumi ini.
Dalam video tersebut ditutup dengan kalimat yang cukup bagus:
Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia, tapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang pun.
Buat yang penasaran detailnya, aku sarankan tonton langsung videonya. Mudah-mudahan bisa membuat eye and mind-opening.
Semoga tulisan ini juga bisa jadi pengingat bagi kita semua khususnya untuk diriku pribadi sendiri, pemantik diskusi atau setidaknya refleksi kecil di tengah riuhnya dunia yang memaksa kita terus berlari ini.
Dan perlu diingat, aku menulis ini bukan karena merasa paling suci atau paling benar, karena aku sendiri bukanlah Ustadz apalagi seorang Nabi. Aku hanyalah seorang pembelajar fakir ilmu yang sedang berusaha memperbaiki diri, yang selalu ingin menjadi lebih baik lagi setiap harinya, yang juga masih sering jatuh bangun menata hati dan diri di tengah gempuran sistem yang ada saat ini.
Semoga bermanfaat dan…
Salam Pengembara 👋
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.