
Menjelajah 11 Spektrum Cinta menurut orang Yunani Kuno
/ 12 min read
Table of Contents
Ada satu kata yang mungkin paling sering diucapkan, dinyanyikan, dituliskan, dan diperdebatkan sepanjang sejarah umat manusia yaitu, cinta. Dari puisi-puisi kuno, caption di Instagram hingga lirik lagu pop murahan, semuanya berlomba-lomba untuk mendefinisikannya.
Sayangnya, di zaman modern ini, makna cinta sering kali dikerdilkan. Kita kebanyakan masih terjebak dalam definisi yang sempit dan dangkal. Bagi banyak orang, cinta hanyalah sebatas romansa, rasa saling suka antar dua sejoli saja, serta bunga dan cokelat pada hari tertentu, atau mungkin rasa debaran jantung yang tak menentu di dada. Padahal, mereduksi cinta hanya pada aspek romantis saja sama absurdnya dengan mengatakan bahwa seluruh spektrum warna pelangi itu hanya terdiri dari warna merah saja.
Tapi pernahkah kita berpikir, apakah satu kata itu cukup untuk mencakup seluruh kompleksitas perasaan yang selalu kita alami?
Ada masa di mana aku juga pernah merasakan cinta, bukan hanya dalam bentuk romantis saja, tapi dalam banyak hal yang dimana kata-kata saja sulit untuk menggambarkannya. Ada masa di mana aku merasa cinta pada pekerjaan dan bidang yang kulakukan, pada dunia pertemanan dan kehidupan sosial, bahkan pada kebaikan orang asing yang tidak tahu siapa yang pernah menolongku di jalan. Rasanya berbeda-beda, tapi bahasa Indonesia (dan banyak bahasa modern lainnya) masih terpaku pada arti cinta yang terdempet pada arah romantisme saja.
Lalu aku menemukan bahwa orang-orang Yunani Kuno ternyata sudah lama sadar akan keterbatasan ini. Mereka tidak melihat cinta sebagai satu titik tunggal saja, melainkan sebagai sebuah ekosistem. Sebuah spektrum warna yang jauh lebih kaya daripada yang kita bayangkan selama ini.
Aku disini bukanlah sebagai seorang filsuf sejati nan bijaksana, tapi hanya seorang yang ingin membagi pikirannya bersama bahwa definisi dari cinta itu sebenarnya luas.
Mari kita bahas bersama-sama.
Eros: Cinta Erotis & Estetika
Kalau pernah merasakan jantung berdebar kencang saat pertama kali melihat seseorang, atau tiba-tiba merasa “ada chemistry” yang sulit dijelaskan, itu adalah Eros. Bukan sekedar nafsu (walaupun sering disalahartikan demikian juga), Eros sejatinya adalah kerinduan akan keindahan.
Plato berpendapat bahwa Eros dimulai dari ketertarikan fisik. Ya, memang begitu. Kita tertarik pada wajah, cara bicara, atau bahkan cara seseorang tertawa. Tapi menurut Plato, jika Eros ini dikelola dengan nalar dan tidak dibiarkan liar begitu saja, ia akan naik tingkatannya. Dari ketertarikan pada tubuh, menjadi ketertarikan pada jiwa. Dari jiwa, naik lagi menjadi ketertarikan pada ide-ide dan keindahan universal.
Eros sering dijadikan sebagai bahan bakar bagi kreativitas. Berapa banyak puisi, lagu, lukisan, dan karya sastra besar yang lahir dari gejolak Eros ini? Mungkin kita sendiri pernah mengalaminya, seperti menulis sesuatu sampai larut malam hanya karena terinspirasi oleh seseorang yang membuat kita merasa “hidup”.
Tapi ada resikonya juga.
Karena sifatnya yang impulsif dan menggebu-gebu, Eros itu bisa padam secepat ia menyala. Seperti api unggun yang menyala besar di malam pertama, tapi tinggal abu keesokan paginya jika tidak dijaga. Eros butuh dukungan dari elemen cinta lainnya terutama Philia dan Pragma (yang akan dibahas selanjutnya) agar bisa bertahan lama.
Contoh konkretnya: Rasa gairah yang membuat seseorang untuk menulis puisi sepanjang malam untuk orang yang dicintainya. Atau dorongan magnetis saat pertama kali bertemu dengan seseorang yang rasanya “satu frekuensi”, seolah-olah sudah kenal dari kehidupan sebelumnya.
Philia: Cinta Persahabatan Intelektual
Kalau Eros adalah api yang menyala cepat, maka Philia bisa diibaratkan api perkemahan yang hangat dan stabil. Aristoteles bahkan menganggap Philia lebih berharga daripada Eros. Kenapa? Karena menurutnya, Philia melibatkan pilihan sadar dan kebajikan.
Kita tidak jatuh ke dalam Philia seperti “jatuh cinta” dalam Eros. Philia adalah sesuatu yang dibangun, dipupuk, dan dijaga dengan kesadaran penuh.
Philia adalah cinta antara dua orang yang merasa setara. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Ini adalah “cinta tanpa topeng”.
Di dalam Philia, kita mencintai seseorang karena karakternya, karena siapa dia sebagai manusia, bukan karena apa yang bisa dia berikan pada kita secara fisik atau materiil.
Aristoteles sendiri membagi Philia menjadi tiga sub-kategori:
- Philia berbasis kesenangan: contohnya berteman karena sama-sama suka nongkrong atau punya hobi yang sama.
- Philia berbasis manfaat: contohnya berteman karena saling menguntungkan (networking, kolega kerja)
- Philia berbasis kebaikan bersama: contohnya berteman karena saling menghargai karakter dan kebajikan dari masing-masing
Yang ketiga itu langka menurutku, tapi kalau kita menemukannya, jagalah baik-baik.
Contoh konkretnya: Hubungan antara dua pemikir yang bisa berdebat sengit berjam-jam misalnya yang membahas tentang politik, filsafat, atau bahkan film, tapi sama sekali tidak ada rasa benci atau dendam setelahnya. Atau juga sahabat lama yang sudah jarang bertemu karena jarak dan kesibukan, tapi begitu ketemu lagi, rasanya seperti tidak pernah berpisah.
Storge: Cinta Afeksi dan Kekeluargaan
Storge adalah cinta yang paling stabil dan paling tidak menuntut. Storge tumbuh pelan-pelan, bahkan tanpa kita sadari. Kalau Eros butuh kebaruan dan kejutan untuk tetap hidup, Storge justru tumbuh subur dalam rutinitas dan keakraban.
Aku menyebutnya perasaan “pulang ke rumah”.
Storge adalah cinta yang bersifat protektif. Kita ingin menjaga, melindungi, dan memastikan orang yang dicintai baik-baik saja. Tidak ada drama, tidak ada gejolak, tetapi ada kehangatan yang konstan.
Yang menariknya dari Storge, cinta ini sering kali tidak disadari sampai objek cintanya hilang atau pergi. Baru ketika orang yang kita cintai/sayangi sudah tidak ada, kita baru benar-benar merasa betapa besar cinta yang selama ini diam-diam ada di sana.
Storge juga bisa berlaku untuk hal-hal di luar keluarga biologis. Kita bisa merasakan Storge pada sahabat lama yang sudah seperti saudara. Pada guru yang selalu membimbing kita selama bertahun-tahun. Bahkan pada hewan peliharaan yang sudah menjadi bagian dari keluarga kita.
Contoh konkretnya: Rasa aman seorang anak saat berada di dekat orang tuanya, tanpa perlu kata-kata atau penjelasan. Atau kasih sayang seseorang terhadap kucing atau anjingnya yang sudah bertahun-tahun menemani hari-harinya.
Agape: Cinta Universal dan Altruisme
Kalau kita pernah mendengar ungkapan “cinta tanpa syarat”, itulah Agape. Ini adalah bentuk cinta yang paling transenden, cinta yang melampaui batas-batas kepentingan diri sendiri.
Agape tidak peduli apakah objek cintanya menyenangkan atau tidak. Tidak peduli apakah dia cantik, kaya, pintar, atau berguna bagi kita. Agape adalah keputusan sadar untuk mengasihi demi kesejahteraan orang lain, tanpa mengharapkan balasan apa pun.
Dalam tradisi orang Kristen, Agape sendiri sering dikaitkan dengan cinta Tuhan mereka kepada manusia. Sebuah cinta yang diberikan bukan karena manusia pantas menerimanya, tapi karena sifat cinta itu sendiri.
Tapi Agape tidak selalu dalam konteks religius. Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari juga.
Contoh konkretnya: Seorang dokter yang memilih bekerja di daerah konflik (misalnya di Gaza, Palestina) dengan resiko nyawanya, bukan demi uang atau pujian, tapi karena dia merasa terpanggil untuk menolong sesama manusia. Atau seseorang yang memaafkan musuh yang pernah menyakitinya dengan sangat dalam, bukan karena musuh itu minta maaf, tapi karena dia memilih untuk melepaskan beban kebencian itu.
Agape membutuhkan kekuatan besar, aku akui itu. Tidak semua orang mampu mencapainya. Tapi mungkin itulah puncak dari cinta yang sebenarnya.
Ludus: Cinta yang riang gembira
Tidak semua cinta harus berat dan serius. Orang Yunani kuno memahami bahwa ada elemen kesenangan dan permainan dalam cinta yang justru membuatnya menjadi tetap hidup.
Ludus adalah tentang “kesenangan saat ini” tanpa beban masa depan. Ini adalah fase-fase awal dalam hubungan di mana semuanya terasa ringan, penuh tawa, dan menyenangkan. Tidak ada commitment yang berat, tidak ada ekspektasi yang muluk-muluk. Hanya dua orang yang sedang menikmati kebersamaan mereka.
Banyak orang yang menganggap Ludus dengan sepele atau tidak matang. Tapi sebenarnya, Ludus adalah bumbu yang penting agar hubungan tidak terasa kaku atau membosankan. Pasangan yang sudah menikah puluhan tahun pun butuh Ludus agar hubungan mereka tetap segar.
Contoh konkretnya: Pasangan suami-istri yang masih suka bermain game bareng di malam minggu, saling mengejek saat kalah, dan tertawa lepas bersama dan semacamnya.
Ludus mengingatkan kita bahwa cinta iyu tidak harus kelewat selalu serius. Kadang, cinta itu ya sekedar bersenang-senang bersama 😊.
Pragma: Cinta Pragmatis yang Matang
Kalau Eros adalah api yang membara, Pragma adalah bara yang tetap hangat dalam waktu lama. Ini adalah bentuk cinta yang telah “matang”, yang sudah melewati berbagai badai dan masih memilih untuk terus bertahan.
Pragma adalah cinta yang rasional. Bukan berarti tidak ada perasaan disitu, tetapi perasaan itu sudah terintegrasi dengan logika dan komitmen jangka panjang.
Ini tentang kompromi, toleransi, dan kesabaran.
Dalam Pragma, kita sudah mengenal dekat semua kekurangan dari pasangan misalnya. Kita tahu bagaimana dia saat sedang kesal, saat lelah, saat frustasi. Kita sudah melewati ribuan argumen dan pertengkaran. Dan setelah semua itu, kita tetap memilih untuk bangun setiap pagi di sampingnya.
Pragma bisa dibilang pilihan yang selalu terperbarui setiap harinya.
Contoh konkretnya: Pasangan lansia yang selalu berduaan dan saling memegang tangan di kursi taman. Mereka tidak lagi berbicara banyak, tapi ada pemahaman mendalam yang tidak perlu diucapkan. Mereka sudah melewati begitu banyak hal bersama-sama dan memilih untuk tetap bersama sampai akhir hayatnya.
Philautia: Cinta Diri
Ini mungkin fondasi dari semua bentuk cinta lainnya. Tanpa Philautia yang sehat, cinta-cinta lain akan menjadi rusak atau terdistorsi.
Tapi Philautia punya dua wajah:
-
Versi Sehat: Menghargai harga diri sendiri. Menjaga kesehatan mental. Mampu berkata “tidak” pada hal-hal yang merugikan diri sendiri. Ini yang sering disebut sebagai self-compassion atau self-respect. Ini bukan egois, tetapi sadar bahwa kita juga layak untuk dicintai, termasuk oleh diri kita sendiri.
-
Versi Berbahaya: Narsisme. Ketika mencintai diri sendiri berubah menjadi memuja diri sendiri dan merendahkan orang lain. Ketika semua hal harus berputar di sekelilingnya. Ini bukan lagi Philautia yang sehat, tapi sudah menjadi penyakit.
Aku sendiri pernah menulis tentang NPD (Narcissistic Personality Disorder) ini di tulisan yang lain, di sana aku membahas lebih dalam tentang batas tipis antara percaya diri yang sehat dengan narsisme yang merusak.
Contoh konkretnya: Berani berkata “tidak” pada hubungan yang toksik demi menjaga kesehatan mental. Atau meluangkan waktu untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah, karena kita tahu bahwa untuk bisa mencintai orang lain, kita harus mengisi gelas diri sendiri dahulu.
Mania: Cinta Obsesif
Mania… kita mungkin sering mendengar kata tersebut. Ini adalah sisi gelap dari cinta. Mania sering kali muncul ketika terjadi ketidakseimbangan antara Eros dan Philautia. Ketika gairah menggebu-gebu bertemu dengan harga diri yang rendah, hasilnya adalah obsesi.
Misalnya seseorang yang terperangkap dalam Mania itu merasa bahwa identitasnya tergantung sepenuhnya pada pasangan. Tanpa pasangan, dia merasa kosong, tidak berharga, tidak punya arti hidup. Hal ini menciptakan siklus yang berbahaya seperti kecemburuan berlebihan, ketakutan irasional akan kehilangan, dan kadang bahkan manipulasi.
Mania sering disalahartikan sebagai “cinta yang dalam” atau “cinta sejati”. Padahal bukan. Mania adalah cinta yang sakit, yang butuh disembuhkan.
Dan ingat, Mania tidak hanya terbatas pada hubungan romantis saja. Kita bisa melihat bentuk Mania dalam obsesi berlebihan terhadap idola (misalnya fans fanatik yang merasa memiliki idolanya), hobi yang menghancurkan keuangan, atau bahkan kecanduan kerja yang sampai mengikis kehidupan sosial. Intinya adalah hilangnya kontrol diri demi objek yang dicintai.
Contoh konkretnya: Seseorang yang terus-menerus mengecek ponsel pasangannya karena rasa tidak aman yang akut. Atau seorang fans yang rela melakukan hal-hal ekstrem dan irasional demi idola yang dipuja-pujanya.
Kalau kita merasakan tanda-tanda Mania dalam diri, mungkin ini sudah saatnya untuk mundur sejenak dan bertanya: apakah ini cinta, atau ketergantungan?
Xenia: Cinta pada Orang Asing (Hospitalitas)
Ini bukan nama merk kendaraan. Ini adalah konsep yang mungkin saja masih asing bagi kita yang hidup di zaman modern, tetapi dulu sangat penting sekali dalam peradaban Yunani Kuno.
Xenia adalah hukum moral yang mewajibkan seseorang untuk menunjukkan kebaikan dan kasih kepada tamu atau orang asing. Di dunia kuno yang penuh ketidakpastian, seorang pelancong atau musafir bisa saja kehabisan bekal di tengah perjalanan. Xenia memastikan bahwa di mana pun dia berada, ada orang yang bersedia memberinya tempat berteduh dan makanan.
Ini adalah bentuk dari cinta sosial. Cinta yang melampaui batas-batas kenalan dan keluarga.
Contoh konkretnya: Memberikan tumpangan atau bantuan kepada pengelana yang bannya bocor di tengah jalan, tanpa rasa curiga atau mengharapkan imbalan. Atau menyambut tamu dengan hangat, meskipun kita baru pertama kali bertemu dengannya.
Di zaman sekarang, Xenia mungkin terasa naif atau bahkan berbahaya. Tapi esensinya menurutku masih tetap relevan karena ada kebaikan dalam memperlakukan orang asing dengan martabat dan kebaikan hati kita.
Ananke: Cinta karena Keharusan atau Takdir
Ananke adalah cinta yang “berat”, yang tidak bisa dijelaskan oleh logika maupun keinginan sadar.
Kita mungkin merasa terikat dengan seseorang, bukan karena kita memilih demikian, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar yang mengikat. Mungkin sejarah yang terlalu dalam. Mungkin takdir yang memaksa untuk terus bersama, meskipun hubungan itu kadang terasa sulit.
Ananke sering kali ambigu. Bisa menjadi hal yang indah (dua orang yang merasa “ditakdirkan” untuk bersama), tapi juga bisa menjadi beban (hubungan yang seharusnya berakhir tapi tidak bisa diputus karena ikatan yang terlalu kuat).
Contoh konkretnya: Hubungan antara dua orang yang sebenarnya sering saling menyakiti, namun tidak bisa benar-benar berpisah. Ada ikatan batin atau sejarah yang terlalu kuat untuk diputus begitu saja. Mereka terus kembali, meskipun akal sehat berkata seharusnya berhenti.
Meraki: Cinta melalui Dedikasi pada Karya
Meraki sebetulnya bisa dibilang istilah yang ada pada Yunani modern, tetapi akarnya tetap berasal dari tradisi yang sama. Meraki berarti menuangkan seluruh diri ke dalam apa pun yang kita lakukan.
Ini adalah cinta yang diarahkan pada aktivitas atau penciptaan. Ketika seorang seniman melukis dengan Meraki, dia meninggalkan jejak jiwanya pada kanvas. Ketika seorang penulis menulis dengan Meraki, setiap kalimat mengandung sebagian dari dirinya. Seperti penulis dari blog ini hehe 😁.
Aku rasa, sebagai seseorang yang suka menulis dan coding, aku cukup familiar dengan konsep ini. Ada saat-saat di mana pekerjaan bukan lagi sekedar tugas, tetapi sudah menjadi ekspresi dari diri sendiri. Ada kepuasan mendalam ketika kita tahu bahwa karya itu mencerminkan siapa kita sebenarnya.
Contoh konkret: Seorang penulis yang menulis setiap kalimatnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah hidupnya bergantung pada kejelasan kata-kata tersebut. Atau seorang programmer yang menulis kode bukan sekedar untuk berfungsi saja tanpa error, tapi juga untuk menjadi indah dan elegan.
Refleksi
Aku sendiri masih merasa bahwa selama ini aku masih terlalu fokus pada beberapa jenis cinta tertentu saja (mungkin Philia, Philautia dan Meraki), tapi kurang memperhatikan yang lainnya juga. Mungkin aku juga perlu belajar lebih banyak tentang jenis-jenis cinta lainnya.
Yang jelas, memahami bahwa cinta itu bukan satu hal tunggal membuat segalanya terasa lebih lega.
Bagiku, mencintai bukanlah tentang menemukan satu orang yang bisa memahami secara mendalam semua 11 daftar elemen tersebut, tetapi tentang bagaimana kita bisa belajar menempatkan setiap kepingan puzzle perasaan tersebut pada tempatnya yang tepat.
Perjalanan untuk memahami 11 spektrum ini bukan untuk menghakimi diri sendiri, melainkan sebagai peta saja. Peta untuk memahami landscape jiwa kita yang ternyata jauh lebih luas dari sekedar “aku suka kamu” saja.
Penutup
Cinta itu bukan satu kata. Cinta itu ekosistem. Dan menjelajahinya adalah perjalanan seumur hidup kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat, atau setidaknya bisa memberikan bahan renungan di sela-sela kesibukan kita.
Sampai bertemu di catatan-catatan terpencilku yang lainnya.
Salam Pengembara 👋
Referensi
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.