Rapku, Suaraku: tentang Mi Rap, inspirasi, dan pesan
/ 14 min read
Updated:Table of Contents
Intro
Pada pembahasan kali ini kita tidak akan membahas perihal yang dalem-dalem lagi. Di segmen tulisan ini aku ingin membahas lagu Rap ku yang sudah lama (3 tahun yang lalu) aku buat. Walaupun terbilang amatir ya lumayan lah ini sebagai bentuk keresahan sendiri pada waktu itu. Biasanya aku menyuarakan isi kepala lewat tulisan seperti biasanya, tetapi kali ini melalui seni musik juga.
Tadinya lagi rehat ngoding, eh malah kepikiran mau nulis blog lagi… Pas mau nulis malah bingung, gak papa lah daripada scroll Fesnuk. Mau lanjutin draft lama yang belum beres, bahasannya terlalu berat, nggak cukup 2 jam, udah aja bahas musik biar enjoy yagaya…
Sebelum maju ke segmen selanjutnya, mari kita dengarkan dulu lagu rap ku yang amatir itu 😂
Let’s go…
LinuxRanger - Mi Rap
Lirik:
[hook]
Burn the hole
Jump with the pole
Prepare your soul
Cause I Rap with my own flow
I’m from the westbound
Crank up the sound
My lyrics is a weapon
Stronger than nuclear fusion
Burn the hole
Jump with the pole
Prepare your soul
Cause I Rap with my own flow
West side South side
A B C D E F G
Wherever you are
Spread one love and unity
[verse 1]
Selekta putar riddim dengan volume keras
Kumulai toasting dengan lirik yang ganas
Para pendengar bergoyang dengan nikmat dan lepas
Penuhi lantai dansa hingga sesakan nafas yo
Pertama-tama mulai cari beat yang gratisan
Walau pasaran terpenting gak pakek cuan
Gak perlu Fiverr untuk hire producer
Akalin aja biar otak tambah pinter
Ku cari lirik tentang kabar di dunia
Dari mulai Jakarta hingga Korea Utara
Tetapi berita sama dimana pun saja
Tentang rakyat menderita sejak COVID melanda
Blok timur Blok barat berlomba pasok senjata
Yang tak berdosa menjadi korban genosida
Hitler dan Nazi untung tidak jadi berjaya
Entah yang terjadi kalau mereka naik takhta
Pendiri negeri ini pernah berkata
Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa
Tetapi penjajahan masih ada hingga sekarang
Seperti Palestina hari ini masih perang
Put the sound system inna large area
let the illuminati hear from all of ya
I’m not Jamaican I’m from Indonesia
But I’ma rapping in the style of Ragga
[verse 2]
Cobalah dengar rimaku dengan seksama
Walau bukan puisi kucoba tuk lebih bermakna
Pancasila dasar negara Indonesia
Yang merdeka 17 Agustus 45
Pertahankan yang tlah para pahlawan perjuangkan
Sampai akhir hayat titik darah penghabisan
Para penerus bangsa janganlah engkau kecewakan
Apa yang nenek moyang kita cita-citakan
Melawan kompeni dengan bambu runcing
Tanpa rasa takut usir musuh terkencing-kencing
Ku tak mengada-ngada bukan joke murah nan garing
Kisah nyata pahlawan usir penjajah asing
350 tahun kita telah terjajah
Asal kau tahu saja kita pernah dipandang rendah
Dicuri bahan pangan semua rempah-rempah
Karena tanah kita subur harus pintar-pintar mengolah
Wahai semua para muda-mudi
Coba sadar jangan terus party-party
Kita penerus bangsa penduduk negeri ini
Agar selamat sentosa anak cucu nanti
Kurangkai kata tuk bakar semangat jiwa
Bukan tanpa alasan bukan juga asal-asalan
Kucoba ingatkan pahlawan dan semua jasanya
Pendahuluan
Lagu berjudul Mi Rap ini sebenarnya sudah aku buat sejak tiga tahun yang lalu (sejak 2022). Mungkin bagi sebagian orang, waktu selama itu sudah cukup untuk melupakan karya yang pernah diciptakan. Tapi bagiku, Mi Rap bukan sekedar lagu biasa, ia adalah sebuah bentuk ekspresi, sebuah jalan alternatif untuk menyuarakan isi kepala dan hati, yang mungkin tidak selalu bisa tertampung dalam bentuk tulisan seperti biasanya.
Tulisan ini aku buat sekarang setelah tiga tahun berlalu lagunya mengudara. Bukan karena mendadak ingin viral atau sedang mencoba “come back” ke dunia musik ciah comeback… Tapi lebih ke merasa ingin aja sih. Ingin memberi sedikit ruang untuk merefleksikan proses di balik lagu ini. Kenapa aku membuatnya? Apa isi pesannya? Dan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan lewat lirik-lirik yang kutulis dan kunyanyikan?
Biasanya aku menulis dalam bentuk blog atau catatan panjang. Tapi ketika saat itu membuat Mi Rap, aku mencoba jalan yang berbeda yaitu musik. Lebih tepatnya, rap, yang kemudian kucampur dengan nuansa Reggae, Ragga, dan Dancehall.
Apa bedanya Reggae, Ragga sama Dancehall?
Reggae, ragga, dan dancehall adalah tiga genre musik asal Jamaika yang punya akar yang sama tapi berkembang dengan ciri khas berbeda. Reggae identik dengan irama santai, ritme “offbeat” yang khas, serta lirik yang sering membahas kedamaian, spiritualitas, dan perlawanan. Ragga (atau raggamuffin) adalah turunan dari reggae yang lebih digital dan cepat, sering digunakan untuk toasting atau rap versi Jamaika. Sementara itu, dancehall punya tempo yang lebih enerjik dan ritmenya lebih “nendang”, sering jadi musik utama di pesta dan klub. Ketiganya saling terkait dan mirip-mirip tapi punya warna tersendiri, baik dari segi produksi musik maupun pesan yang dibawa. Rapku tersebut mungkin bisa dibilang lebih ke Reggae (tepatnya Roots Reggae) tapi dari segi gaya “nyanyi” lebih ke seperti Raggamuffin. Simpelnya aku nge-rap ala gaya/style rap orang Jamaika dengan musik Reggae sebagai latar pengiringnya.
Genre-genre ini bukan cuma sekedar selera musik bagiku, tapi juga sarana untuk mengangkat berbagai pesan sosial dan keresahan yang aku rasakan. Musik seperti ini punya energi, punya getaran yang khas, dan bisa menjangkau banyak orang dengan cara yang lebih langsung.
Kenapa tidak Hiphop?
Kebetulan aku pribadi sendiri lebih suka Rap-rap ala Jamaika seperti itu, entah, terasa seperti ear-catching saja ditelingaku, jadi ya begitu akhirnya. Ahahaha…
Latar Belakang
Lagu Mi Rap ini lahir dari sebuah proses yang sangat organik dan DIY alias Do-It-Yourself. Semuanya bermula dari sebuah riddim (sebutan dalam dunia reggae untuk beat instrumental yang biasa digunakan berulang kali oleh banyak artis). Aku sendiri memakai Real Rock Riddim, salah satu riddim klasik dari Jamaika yang sudah dipakai sejak zaman bahela dan tetap relevan sampai sekarang, bahkan ada yang sampai me-remake nya hingga hari ini seperti Riddim yang aku pakai itu. Waktu pertama kali denger, nuansanya ya langsung bikin ngerasa “semangat, enjoy, dan pengen ngerap aja.” Real Rock Riddim itu ibarat panggung terbuka yang menantang siapa aja untuk tampil dan menyuarakan isi hati, kepala dan melalui mulutnya. Aihh… kelas…
Ini adalah Real Rock Riddim dari Sound Dimensions:
Dari sana aku mulai nulis lirik. Seperti banyak karya seni lainnya, lirik-liriknya juga lahir dari keresahan. Keresahan soal kondisi dunia, konflik yang gak pernah reda, pandemi COVID-19 yang sempat buat dunia seperti jungkir balik, hingga soal nasionalisme dan semangat perjuangan yang menurutku perlu terus dihidupkan. Beberapa baris bahkan langsung terinspirasi dari berita harian, sejarah, dan juga realitas sosial di sekeliling kita. Jadi, liriknya gak sekedar main-main sih sebetulnya, tapi juga membawa pesan dan refleksi.Proses rekamannya juga sangat sederhana. Aku rekam semuanya di kamar, cuma pakai mikrofon condenser USB dan laptop. Untuk software, aku pakai BandLab, sebuah DAW (Digital Audio Workstation) berbasis online yang gratis tapi cukup powerful buat ukuran indie atau amatir. Semua mixing-mixing dasar juga aku lakukan sendiri di sana. Nggak pakai studio mahal-mahal, nggak pakai jasa produser profesional juga. Semuanya serba mandiri. Kurang Punk apa aku inih :v
Soal judul kenapa Mi Rap?
Itu sebenarnya plesetan dari “My Rap”. Tapi aku sengaja pakai “Mi”, terinspirasi dari bahasa Jamaican Patois yang sering mengganti “my” jadi “mi”. Seolah-olah seperti ada kesan etnik, rebel, dan otentik di situ. Aih ngeriii. Intinya aku pengen bilang, “Ini loh, Rapku, versiku sendiri, dengan gaya dan suara yang aku pilih sendiri.”
Soal pengaruh musik, banyak banget yang membentuk selera dan gaya flow rapku sebenarnya. Dari Indonesia, aku sangat terinspirasi dengan lagu-lagunya Ras Muhamad, rapper dan reggae ambassador Indonesia yang lirik-liriknya kuat secara pesan, dan berani pakai bahasa Indonesia dalam konteks musik global. Dari Jamaika, ada nama-nama seperti Alborosie, Damian Marley, Terry Ganzie, Sean Paul, Barrington Levy, dan Ini Kamoze yang gaya vokal dan ritmenya sangat mempengaruhi gaya flow-ku. Tapi kalau ditanya siapa yang paling membekas, mungkin Ras Muhamad dan Alborosie. Ras Muhamad karena kedekatan kultur dan bahasa, Alborosie karena flow-nya yang smooth tapi tetap bertenaga, dan pemilihan musiknya yang pas menurutku.
Ada 2 lagu dari Ras Muhamad, 1 lagu dari Alborosie dan beberapa lainnya yang sering aku dengarkan dan aku suka dari mulai flow, lirik dan musiknya.
Ras Muhamad - Musik Reggae ini.
Mungkin dari kita menyangka lagu tersebut hanya terdengar seperti menyanyi saja tetapi pada dasarnya Ras Muhamad sebenarnya menggunakan flow rap ala Raggamuffin Jamaika di lagu tersebut.
Selanjutnya… Ras Muhamad - Emansipasi
Dan masih banyak lagi lagu lainnya. Khususnya album Ras Muhamad yang Salam, semua isi lagunya aku suka bangeeet coy…
Selanjutnya… Alborosie - Real Story
Entah kenapa aku suka saja dan langsung jatuh hati ketika dulu pertama kali mendengar flow dari lagu ini.
Pengen denger yang lebih klasikan Dancehall?
Oke aku kasih nih dari Terry Ganzie judulnya Mi Gun Talk
Mau lagunya yang lebih ke anak skena?
Ada… dari Sister Nancy yang judulnya Bambam
Ada yang nyangka mungkin cuman Reggae biasa padahal lagu tersebut juga termasuk sebagai Dancehall.
Raggamuffin tapi campur Metal ada nggak?
Ada! contohnya band Skindred. Mereka mencampurkan musik metal (Nu Metal tepatnya) dengan Raggamuffin ala Jamaika.
Nge-rap sambil scream gokil sih.
Ada 2 lagu favorit yang aku sering dengar dari Skindred, yang pertama Kill The Power dan Warning.
Ada satu lagi yang aku sering dengarkan, lagu ini cukup berkesan bagiku karena liriknya yang memang explicit sebenarnya, makannya jika kita dengar lagu ini itu ada dua versi, versi sensor dan explicit. Tema di dalam lagu ini mengangkat tentang isu-isu negatif yang ada di Jamaika. Seperti kemiskinan ekstrem, kekerasan geng, korupsi, politik, dan ketidaksetaraan sosial di Jamaika. Makannya lagu ini menuai kontroversi dan hampir dicekal di beberapa stasiun radio di Jamaika saat awal perilisannya. Judulnya Welcome To Jamrock dari Damian Marley (anak dari Bob Marley)
Bahas lirik
Kita masuk ke pembahasan lirik, tidak semua, hanya sebagian saja. Lirik tersebut ditulis bukan semata-mata untuk pamer rima atau permainan kata, tapi sebagai wadah ekspresi dari keresahan yang sudah lama mengendap di dalam kepala. Lagu ini mencoba menyampaikan beberapa pesan penting yang menurutku layak terus diingat, diulang, dan dibagikan.
Bagian hook lagu dibuka dengan semangat membara:
Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang bisa punya cara sendiri untuk bersuara, dan bagiku, flow rap adalah jalannya. Ada semacam deklarasiku tentang pentingnya orisinalitas, bahwa aku sedang mecoba untuk tidak meniru siapa pun, tapi sedang mengekspresikan diri dengan caraku sendiri. Lirik ini juga mengandung semangat “DIY rebellion”, semacam sikap bahwa kita tidak perlu tunggu fasilitas ideal untuk menyuarakan keresahan. Bahkan hanya dengan beat gratisan, DAW free trial dan semangat penuh, suara kita bisa saja mengguncang.
Buatku, bagian ini seperti sebuah salam damai. “West side” dan “South side” bukan cuma arah mata angin, tapi bisa kita maknai sebagai simbol lokasi siapa pun, baik dari negara barat, selatan, timur atau utara. “A B C D E F G” hanya semacam ungkapan ringan yang menyiratkan bahwa dari hal sederhana seperti huruf abjad saja kita bisa membangun pesan bersama, dan yang paling penting adalah pesan akhirnya jelas yang jelas yaitu Spread one love and unity. Lagu ini ingin membawa semangat persatuan, bukan hanya antarwarga negara, tapi antarumat manusia. Setelah semua keresahan dan sejarah kelam, harapan tetap ada yaitu satu cinta dan persatuan.
Di bagian awal verse, nuansa Reggae-Dancehall mulai terasa, baik dari flow maupun isinya:
Aku mencoba mengangkat suasana pesta, dansa, dan semangat ala lirik-lirik Dancehall, tapi hanya sebagai pintu masuk saja dengan toasting ala-ala Jamaika. Selekta itu seperti seorang DJ jika di Amerika, hanya di Jamaika sering disebut sebagai Selekta (Selector/orang yang memilih piringan hitam untuk diputar), seolah-olah aku menyuruh seorang Selekta agar memutar riddim yang enak hingga semua orang bisa bersuka ria bersama.
Setelah itu, lirik segera bergeser ke isu-isu sosial yang lebih dalam:
Bagian ini adalah refleksi atas berita-berita yang aku baca waktu itu, pasca COVID 19, tentang konflik, penderitaan dan ketidakadilan yang terasa merata, baik di negara maju maupun berkembang.
Pesan ini berlanjut ketika menyentil isu senjata dan genosida yang terjadi saat itu, bahkan isu itu makin panas hingga saat ini:
Aku memang sengaja membawa lirik ke ranah yang agak berat, karena ingin mengingatkan bahwa kekuasaan dan perang selalu membawa korban sipil, dan yang selalu menjadi asal muasal peperangan selalu saja dari campur tangan blok timur dan barat. Bahkan sejarah kelam WW2 pun aku ikut singgung:
Kemudian kita tarik perhatian ke sejarah dan prinsip bangsa kita sendiri yaitu kutipan dari UUD 1945 Alinea ke-1:
Ini adalah bentuk empati dan solidaritas, sekaligus pengingat bahwa prinsip kemerdekaan bukan hanya milik masa lalu. Ia masih relevan sampai hari ini, saat kita melihat penindasan masih saja terjadi di belahan dunia lain khususnya kepada saudara-saudara kita yang ada di Palestina baik yang di Gaza maupun di bagian Tepi Barat.
Di bagian tengah verse, aku mencoba menyuarakan nasionalisme dari sudut pandang generasi muda:
Lirik ini adalah ajakan untuk tidak melupakan sejarah perjuangan. Semangat itu aku lanjutkan dengan membahas realitas penjajahan masa lalu pada negeri ini:
Pesan dari bagian ini sederhana, “jangan cepat puas dan jangan lupa dengan sejarah”. Kita hidup di negeri yang kaya, tapi tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengelola kekayaan itu dengan bijak, jujur dan tanpa korupsi.
Aku tidak menolak kesenangan, tapi ingin mengingatkan bahwa euforia jangan sampai membuat kita lupa peran. Kita juga punya tanggung jawab besar untuk masa depan, baik untuk diri sendiri maupun untuk negeri ini.
Dan akhirnya, semangat lagu ini terangkum dalam bait berikut:
Bagiku, Mi Rap bukan sekedar karya iseng. Ia adalah cara untuk menyuarakan keresahan, membakar semangat, dan mengingatkan dengan gaya dan medium yang mungkin berbeda dari tulisan-tulisan yang biasa aku buat walaupun amatir dan mungkin terdengar sedikit cringe.
Penutup
Akhir kata, Mi Rap mungkin hanyalah satu lagu amatir yang aku buat di kamar dengan peralatan seadanya. Tapi di balik kesederhanaannya, ada semangat yang besar untuk bersuara. Lagu ini adalah cermin kecil dari isi kepala dan hati yang sering kali tak bisa dituangkan hanya lewat tulisan. Lagu itu hadir sebagai bentuk perlawanan, sebagai pengingat, dan sebagai ajakan untuk tetap sadar, peduli, dan terus bergerak.
Bagi yang mendengarkan dan mungkin bisa merasakan pesan yang coba ingin kusampaikan, terima kasih. Bagi yang hanya mendengar sebatas hiburan, juga tak apa. Yang merasa eneg juga nggak papa kok. Musik adalah ruang yang luas, setiap orang bebas meresponsnya dengan cara masing-masing.
Yang terpenting, teruslah berkarya. Tak peduli seberapa sederhana, asal ia jujur dan lahir dari keresahan atau semangat yang nyata, maka karyamu punya arti. Karena seperti kata liriknya yang tadi:
Ku rangkai kata tuk bakar semangat jiwa — bukan tanpa alasan, bukan juga asal-asalan.
One love. One unity. Big up and Respect untuk semua yang masih memilih untuk bersuara.
Salam pengembara 🖐️
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.