skip to content
Catercilku
Back
potret seorang pria yang sedang memandang dunia luar dari jendala panjang rumahnya

Hari-hari Merenungku

/ 5 min read

Updated:
Table of Contents

Intro

Ada kalanya dirimu berada di situasi yang tidak kamu sangkakan. Apakah situasi tersebut adalah situasi yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Aku saat ini mungkin bisa dibilang berada di situasi yang tidak menyenangkan.

Hari-hariku selama 3 minggu kebelakang pada garis besarnya hanya diisi dengan minum obat, tidur, minum obat, tidur dan seterusnya.

“Sakit apa emangnya?”

Ya ada lah… aku terlalu malas dan tidak mau membahasnya panjang lebar untuk sekarang ini, mungkin di lain waktu saja. Yang pasti karena keadaan inilah yang memaksaku untuk terputus dahulu dari kehidupan dunia di luar sana.

Ini bagian apa ya bahasnya

Hari-hariku pada masa keadaan ini banyak terisi dengan hal-hal bertema psikologis dan spiritual. Terkadang di setiap diri ini sedang dalam mode standby and bengong selalu saja muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya aku jarang atau bahkan tidak pernah aku tanyakan pada diriku sendiri. Seperti…

“Sekarang kamu sadar tidak, dulu kamu menyiksa tubuhmu sendiri tanpa sadar…?”

“Sekarang kamu sadar tidak, betapa tidak berdayanya dirimu ketika sedang lemah…?”

“Sekarang kamu sadar tidak, betapa berharganya seorang teman yang mengakui keberadaanmu…?”

“Sekarang kamu sadar tidak, bahwa yang namanya cinta dan perhatian tidak harus berbentuk kalimat saja…?”

“Sekarang kamu makin sadar tidak, betapa tidak mampunya kamu menghitung besarnya cinta orang-orang yang menyayangi dirimu dari lahir…?”

“Apakah kamu mengerti… Tidak, kamu sepertinya memang tidak mengerti dan memahami bahasa yang ditujukan Tuhan kepadamu…”

Dan baris-baris pertanyaan-pertanyaan lainnya lagi.

Memang terkadang kita butuh waktu yang berteman dengan sepi untuk memunculkan hal-hal semacam itu pada diri kita sendiri. Mungkin dikarenakan hidup kita yang terlalu terdistorsi oleh kebisingan kehidupan yang kita lewati setiap harinya.

Yang aku dapatkan dari apa yang telah kulewati adalah, bahwa kita sebenarnya tidak harus menunggu momen-momen yang memaksa kita untuk mulai merenung dikarenakan hanya sedang pada situasi yang tidak kita inginkan. Kita bisa memulainya dengan selalu menempatkan diri kita bahwa manusia itu sebagai makhluk yang tidak berdaya dan tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ya, mungkin perkataanku menjurus kepada hal yang lebih spiritualitas yang menempatkan Tuhan sebagai hal yang terkonsentrasinya. Perkataan yang mungkin akan susah ataupun tidak mungkin diterima bagi yang beraliran tidak bertuhan alias ateis. Kidding :D

Seperti itulah… aku kurang tahu harus dengan kata-kata yang seperti apa bagusnya. Karena, sebaik-baiknya rencana yang kita buat, se-berekspektasi apa kita atas apa yang kita harapkan, karena pada akhirnya detik-detik ke depan yang akan kita jalani kita tidak pernah tahu, kita hanya bisa berusaha dan terus berjalan sesuai dengan peran kita sebagai manusia.

Teringatku cerita Umar bin Khattab (salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam) ketika dirinya beserta rombongannya ingin melakukan perjalanan ke negeri Syam namun diperjalanannya dia diberikan kabar bahwa terdapat wabah penyakit menular yang menyerang di negeri Syam tersebut. Lalu terjadilah musyawarah yang panjang antara petinggi-petinggi kaum besar Arab yang ikut bermusyawarah tersebut, apakah mereka akan lanjut menuju Syam atau tidak. Pada momen itu terjadilah argumen yang membuatku berpikir bahwa tokoh yang bernama Umar bin Khattab ini memang patut untuk dicatat sebagai tokoh non-filsafat yang perkataannya bisa menginspirasi cara berpikir manusia mengenai arti dari takdir hingga saat ini. Argumennya seperti ini…

“Wahai Khalifah Umar, apakah kita akan lari dari ketetapan Allah?” tanya yang bernama Abu Ubaidah. Karena sebelumnya Umar telah memutuskan untuk kembali ke tempat yang lebih aman daripada melanjutkan perjalanan bersama rombongannya ke negeri Syam.

Lalu dijawablah dengan tegas oleh Umar…

“Iya, lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.”

Man… itu adalah perkataan yang membuatku bisa dibilang blow my mind. Asli.

Ya walaupun kita sebagai orang yang percaya bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya ketika pada akhirnya Yang Maha Kuasa berkata lain, tetapi kita sebagai manusia harus hiduplah sebagai manusia, kita diberi akal dan kehendak untuk memilih jalannya masing-masing. Mungkin kamu bisa mencari penjelasan yang lebih baik dari orang yang memiliki kapabilitas dalam memahami hal-hal yang berbau akidah seperti diatas tersebut khususnya daripada diriku, tapi ya… itulah.

Kesepian

Menurut Leiderman (Peplau & Perlman, 1982), kesepian adalah kondisi afektif ketika individu sadar akan perasaan terpisah dari orang lain, berbarengan dengan pengalaman dari kebutuhan yang tidak pasti akan individu lain.

Mungkin dikatakan sedang kesepian, ya, karena sepertinya sudah agak lama aku tidak bertemu lagi secara tatap muka dan bercengkrama dengan kehidupan sosial bersama kawan-kawan seperti biasanya. Tapi mau bagaimana lagi, atleast masih berkomunikasi lewat dunia maya saling bertukar kabar, pikiran, candaan dan meme (khusus perkara meme, aku hanya berkirim antar dua temanku saja yang sama-sama mempunyai taste humor yang sama-sama aneh menurutku :D )

Aku berharap bisa bertemu lagi secepatnya dengan mereka semua, karena manusia ya memang makhluk sosial. Kita saling membutuhkan satu sama lainnya, baik itu hal-hal berbau materil ataupun yang berbau spiritualitas.

Bagaimana sekarang

Saat ini aku berada dalam mode pemulihan dan mode evaluasi diri. Aku mencoba mensyukuri setiap detik yang kujalani setiap harinya. Karena disaat seperti ini waktuku lebih banyak kuhabiskan bersama keluargaku. Mengobrol dan curhat dengan ibu, olahraga jalan santai diajak oleh bapak sambil mengobrol apapun ditemui di jalan, main dengan keponakan yang sudah kuanggap sebagi adik sendiri daripada sebagai keponakan, menonton TV dan Youtube tapi di TV. Aku menonton Youtube di TV karena terkadang aku merasa pusing jika aku buka Youtube di handphone lama-lama karena keadaanku saat ini. Kebanyakan channel yang aku tonton adalah channel-channel yang menurutku seru dan bermanfaat macam Kamar Film, Rumah Editor, Ardhianzy, Titik Terang, Alam Semenit dan semacamnya. Disamping isinya yang bermanfaat dan terhibur, durasi konten-kontennya cukup panjang yang bisa aku nikmati ketika sedang istirahat dan merasa bosan.

Doa

Aku hanya berharap sehat kembali seperti sedia kala dan keadaanku menjadi lebih baik lagi.

Kembali lagi beraktifitas seperti semula.

Dan aku harap bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi daripada diriku yang sebelum-sebelumnya.

Penutup

Segitu saja kali ini. Tadinya aku mau menulis lebih panjang lagi, karena sepertinya ada pembahasan yang masih belum aku tuliskan disini tapi ya next time di catatan-catatanku yang lainnya lagi saja karena aku takut sakit kepalaku kambuh lagi dikarenakan kelelahan melihat depan layar laptop yang terlalu lama.

Sampai bertemu lagi di catatanku yang lainnya. Terima kasih sudah “mendengarkan” sampai sini.

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.