skip to content
Catercilku
Back

Mari kuliah disini. Kami butuh uangmu.

/ 5 min read

Updated:
Table of Contents

Gerbang kampus

Kami turut mencerdaskan bangsa

Itulah kata sambutan yang selalu kami para mahasiswa lihat dan baca ketika kami masuk melalui gerbang kampus pertama kali.

Entah mengapa bagi sebagian dari kami merasa kata-kata itu tidak lebih dan tidak kurang hanya sekedar omong kosong formalitas belaka.

Bukan tanpa alasan, penilaian itu berangkat dari keresahan dan ketidakpuasan yang kami alami selama berada didalam kampus itu.

Bayangkan saja, dari banyaknya pengorbanan finansial yang kamu keluarkan demi biaya berkuliah tidak sebanding dengan yang seharusnya kamu terima.

Sangat tak acuh sekali jika kamu sebagai mahasiswa hanya diam dan menerima saja tanpa merasa resah atas effort yang sudah kamu keluarkan demi bisa berkuliah tetapi pada nyatanya tidak sesuai dengan apa yang digembar-gemborkan seperti didalam brosur saat pertama kali disodorkan PMB di gedung depan.

“Ini proyektornya mati nih, gimana dong?”

“Katanya untuk praktikumnya di laptop masing-masing saja, soalnya computer yang ada di lab pada nggak kuat buat pakek Android Studio, ditambah banyak yang rusak”

“Kata Dosen katanya nggak bakal masuk lagi, mungkin online atau nggak baca-baca materi di classroom aja. Padahal semester udah hampir beres ya masih aja jarang masuk”

“Ini kok materinya beda banget ya sama yang aku pelajari di internet sama dari kampus lain? Ini ngajarnya ngasal atau emang Dosennya nggak nguasain materi sih?”

“Ini kuliah apa lagi baca PPT doang ya?”

“Ini materi emangnya masih relevan untuk sekarang ini?”

Dan masih banyak lagi.

Dampak pada mahasiswa

Bisa kita rasakan bagaimana korelasi antara tingginya biaya yang dikeluarkan tidak diimbangi dengan peningkatan fasilitas atau kualitas akademik yang baik menjadikan kami mahaiswa merasakan ketidakpuasan. Kami para mahasiswa merasa kalau investasi waktu dan uang selama ini terasa tidak sepadan. Istilahnya berkorban keringat dan air mata demi bisa berkuliah, ingin merasakan bangku di pendidikan tinggi dengan harapan setelah tuntas nanti menjadi manusia ber-value tinggi di masyarakat nanti.

Ada orang tua di luar sana yang relakan gajinya yang minim untuk kebutuhan sehari-hari disisihkan demi anaknya bisa kuliah.

Ada orang tua yang relakan menjual sawah satu-satunya demi anaknya bisa kuliah.

Ada orang tua yang menjual kendaraan kesayangannya yang hasil jerih payahnya selama ini demi anaknya bisa kuliah.

Ada mahasiswa yang rela berangkat kerja subuh pulang sore agar gajinya nanti demi bisa untuk kuliah di malam harinya.

Dan masih banyak lagi cerita-cerita pengorbanan lainnya di luar sana.

Kami dari mahasiswa seperti merasa kehilangan semangat dalam belajar dikarenakan pengalaman kuliah hanya seperti PENGALAMAN TRANSAKSIONAL saja. Kalau bahasa orang Sufinya itu “Kehilangan Ruhnya” dalam proses belajar dikarenakan ilmu tak seharusnya dilacurkan oleh keburukan hasil orientasi kepada uang dan profit.

“Institusi juga butuh duit! Kalau nggak ada duit gimana mau jalan!”

“Siapa yang gajih Dosen?!”

“Siapa yang bayar internet kampus?!”

Kata-kata yang bodoh menurutku jika itu keluar dari mulut yang mengaku sebagai penyelenggara institusi tinggi.

Memangnya kami tidak memikirkan sampai situ juga wahai bapak ibu yang terhormat?!

Seharusnya kami yang menanyai kalian, dimana pertanggung jawaban kalian atas hak-hak kami untuk bisa belajar dengan baik di kampus ini?!

Kami merasa seperti kehilangan koneksi dengan institusi. Alih-alih merasa sebagai bagian dari komunitas akademik, hanya seperti “konsumen” di sebuah layanan yang dipenuhi formalitas!

Kalau sudah seperti itu rasanya akan susah jawabnya jikalau ditanya bagaimana loyalitas dan rasa bangga terhadap institusi.

Semoga didengar

Sistem pendidikan yang berorientasi pada keuntungan sering kali mengabaikan tujuan dari pembelajaran itu sendiri seperti menciptakan generasi yang berpengetahuan, berkarakter dan siap berkontribusi di masyarakat.

Sebagai sesama mahasiswa, ada pertanyaan yang ingin saya ajukan.

Apakah kalian mendukung sistem pendidikan yang hanya menjadikan mahasiswa sebagai “konsumen”, atau berharap pendidikan bisa kembali menjadi pengalaman yang bisa mencerdaskan cara berpikir, merevolusi kehidupan sosial dan bisa membangun masa depan yang lebih baik?

Kritik saya ini bukan berarti mengesampingkan biaya atau keuntungan untuk institusi, melainkan menjadi ajakan bagi para pengelola pendidikan untuk melihat sisi lain dari mahasiswa sebagai pribadi yang membutuhkan lebih dari sekadar gelar.

Mari bersama-sama mempertanyakan, apakah nilai dan pengalaman yang diperoleh sebanding dengan pengorbanan finansial yang diberikan?

Semoga menjadi saran dan solusi

Demi meningkatkan kualitas pendidikan dan mengatasi DAMPAK DARI SISTEM YANG TERLALU BERORIENTASI PADA KEUNTUNGAN. Yang terhormat kepada para pengelola pendidikan dapat mempertimbangkan masukkan dari saya berikut ini agar kami sebagai mahasiswa merasa puas atas pengorbanan waktu, biaya dan tenaga kami selama ini.

Singkat saja. Teruntuk kampus yang tercinta dan kampus-kampus lain yang mengalami hal serupa:

Pertama, fokus dan perbaiki kualitas fasilitas penunjang pembelajaran dan kualitas para pengajar dengan menghadirkan dosen yang kompeten serta meningkatkan akses pada sumber daya pembelajaran, agar mahasiswa bisa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik dan bermanfaat.

Selanjutnya, ubah dan perbaiki kurikulum kampus berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan tren industri dan tuntutan dunia kerja. Alih-alih hanya mengejar akreditasi, institusi bisa memprioritaskan pembelajaran praktis yang benar-benar relevan dengan industri dan terkini, tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis saja tetapi juga kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Terus, berikan support/dukungan karier untuk mahasiswa. Seperti dengan adanya bimbingan karier dan program-program dukungannya. Link atau relasi yang didapat dari institusi, para dosen dan para alumni.

Dengan begitu, kami mahasiswa akan merasa bahwa kami benar-benar dipersiapkan untuk sukses setelah lulus, dan merasa bahwa pendidikan yang telah diterima sepadan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan.

Kesimpulan

Pengalaman belajar di kampus seharusnya bukan sekadar “transaksi” finansial, melainkan sebuah proses yang mendalam dan bermakna. Namun, semakin banyak mahasiswa yang merasa beban biaya kuliah tidak sebanding dengan manfaat yang diterima. Pengorbanan yang dilakukan baik oleh mahasiswa maupun keluarga mereka terasa seperti tidak sebanding karena mendapatkan hasil yang tampak kurang optimal karena minimnya fasilitas, kurangnya kompetensi pengajar, dan kurikulum yang tidak selalu relevan dengan kebutuhan industri.

Kritik ini bukan sekadar keluhan, tetapi ajakan bagi institusi pendidikan untuk kembali ke esensi pendidikan yang sebenarnya. Kampus diharapkan tidak hanya fokus pada keuntungan, melainkan benar-benar menciptakan lingkungan yang membentuk mahasiswa menjadi individu yang berpengetahuan, berkarakter, dan siap menghadapi dunia kerja.

Melalui peningkatan fasilitas, kurikulum yang lebih baik, dan dukungan karier yang nyata, diharapkan mahasiswa bisa merasa bahwa pengalaman pendidikan yang mereka peroleh memang sepadan dengan pengorbanan finansial yang diberikan. Mari bersama-sama, baik institusi maupun mahasiswa, menciptakan sebuah sistem pendidikan yang layak dibanggakan, yang bisa mempersiapkan generasi penerus dengan baik untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Akhiran

Catatan kali ini didorong oleh energi keresahan yang dialami oleh diri ini sendiri sebagai seorang mahasiswa. Mungkin di luar sana banyak juga mahasiswa yang mengalami hal serupa. Semoga terwakilkan oleh catatan ini.

Sekian untuk kali ini, semoga bermanfaat.

Salam Pengembara👋🏻

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.