
Tan Malaka bukan radikalis PKI, tapi seorang Sosialis sejati
/ 4 min read
Updated:Pada tulisan kali ini akan dibuat sependek mungkin, langsung pada intinya saja perihal penjelasan atau pertanyaan tentang Tan Malaka dan hubungannya dengan kelompok PKI. Meskipun pernah menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan bahkan sempat ditunjuk sebagai wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara, Tan Malaka kemudian mengambil jalan yang berbeda. Ia adalah tokoh kiri yang memperjuangkan sosialisme dan kemerdekaan Indonesia dengan pendekatan khas, bisa dibilang unik sebagaimana yang pernah aku sendiri paparkan dalam tulisan pembahasan buku Naar de Republiek Indonesia sebelumnya disini. Perjuangan Tan Malaka berbasis pada pendidikan rakyat, kesadaran politik, serta pembentukan front persatuan nasional yang kuat.
Perpecahan antara Tan Malaka dan PKI terjadi setelah pemberontakan PKI tahun 1926. Tan Malaka menilai aksi tersebut terlalu terburu-buru, tidak didukung oleh kesiapan massa, dan sangat dipengaruhi oleh instruksi luar negeri (Komintern). Ia menilai pemberontakan itu justru merugikan perjuangan nasional. Karena perbedaan prinsip inilah, Tan Malaka secara resmi keluar dari PKI pada tahun 1927.
Dalam otobiografinya Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka menegaskan: “Karena tidak setuju dengan cara bekerja yang hanya mengandalkan perintah dari luar negeri dan memberontak tanpa persiapan, maka saya keluar dari PKI dan berjuang dengan jalan saya sendiri.”
Dengan demikian, meskipun memiliki latar belakang sebagai tokoh kiri dan pernah terlibat dalam PKI, Tan Malaka berbeda haluan. Ia tidak mendukung pemberontakan radikal tanpa perhitungan, melainkan memilih jalan perjuangan yang lebih mandiri dan kontekstual terhadap situasi rakyat Indonesia.
Jika dibandingkan dengan Soekarno, Tan Malaka memang memiliki gaya perjuangan yang lebih agresif dan revolusioner. Bila Soekarno lebih kompromistis demi persatuan nasional dan stabilitas politik, Tan Malaka justru lebih tegas dan keras kepala dalam mempertahankan prinsip kemerdekaan yang sejati dan tanpa campur tangan asing. Seperti kutipannya berikut ini,
Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan? Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku… Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen…! -Tan Malaka
Namun keduanya tetap merupakan tokoh penting dengan kontribusi besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
Secara pribadi, aku sangat terinspirasi oleh jalan pemikiran dan semangat perjuangan Tan Malaka. Bagiku, ia bukan sekedar tokoh sejarah, ia adalah representasi keberanian untuk berpikir mandiri, melawan arus, dan tetap teguh pada keyakinan meski harus menempuh jalan sunyi. Ia adalah tokoh yang menulis sejarah bukan dengan tinta, tapi dengan peluh, pengasingan, dan pengorbanan.
Pemikirannya tentang kemerdekaan yang utuh, perjuangan dari bawah, serta kritiknya terhadap elite yang mengabaikan massa, terasa begitu tajam, bahkan hingga hari ini, karena kejujuran dan ketulusan jiwanya dalam perjuangan. Ia berbicara bukan demi kekuasaan, melainkan demi cita-cita rakyat jelata yang ingin hidup merdeka, berdiri di tanah sendiri, dengan kepala tegak.
Tan Malaka bukan hanya seorang pemikir. Ia adalah nyala kecil yang terus menginspirasi semangat untuk melihat perubahan dari akar yang paling dalam. Dalam sunyi dan sepi, ia merumuskan harapan bangsa, menyulam ide-ide kemerdekaan yang tak sekedar bebas dari penjajahan, tapi juga bebas dari penindasan dalam bentuk apa pun. Kekaguman ini tentu tertuju pada semangatnya sebagai pejuang kemerdekaan, bukan pada ideologi komunis secara keseluruhan.
Bagiku, Tan Malaka adalah salah satu pahlawan yang belum mendapat pengakuan layak dari bangsa ini, bukan karena ia diakui negara, tetapi karena ia mengabdikan hidupnya sepenuhnya pada rakyat yang paling bawah. Ia bukan pahlawan yang dielu-elukan dengan patung dan upacara, melainkan sosok yang hidup abadi di antara lembaran buku, suara hati, dan cita-cita kemerdekaan yang tak pernah selesai.
Namanya mungkin jarang disebut, wajahnya jarang terpampang, tapi jejaknya tetap hidup di antara mereka yang masih percaya bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan dengan keberanian, pikiran, dan kesetiaan yang tak bisa dibeli.
Oleh karena itu, penting untuk dipahami lagi bahwa Tan Malaka bukan PKI, dalam artian bahwa ia menolak garis perjuangan PKI yang radikal dan bersenjata, serta memilih jalannya sendiri sebagai revolusioner nasional yang independen.
Jejak Pembaca
Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.