skip to content
Catercilku
Back

Ateis ketika bahagia. Beragama ketika terluka.

/ 5 min read

Updated:
Table of Contents

Sebelum masuk ke topik pokok yang mau kubahas saat ini, sepertinya ‘dah cukup lama sejak terakhir kali diriku update post di blogku ini, yaitu sebulan lebih yang lalu malahan mau dua bulan (terakhir 14 Agustus lalu).

“Kemana aja?”

Well… entahlah. Terkadang ada hal yang membuat kita kehilangan minat hanya dalam sekejap mata dikarenakan lain satu hal, baik itu hal sedih, menyenangkan ataupun antara keduanya. Intinya, sekarang baru mood lagi, banget malahan, untuk nulis blog/catatanku lagi disini xD

Semoga bisa stay on the track tetap getol update terus kedepannya.

Judul

Dari judul topik kali ini sengaja dibuat sedikit hiperbola. Ya mungkin karena terdengar lebih catchy dan lebih menusuk aja. Terkesan sedikit menampar.

Warning, judul kali ini hanya bagi pembaca-pembaca yang mengaku dirinya Teis. Diluar itu, silahkan menyesuaikan xD

Tuhan

Mengapa kita seringkali baru ‘mengingat’ Tuhan hanya ketika sedang dalam kesulitan?

Kemana aja kemarin ketika masih senang-senang?

Pernah seperti itu?

Jika pernah. Yup, diri ini juga pernah.

Pernahkah kita melihat teman kita yang sepanjang kamu berteman rasa-rasanya sebelumnya dia seperti kurang atau tidak terlalu relijius, tetapi ketika sedang galau dengan masalahnya, kamu melihat update-an status/story-nya mendadak jadi relijius atau kutipan-kutipan positif. Tetapi ketika sedang senang-senangnya beda lagi isinya. Ada foya-foya, jalan-jalan, clubbing, minum-minum dan sebagainya. Pernah nemu?

Relijius Koping

Coping dalam konteks psikologi dan kesehatan mental, merujuk pada cara-cara yang kita gunakan untuk mengatasi stres, kesulitan, atau tantangan dalam hidup. Yang intinya, kita mencari cara atau strategi untuk mengatasi hal-hal psikologi tersebut.

Jadi, Relijius Koping adalah mencari cara untuk menghadapi ketika kita sedang mengalami stress, kesulitan atau tantangan dalam hidup dengan keyakinan dan praktik relijius.

Relijius Koping terbagi menjadi dua. Ada yang positif, ada juga yang negatif.

Relijius Koping Positif

Relijius Koping Positif adalah bentuk koping yang mendukung pandangan positif tentang Tuhan.

Contohnya ketika kita sedang menghadapi kesulitan maka contoh dari pandangan positif tersebut kita akan menjadi orang yang sering berdo’a, mencoba memahami makna dari cobaan yang diberikan oleh Tuhan, mempercayai dengan adanya cobaan maka akan dinaikkan derajat kita dan sebagainya.

Relijius Koping Negatif

Sedangkan Relijius Koping Negatif adalah sebaliknya dari yang Relijius Koping Negatif. Yaitu, cara menghadapi masalah psikologi dengan memandang Tuhan atau agama secara negatif.

Contohnya seperti menganggap masalah hidup sebagai hukuman atau ujian yang terlalu berat, marah atau merasa ditinggalkan oleh Tuhan, merasa dihukum oleh Tuhan atau berpikir bahwa Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan seseorang dan semacamnya.

Ketika Bahagia, Kita Lupa

Oke, balik lagi ke topik. Jadi, setelah bahas soal Relijius Koping, baik yang positif maupun negatif, sekarang mari kita coba jawab pertanyaan yang tadi:

“Kenapa sih kita cenderung ingat Tuhan cuma pas lagi terluka, tapi pas bahagia malah lupa?”

Hmm alright… Sebenernya, ini bukan semata-mata tentang agama atau spiritualitas aja. Ini tuh lebih ke sifat alaminya kita sebagai manusia. Kita sering banget, ya, pas lagi bahagia, merasa semuanya udah cukup. Seolah-olah dunia udah okelah, dan nggak butuh lagi bantuan dari yang di atas ‘dah titik. Kayak self-sufficient aka sipaling mandiri, merasa semua pencapaian kita ya hasil dari usaha kita sendiri. Padahal… ya tahu sendirilah, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya (disini harusnya sadar diri).

Tapi, ketika dunia tiba-tiba tidak seindah itu, pas lagi jatuh, galau, atau terluka, nah baru deh kita sadar bahwa kita ini tidak sebesar itu. Kita mulai mencari pegangan, sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dan siapa lagi kalau bukan Tuhan, tempat kita lari buat minta jawaban atau sekadar menenangkan diri.

Spiritual Convenience

Mungkin istilah yang cocok buat ngejelasin perilaku ini adalah spiritual convenience (kenyamanan rohani). Jadi, kita kadang cuma “pakai” agama atau keyakinan buat kenyamanan psikologis aja, tapi nggak benar-benar menjadikannya bagian dari hidup sehari-hari. Tuhan cuma jadi pilihan terakhir di saat-saat krisis, sementara di saat bahagia… well, tersimpan rapi di sudut hati.

Dan ini tidak cuma terjadi di satu agama aja. Hampir semua orang, dari latar belakang apa pun, bisa mengalami ini. Kadang kita merasa agama itu nggak relevan pas hidup lagi enak-enaknya, dan akhirnya cuma ingat pas lagi down. Pernah ngerasa gitu? Coba tanyain ke diri Anda sendiri.

Menyeimbangkan Iman

Lucunya, kebanyakan ajaran agama justru mengajarkan kita untuk ingat Tuhan, tidak cuma pas susah, tapi juga pas bahagia.

Di Islam, misalnya, ada yang namanya syukur, mengucap syukur atas semua nikmat yang kita terima, minimal selalu mengucap Alhamdulillah, baik itu yang besar atau yang kecil. Ini pentingnya, biar kita tidak hanya ingat Tuhan pas lagi galau, tapi juga pas lagi senang.

Nah, di sini lah tantangannya…

Bagaimana caranya supaya kita bisa konsisten ingat Tuhan, tidak peduli lagi bahagia atau terluka? Kalau kita bisa menemukan keseimbangan itu, agama tidak lagi jadi tempat pelarian sementara, tapi jadi bagian dari rutinitas hidup kita.

Tantangan: Mengingat Tuhan Saat Bahagia

Tapi ya… sejujurnya, ini tidak gampang. Bahagia sering kali membuat kita terlena, merasa seolah-olah kita tidak butuh siapa-siapa lagi. Maka dari itu, salah satu tantangan terbesar dalam spiritualitas adalah mengingat Tuhan pas lagi bahagia.

Beberapa hal kecil yang bisa dicoba biar kita lebih konsisten:

  1. Selalu bersyukur: Tidak hanya untuk hal-hal besar, tapi juga untuk hal kecil-kecil yang sering kita anggap remeh.
  2. Refleksi harian: Meluangkan waktu sebentar setiap hari untuk merenung, apa yang terjadi hari ini, baik yang bagus maupun yang nggak.
  3. Konsisten dalam ibadah: Jangan cuma berdoa pas butuh, tapi jadikan ibadah bagian dari keseharian, kayak makan atau tidur.

Refleksi Pribadi

Kalau kita jujur-jujuran dengan diri sendiri,

“Kenapa ya aku cuma ingat Tuhan pas terluka?”,

Mungkin jawabannya sederhana: karena saat itu kita paling rentan. Kita butuh pegangan. Tapi, bukan berarti kita harus terus-terusan seperti itu, kan? Bagaimana kalau kita mulai ubah cara pandang kita soal kebahagiaan? Bahwa setiap kebahagiaan yang kita rasakan, seberapa kecil pun, ada campur tangan Tuhan di situ.

Dari hal sehari-hari seperti senangnya bisa makan bareng keluarga kita sendiri. Dianugerahkan kawan yang baik, yang selalu menjadi teman ngobrol, mengajak hal-hal positif dan menghibur selalu disisi kita. Dan lain-lain.

Agama itu harusnya tidak hanya menjadi pelarian di saat terluka, tapi jadi sesuatu yang membuat hidup kita lebih bermakna di segala situasi, baik senang maupun susah.

Akhiran

Hanya itu saja untuk kali ini. Jujur saja, aku, aing, gue juga pernah seperti itu. Semoga saja dengan adanya catatan kali ini menjadi pengingat untuk kita semua khususnya diri ini sendiri.

Semoga bermanfaat. Sehat selalu. Sampai bertemu di catatan-catatanku yang lainnya.

Salam Pengembara 👋🏻

Jejak Pembaca

Bagaimana perasaanmu setelah membaca tulisan ini? Tinggalkan satu jejak di bawah.