Langkahnya seringkali terasa seperti gerak mekanis, kaku dan tanpa jiwa. Ia adalah seorang insan yang terjebak dalam tarikan negatif dunia fana. Matanya, meski terbuka, seringkali terhipnotis oleh pendar cahaya neon kepalsuan. Ia bergerak layaknya robot yang dikendalikan oleh benang-benang halus bisikan setan, berputar di labirin yang sama, mengulang kesalahan yang serupa, seolah-olah ia telah kehilangan kendali atas kemudinya sendiri.
Di dalam dadanya, ada sebuah kota tua yang sunyi, namanya Hati Nurani. Di Hati Nurani itu ada sebuah pelita kecil yang tak pernah benar-benar padam. Pelita itu terus membisikkan kerinduan untuk pulang ke jalan yang lurus, jalan yang menjanjikan ketenangan abadi di bawah naungan-Nya. Setiap kali ia bersujud, ada tekad yang mengental, sebuah janji suci yang ia susun rapi untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Namun, dunia adalah panggung sandiwara yang bising.
Tepat saat ia ingin melangkah keluar dari lingkaran setan itu, sang penggoda datang dengan rupa yang paling manis. Godaan itu menyusup lewat celah-celah kecil keraguan, meruntuhkan tembok niat yang baru saja ia bangun dengan payah. Tekadnya yang setinggi langit seringkali luruh menjadi debu hanya dalam satu kedipan mata. Ia kembali jatuh, kembali terjerembab dalam kubangan yang ia benci, kembali menjadi pesakitan yang menanggung beban dosa yang kian memberat.
Ia merasa seperti pendosa tersesat yang membawa peta, namun kakinya dipaksa berlari ke arah yang berlawanan.
Meski begitu, jauh di lubuk sanubarinya, ia tahu satu hal: Pintu itu tidak pernah dikunci. Seberapa jauh pun ia tersesat, seberapa sering pun ia melanggar janji, detak jantungnya adalah sebuah undangan untuk kembali. Ia hanyalah seorang manusia, makhluk yang diciptakan dari tanah, yang sesekali akan berdebu, namun selalu memiliki kesempatan untuk dibasuh oleh air mata pertobatan.
Sebab bagi sang pengelana kebenaran, tidak ada tempat pulang yang paling indah selain kembali bersimpuh di haribaan-Nya, meski harus merangkak dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Itulah dia, insan pengulangi dosa yang paling gigih, namun dia juga adalah pencari ampunan yang tak akan pernah bosan dan berhenti untuk mengetuk pintu Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sejak note ini dibuat, sudah lebih dari dua minggu aku memutuskan untuk tidak lagi menyentuh media sosial. Rasanya? Jauh lebih tenang.
Platform-platform media sosial sudah aku hapus semua.
Dulu, setiap kali ada waktu luang, jempol ini secara otomatis membuka aplikasi-aplikasi yang penuh dengan kebisingan dan bikin kepala menjadi terasa brainrot. Isinya kebanyakan cuman konten-konten membandingkan hidup dengan orang lain, melihat drama yang tak ada habisnya, berita sampah pemerintah, konten-konten toxic dan lain semacamnya hingga akhirnya memunculkan rasa yang sangat lelah dan muak akan semua itu.
Setelah melepaskannya, aku merasa dunia jadi sedikit lebih luas. Aku punya lebih banyak waktu untuk benar-benar hadir di sini, di dunia ini, di saat ini. Membaca buku, mengamati sekitar, berkomunikasi dengan orang-orang ‘nyata’, atau sekedar menikmati keheningan tanpa perlu membagikannya kepada siapapun kecuali hal yang lebih bermanfaat seperti dengan menulis dan membagikannya di blogku tercinta ini.
Dan ketenangan itu tidak perlu validasi dari tombol suka atau komentar orang lain. Ketenangan yang kutemukan itu ada di dalam ketenangan batin yang jauh dari hingar bingar dunia fana yang memabukkan. Dunia yang membuat lupa sampai tak mengenali diri kita itu siapa hingga terasa sangat asing ketika sedang bercermin. Sampai-sampai melupakan dari mana kita itu berasal, dan akan kemana kita nantinya akan berakhir.
Aku juga mengakui bahwa media sosial itu tidak buruk semuanya. Ada sisi positifnya jika kita tahu cara menggunakannya dengan sangat bijak. Namun, bagiku saat ini, ini bukan lagi tentang platform mana yang bagus atau tidak, yang bermanfaat atau tidak, melainkan tentang self-control yang telah lama hilang karena sudah tertelan terlalu dalam oleh algoritma. Aku ingin kembali memegang kendali penuh atas perhatianku sendiri, bukan membiarkannya untuk dieksploitasi oleh sistem yang dibuat oleh mereka, yang memang sengaja dirancang untuk membuat penggunanya menjadi kecanduan dan menjadi terjerumus pada hal-hal buruk lainnya yang ditimbulkan oleh platform-platform tersebut jika tidak dibentengi dengan kesadaran penuh untuk selalu bijak dalam setiap penggunaannya.
Karena ketenangan itu mahal harganya, maka dari itu, aku tidak ingin menukarnya lagi dengan validasi dan kesenangan yang semu dari dunia maya, dari dunia palsu itu.
Lalu, apakah aku akan kembali menggunakan media sosial lagi suatu saat nanti? Entahlah. Aku tidak ingin berjanji apa pun pada diriku sendiri. Namun yang pasti, jika suatu hari aku memutuskan untuk kembali menggunakan media sosial, caraku menggunakannya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan diriku sendiri untuk hanyut lagi kedalam arus yang melelahkan dan sangat memuakkan itu.
Bagi sebagian muslim, ada dilema moral ketika melihat miliaran dolar perputaran uang dari wisata religi ini mengalir masuk ke kas negara Saudi. Uang dari keringat umat Islam di seluruh dunia yang menabung puluhan tahun demi bisa ke Tanah Suci, pada akhirnya menjadi salah satu pilar ekonomi utama Saudi, selain minyak, terutama dalam menyukseskan Visi 2030 (Saudi Vision 2030) gagasan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Visi yang bertujuan mendiversifikasi ekonomi menuju era post-oil, yang sangat bergantung pada pariwisata, di mana “wisata religi” Haji dan Umroh adalah yang akan menjadi tulang punggungnya, dengan target mendatangkan 30 juta jamaah Umroh per tahun pada 2030.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa di bawah administrasi Kerajaan Saudi saat ini, infrastruktur perluasan Masjidil Haram, transportasi publik, dan manajemen peliknya kerumunan jutaan jamaah merupakan sebuah prestasi manajerial modern yang patut diapresiasi.
Masalahnya, ke mana uang berpuluh miliar dolar yang masuk ke Sovereign Wealth Fund Saudi (PIF - Public Investment Fund) itu bermuara?
Tidak jarang, dana ini digunakan untuk manuver geopolitik yang justru memicu amarah umat Islam akar rumput:
Perang di Yaman: Seperti yang kita ketahui bahwa Saudi memimpin koalisi militer mengebom Yaman selama bertahun-tahun dalam perang proksi melawan Houthi. Perang ini menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, kelaparan, dan menewaskan ratusan ribu warga sipil Muslim Yaman.
Sikap Pasif dan Normalisasi Terselubung: Banyak umat Islam mengkritik Saudi karena tidak mengambil tindakan nyata atau sanksi embargo energi (seperti Raja Faisal dulu di tahun 1973) terhadap entitas apartheid Zionis yang sedang menjajah dan menghancurkan Palestina. Parahnya, sebelum pecah 7 Oktober, Saudi dan Israel berada di ambang kesepakatan Normalisasi Hubungan Diplomatik yang difasilitasi AS. Bagi banyak kelompok Islam, ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan pembebasan Palestina.
Dalam urusan domestik, triliunan rupiah dari perputaran uang umat ini juga kerap disorot karena membiayai gaya hidup ultra-mewah keluarga kerajaan (Al Saud). Ribuan pangeran senior terkenal dengan gaya hidup super mewah di Eropa, kepemilikan kapal pesiar (superyacht seharga ratusan juta dolar seperti milik MBS), pembelian lukisan Salvator Mundi seharga pemecah rekor US$ 450 juta, hingga pembelian klub sepak bola Newcastle United.
Terlebih lagi, saat kelaparan dan perang melanda Yaman, Gaza, Sudan, dan Suriah, anggaran raksasa justru dihamburkan untuk proyek-proyek utopis dan ambisi domestik yang minim manfaat bagi umat Islam global seperti:
NEOM & The Line: Proyek kota futuristik di padang pasir seharga triliunan dolar yang dipertanyakan kelayakannya dan telah memakan korban penggusuran suku lokal (Suku Howeitat).
Sports Washing & Hiburan Sekuler: Ratusan triliun rupiah per musim dibakar untuk membayar mahal pemain bola tua (Cristiano Ronaldo, Neymar, Benzema) demi membangun citra baru di mata Barat, yang uangnya jika dibelikan gandum atau beras bisa menyelamatkan rakyat di negara miskin. Belum lagi penyelenggaraan hiburan sekuler seperti konser-konser musik, gulat WWE, dan festival hedonis (MDL Beast) di Saudi yang dianggap banyak pemuka agama justru menggerus nilai kesucian Tanah Arab.
Makkah dan Madinah secara geografis memang berada di semenanjung Arabia. Namun secara spiritual, esensi, dan sejarah, Haramain adalah warisan dan hak milik seluruh komunitas muslim di dunia. Ia bukan aset properti eksklusif milik sebuah negara-bangsa, apalagi sekedar segelintir elite penguasa.
Maka, muncul perandaian di kepalaku:
Bagaimana jika Mekah dan Madinah dilepaskan statusnya sebagai teritori kedaulatan mutlak satu negara (Arab Saudi), dan diubah menjadi daerah khusus yang berstatus persemakmuran (Commonwealth) atau wilayah teritori kolektif khusus milik seluruh negara-negara Islam?
Sebuah wilayah dengan otonomi penuh, di mana otoritas pengelolaannya bukan lagi negara Arab Saudi, melainkan entitas gabungan yang mewakili umat Islam sedunia. Gagasan yang bisa dikatakan radikal.
Lalu, bagaimana bentuk implementasinya?
Pertama, ambil alih pengelolaan ibadah dan teritori Haramain. Urusan Haji, Umroh, dan yurisdiksi atas kedua kota suci tersebut harus ditransformasi agar berada murni di bawah naungan komunitas muslim internasional. Kedaulatannya ada pada umat, bukan pada Kerajaan Saudi.
Kedua, dikelola oleh konsorsium independen semacam “PBB-nya Dunia Islam”. Dibentuk sebuah lembaga konsorsium otonom yang terdiri dari perwakilan negara-negara mayoritas Islam. Lembaga ini bertindak secara transparan, akuntabel, dan bebas dari intervensi politik satu negara tertentu dalam mengambil kebijakan administratif, hukum, dan tata ruang di Mekah dan Madinah.
Ketiga, distribusi surplus untuk umat. Seluruh perputaran ekonomi dari visa, akomodasi, hingga transportasi tidak lagi masuk menggemukkan brankas satu kerajaan. Surplusnya dikembalikan ke negara-negara anggota atau dikelola sebagai kas umat global (menjadi semacam baitul mal internasional). Bayangkan jika miliaran dolar itu digunakan untuk memberikan beasiswa puluhan ribu mahasiswa, membiayai anak-anak yatim piatu, membangun infrastruktur di negara-negara muslim yang miskin, atau membiayai rekonstruksi Gaza dan wilayah konflik lainnya.
Dalam skema tata kelola yang adil ini, peran pemerintah Saudi akan diredefinisi. Rezim Saudi tidak lagi bertindak sebagai “tuan tanah” mutlak, melainkan sebagai “marbot” yang dihormati. Kita, umat Islam sedunia melalui konsorsium perwakilan lah yang menjadi takmirnya.
Entitas lokal dipekerjakan untuk mengurus kebersihan, keamanan fisik, dan infrastruktur, serta tentu saja dibayar dengan sangat layak sesuai standar profesional. Namun arah kebijakan spiritual, kuota, tata kelola keuangan, tata ruang pembangunan kota suci, dan distribusi keuntungan spenuhnya ada di tangan umat Islam global. Dengan begitu, ibadah haji benar-benar kembali pada khitahnya yaitu: persatuan umat, kesetaraan, dan pemberdayaan, bukan sekadar pariwisata spiritual yang menyumbang pundi-pundi kapitalisme birokrasi suatu rezim tunggal.
Tidak sengaja aku menonton video Ken O’Keefe yang lewat di beranda YouTube. Apa yang ia bicarakan pada video tersebut cukup membuatku salut dan merenung. Dengan lantang ia membongkar jaring-jaring manipulasi media, menguliti wajah asli dari “demokrasi” Barat, kemunafikan para elit politiknya, serta agenda maut jangka panjang yang menyasar Palestina.
Di bawah ini adalah poin-poin dan highlight lengkap tentang apa saja yang ia sampaikan dalam video tersebut:
“You couldn’t pay me to be nonviolent if I were born in Gaza. I would be fighting.” (Kamu tidak bisa membayarku untuk menjadi antikekerasan jika aku lahir di Gaza. Aku pasti akan ikut melawan). Begitulah pernyataan tegas yang Ken sampaikan di video tersebut.
Ken membagikan pengalamannya puluhan tahun yang lalu ketika ia melewati berbagai pos pemeriksaan militer saat menetap di Gaza dan Tepi Barat. Ia melihat langsung berbagai penghinaan yang menimpa orang-orang Palestina di sana. Menariknya, terlepas dari segala penderitaan sistematis dan pengepungan tersebut, anak-anak dan rakyat Palestina tidak serta-merta berubah menjadi penuh kebencian. Mereka melawan gempuran taktik brutal negara penjajah dengan kekuatan mental yang tangguh. Bagi Ken, pemandangan bocah-bocah bermodalkan batu menghadapi barisan tank mutakhir bukanlah tindakan pengecut, melainkan bentuk keberanian murni dan tegaknya martabat kemanusiaan. Justru dari Palestina-lah dunia kita saat ini sedang belajar arti sesungguhnya menjadi manusia merdeka utuh yang tak bisa dipatahkan.
Ken berkaca pada masa lalunya sebagai marinir AS (US Marine Corps). Hidup dan dibesarkan di California era 70-an hingga 80-an, ia dahulu percaya mentah-mentah bahwa Amerika adalah “negara terhebat”, garda terdepan demokrasi dan kebebasan.
Kini, ia tersadar bahwa patriotisme buta itu sesungguhnya adalah indoktrinasi murni dan wujud pengendalian mental. Banyak orang di masyarakat (hingga institusi militer) hanya mengaminkan dan “membeo” apa yang dikoar-koarkan di sekitarnya. Mayoritas orang lebih sibuk mengejar popularitas dan penerimaan di lingkaran sosialnya, daripada memberanikan diri untuk mencari tahu kebenaran mutlak di balik suatu konflik yang terjadi.
Saat menelaah cara kerja dunia modern, Ken sendiri bisa dibilang memiliki satu tips radikal untuk memahami segala kerusakan yang sudah terjadi selama ini. Dia bilang: kita tidak akan pernah memahami logika jalannya dunia hari ini jika hanya menggunakan cara pandang manusia yang sehat pikiran dan perasaannya. Kita harus rela masuk ke isi kepala para psikopat.
Menurutnya, mereka yang mengemban jabatan tertinggi dan menjadi figur politik kelas elit sebetulnya “memenuhi syarat” untuk berada di atas sana, justru karena perilaku mereka yang korup dan sangat tidak bermoral itu. Ken secara frontal menunjuk kembali kasus mega-skandal belakangan ini, Jeffrey Epstein, dan pesawat “Lolita Express” sebagai bukti bahwa para elit global benar-benar terlibat dalam kebiadaban moral. Psikopat-psikopat dan sosiopat yang menyukai kekejaman inilah yang pada gilirannya mencetak kebijakan, mengambil uang sogokan, dan yang mensponsori jatuhnya bom-bom genosida di Timur Tengah.
Kemarahan terbesar bagi masyarakat Barat yang sudah tersadar adalah fakta bahwa uang mereka sendiri turut menjadi “iuran” untuk membeli bom yang membunuh anak-anak tak berdosa. Setiap kali mereka membeli secangkir kopi atau barang kebutuhan sehari-hari, sebagian pajak yang dipungut dari sana akan bermuara pada persetujuan dana militer bernilai fantastis untuk negara pelaku genosida. Ironisnya, seperti yang disoroti Ken, uang miliaran dolar itu bukannya dipakai untuk kesejahteraan rakyat sendiri, seperti menanggulangi krisis tunawisma yang kian parah di negara mereka, namun justru dihamburkan untuk membiayai pembantaian.
Oleh karenanya, Ken menyoroti kampanye tentang perlawanan yang legal, yaitu aksi menolak bayar pajak secara bersama-sama, sampai pemerintah bisa menggaransi penuh bahwa uang rakyat tidak dipakai untuk menyokong kejahatan kemanusiaan. Prinsip dasarnya adalah, kewajiban terkecil kita dalam melawan tirani adalah berhenti memberi mereka dana (amunisi) yang digunakan untuk menzalimi orang lain.
Salah satu senjata paling mematikan yang dimiliki para elit penguasa saat ini adalah kendali atas bahasa dan narasi. Dengan mendistorsi makna dari berbagai istilah, mereka berhasil menggiring opini publik untuk membenarkan tindakan-tindakan keji. Sebagai contoh, perlawanan rakyat Palestina yang mempertahankan tanah air mereka sering kali dilabeli secara sepihak sebagai “terorisme”. Label ini sengaja dipakai untuk membangun legitimasi atas invasi dan penjajahan. Sebaliknya, ketika pihak penjajah menghancurkan infrastruktur atau merenggut nyawa warga sipil, kebrutalan tersebut justru diperhalus oleh media massa sebagai upaya “pembelaan diri” atau tindakan kompromi defensif.
Contoh manipulasi kata lainnya yang sering digunakan adalah tameng “anti-semitisme”. Ken menyoroti betapa absurdnya pelabelan ini jika kita menilik pada fakta sejarahnya. Secara harfiah dan etnis, penduduk asli Palestina yang berbahasa Arab adalah bagian dari rumpun bangsa Semit itu sendiri. Hal ini memperlihatkan secara jelas bahwa definisi sebuah kosakata terus dikorupsi dan dibelokkan maknanya secara massal hanya demi membungkam pihak yang menentang dan untuk memuluskan kepentingan ideologis semata.
Konflik dan perang tanpa henti tidak bisa dipisahkan dari peranan sindikat perbankan besar. Ken secara provokatif menyebut institusi “The Federal Reserve” bukan lagi badan milik negara, melainkan bank privat independen yang dikendalikan oleh keluarga-keluarga bankir penguasa macam Rothschild.
Jika kita menelaah jauh ke belakang, bibit kesengsaraan di wilayah Palestina sesungguhnya sudah mulai ditanam semenjak tahun 1800-an, seiring dengan dimulainya rancangan proyek penguasaan wilayah secara masif oleh kelompok Zionis. Di sisi lain, terkait dengan dominasi perbankan, Ken juga menyinggung keberanian Presiden JFK di masa lalu. Kala itu, JFK berusaha membebaskan sistem keuangan Amerika dari jeratan rentenir dengan menerbitkan uang United States Notes yang berstempel merah. Sayangnya, sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap oligarki bankir tersebut harus dibayar mahal dengan nyawa, JFK tewas dibunuh tak lama setelahnya. Hari ini, ekonomi global telah sepenuhnya digadaikan, menciptakan kondisi serupa dengan Republik Weimar (Jerman) saat dilanda hiperinflasi yang sangat parah pasca Perang Dunia I, yang dampak buruknya berlanjut hingga saat ini. Sebagai contoh, ketika genosida di Gaza sedang berlangsung, harga kebutuhan pokok seperti sekilo gula di sana bisa melonjak hingga pada titik yang benar-benar tak terbayangkan oleh akal sehat.
Penderitaan di Gaza saat ini bukanlah peristiwa acak yang tiba-tiba terjadi atau murni bermula dari insiden 7 Oktober yang lalu saja. Di balik semua kebrutalan itu, terdapat tujuan yang sangat gamblang, yaitu mewujudkan agenda Greater Israel atau Israel Raya. Bagi mereka, menguasai tanah Palestina dan menghancurkan kehidupan di dalamnya hanyalah langkah pertama menuju ambisi yang lebih besar.
Rencana ekstrem dan sangat ambisius ini menargetkan perluasan wilayah kekuasaan mereka hingga mencakup batas geografis yang membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Irak. Dalam prosesnya, penduduk asli Palestina adalah kelompok pertama yang harus dibersihkan secara sistematis. Agenda pamungkas mereka adalah merebut kendali mutlak atas situs-situs suci di Yerusalem dan membangun kembali “Kuil Ketiga” (Third Temple) sebagai pusat spiritual dari sosiopat kultus gelap mereka. Semua ini dirancang secara sistematis melalui berbagai manipulasi dan rekayasa, tanpa menyisakan sedikit pun empati maupun nilai kemanusiaan.
Pernyataan yang paling mengena dari Ken adalah: jangan jadi pengecut lalu berlindung di balik kalimat, “Aku cuma perorangan, bisa apa aku di tengah masalah sistemik ini?” Mengucapkan hal tersebut adalah cara mental pecundang, karena bahkan keputusan sekecil apa pun yang kita ambil berkontribusi memberikan dampak ke dunia yang luas.
Menurut Ken, ketika sistem meminta “tacit consent” (persetujuan secara diam-diam) atas sebuah kekerasan, bersuara menentangnya adalah penangkal racun terbaik. Tuhan tidak pernah berbohong, ilusi dan kerusakan adalah mutlak jalan keagamaan palsu para penyembah iblis yang berkuasa. Jika kita mengikuti Kebenaran, meski tidak populer, itu adalah satu-satunya instrumen yang akan mentransedensi kita agar hidup dengan derajat manusia secara utuh.
Banyak orang yang mungkin salah paham ketika aku sering kali ikut nimbrung atau asyik membahas hal-hal yang berbau Kiri atau Sosialisme. Terkadang, karena intensitas obrolan tersebut, beberapa orang mungkin akan menganggapku sebagai seorang Kiri sejati. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, aku ingin meluruskan beberapa hal.
Pertama dan yang paling utama, aku lebih condong dengan segala nilai-nilai Islam. Dan bagiku, Islam adalah kebenaran yang mutlak dalam segala hal dan aspek kehidupan. Boleh dong ya aku berpendapat begitu, itu hak diriku untuk berpendapat… Aku merasa bahwa identitas yang paling pas untuk diriku adalah seorang Islamis. Nilai-nilai, prinsip, dan pandangan hidupku bersumber kuat dari ajaran agama Islam. Walaupun memang sepertinya diriku saat ini nyatanya masih jauh dari sifat-sifat yang diajarkan oleh Nabi (semoga saja bisa jadi lebih baik ya…wkwkwk).
Memang benar, aku terkadang suka membahas topik-topik berbau Kiri. Namun, bukan berarti aku adalah seorang penggiat atau pendukung Kiri garis keras. Aku hanya suka membahas perihal “tongkrongan” mereka dan bertukar pikiran. Alasan utamanya adalah karena memang ada beberapa hal (saja) yang menurutku sejalan dan setuju dengan apa yang aku yakini selama ini, seperti perihal kepedulian terhadap sesama dan kritik terhadap ketimpangan.
Selain dari irisan kecil itu, fondasiku tetap berpijak tegas pada nilai-nilai Islam, bukan pada kerangka ideologi Kiri. Tulisan ini sengaja aku buat sebagai media pelurusan, takutnya karena aku kadang membahas perihal Kiri, orang-orang akan menganggapku benar-benar seorang Kiri. Apalagi, di Library Digital web blog ku ini aku juga menambahkan beberapa buku yang membahas perihal Kiri, jadi dirasa sangat perlu bagiku untuk memperjelas posisiku.
Jadi, untuk merangkum dan memperjelas semuanya, balik lagi dengan statement-nya:
Aku lebih suka disebut sebagai seorang Islamis yang sering nongkrong dengan orang-orang Sosialis.
Dulu, aku adalah orang yang sangat mudah percaya pada manusia. Aku percaya pada setiap kata yang terucap, pada janji, dan pada niat baik yang ditawarkan. Bagiku saat itu dunia adalah tempat di mana ketulusan akan selalu dibalas dengan ketulusan, dan kepercayaan adalah fondasi dari setiap koneksi antar manusia.
Namun, waktu dan pengalaman perlahan-lahan mengajariku pelajaran yang berbeda. Pelajaran yang sering kali harus dibayar mahal dengan luka dan kekecewaan.
Kenyataan berulang kali memperlihatkan bahwa harapan yang digantungkan terlalu tinggi pada manusia sering kali berakhir jatuh berserakan. Semakin besar kepercayaan yang aku berikan kepada seseorang, semakin besar pula ruang yang kubuka untuk sebuah luka baru. Aku mulai menyadari sebuah pola yang menyakitkan bahwa menggantungkan semua kepercayaan kepada manusia hanya membawaku pada sakit hati yang terus-menerus.
Ini bukanlah sebuah keluhan luapan emosi sesaat. Ini adalah sebuah refleksi pribadi yang jujur dan tenang, sebuah kesadaran yang lahir dari rentetan kejadian yang mengikis habis kepolosanku.
Aku menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa semua manusia itu jahat. Sama sekali tidak. Masih banyak orang baik di luar sana, aku yakini itu. Namun, aku akhirnya menyadari satu kebenaran yang tak bisa disangkal bahwa manusia itu adalah tempatnya kelemahan, kepentingan, dan perubahan hati.
Hati manusia itu sangat dinamis. Seseorang yang hari ini berjanji manis, bisa saja esok hari berubah menjadi khianat, dusta dan mengecewakan karena prioritasnya telah berubah. Seseorang yang hari ini bersikap penuh kasih, bisa saja berbalik menjadi asing hanya karena perbedaan kepentingan. Kepercayaan yang kita bangun bertahun-tahun ternyata bisa runtuh hanya oleh satu momen perubahan sikap. Kepercayaan pada manusia, pada hakikatnya, adalah sesuatu yang amat rapuh.
Ada masa di mana aku merasa marah dan sedih sebetulnya ketika melihat kenyataan ini. Namun, dengan begitu semuanya perlahan terasa lebih damai sekarang.
Kehilangan kepercayaan pada manusia pada akhirnya bukanlah tentang menjadi sosok yang sinis, pembenci, atau menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Ini adalah tentang belajar menjaga jarak dengan harapan. Ini tentang kedewasaan untuk menyadari keterbatasan mutlak yang dimiliki oleh manusia, termasuk diriku sendiri.
Aku belajar untuk tetap berbuat baik, tetap membantu, dan tetap menghargai orang lain, namun dengan satu perbedaan besar: tanpa ekspektasi yang berlebihan terhadap manusia.
Aku tidak lagi menggantungkan kebahagiaanku, rasa amanku, atau ketenanganku pada validasi dan janji manusia lain.
Mungkin, ini juga semacam teguran. Ketika harapan kepada manusia terus-menerus dipatahkan, itu adalah sebuah isyarat yang jelas bahwa aku telah bersandar pada dahan yang rentan patah.
Kini, aku mulai mencari dan menggenggam sebuah pegangan yang lebih kokoh. Sebuah sandaran yang tidak akan mudah runtuh oleh perubahan sikap, ego, atau waktu. Sandaran kepada Dzat yang tidak pernah ingkar, yang menggenggam hati manusia itu sendiri.
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia. –Sayyidina Ali.
Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (Q.S Al-Insyirah: 8)
Sekiranya Kami turunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.
Sebuah gunung. Bukan bukit. Bukan gundukan tanah. Tapi gunung. Sesuatu yang menjulang ribuan meter ke angkasa, yang telah berdiri kokoh sejak jutaan tahun lamanya, yang terbuat dari batu, mineral dan magma yang sudah membeku menjadi struktur paling masif yang pernah dimiliki permukaan bumi. Ia tidaklah bergerak. Ia tidaklah mengeluh. Ia tidaklah goyah oleh angin dan tidak runtuh oleh hujan, tidak tunduk oleh gemuruh badai yang menampar sisinya setiap malam. Gunung adalah simbol dari keteguhan. Simbol dari ketegaran. Simbol kekuatan yang melampaui apa pun yang pernah manusia bisa bangun.
Dan Allah mengatakan bahwa gunung itu akan bisa hancur.
Bukan retak. Bukan sekedar bergetar. Tapi akan hancur berkeping-keping, tunduk merendah lalu terpecah belah karena takut kepada-Nya.
Kenapa?
Karena gunung sanggup merasakan sesuatu yang seharusnya hanya bisa dirasakan oleh makhluk yang memiliki hati. Gunung itu mengalami sebuah rasa takut yang bukan sekedar gentar, melainkan ketakutan yang lahir dari pengenalan. Takut karena tahu siapa yang sedang berbicara. Takut karena menyadari betapa agungnya Kalam yang sedang turun kepadanya.
Gunung, bagi mata kita hanyalah benda mati yang tidak punya akal, tidak punya jiwa, tidak punya hati, justru digambarkan sanggup merasakan keagungan itu hingga ia tidak mampu menahan dirinya sendiri. Ia runtuh. Ia hancur. Bukan karena lemah, tapi karena ia tahu dirinya tidak layak berdiri tegak di hadapan sesuatu yang sebesar itu.
Itu gunung.
Lalu aku melihat diriku sendiri.
Manusia.
Makhluk yang konon diciptakan dengan akal yang bisa berpikir, hati yang bisa merasa, dan ruh yang seharusnya bisa mengenali Tuhannya lebih dari entitas mana pun di alam semesta ini. Makhluk yang katanya adalah sebaik-baiknya ciptaan, yang diberikan keistimewaan yang tidak diberikan kepada gunung, kepada langit, kepada bumi, bahkan kepada malaikat sekalipun.
Tapi aku?
Aku membaca ayat-ayat-Nya seperti membaca deretan kata biasa selama ini. Aku mendengar peringatan-Nya seperti mendengar suara latar yang sudah aku biasakan untuk diabaikan. Aku tahu ada ancaman di balik ketidaktaatanku, tapi aku tetap melangkah lurus seolah-olah itu bukan urusanku. Aku tahu ada janji yang begitu indah jika aku mau mendekat, tapi kakiku tetap diam. Hatiku tetap utuh. Tidak retak, tidak hancur, tidak bahkan bergetar.
Utuh. Tapi bukan dalam artian kuat.
Utuh dalam artian beku. Mati rasa. Keras. Seperti batu yang sudah kehilangan kemampuan untuk merespons apa pun.
Dan di sinilah ironi yang paling menyakitkan.
Gunung yang secara fisik jauh lebih kokoh dariku, yang secara material jauh lebih keras dariku, yang secara eksistensi bahkan tidak memiliki kapasitas untuk “merasa,” justru digambarkan sebagai entitas yang lebih peka dibanding diriku. Gunung sanggup hancur karena Kalam-Nya. Aku? Aku bahkan masih tidak menangis karenanya.
Gunung itu tidak punya pilihan untuk merasa atau tidak merasa. Ia tidak punya kehendak bebas. Ia tidak punya ego yang bisa menghalanginya. Tapi justru karena itulah ia tunduk sepenuhnya. Tidak ada penghalang antara dirinya dan keagungan yang datang kepadanya. Ia menerima, dan ia lebur.
Sedangkan aku, yang diberikan kehendak bebas, yang diberikan pilihan untuk tunduk atau membangkang, justru menggunakan kebebasan itu untuk membangun tembok. Tembok ego. Tembok kesibukan. Tembok “nanti saja.” Tembok “aku masih muda.” Tembok “toh Tuhan Maha Pengampun.” Tembok demi tembok yang aku susun rapi di sekeliling hatiku sampai tidak ada lagi yang bisa menembusnya, bahkan Kalam yang mampu menghancurkan gunung sekalipun.
Bukankah itu mengerikan…
Al-Qur’an sanggup meluluhlantakkan gunung, tetapi mengapa tidak sanggup meluluhlantakkan hatiku?
Bukan karena Al-Qur’an yang kurang dahsyat. Tapi karena aku sudah terlalu mahir dalam mengabaikan-Nya. Terlalu terlatih dalam ketidakpedulian-Nya. Terlalu nyaman dalam kebas yang sudah kuanggap sebagai ketenangan.
Makhluk yang seharusnya paling peka justru menjadi yang paling tumpul. Ketika gunung saja bisa merendah, tapi manusia justru menjulang dengan keangkuhannya. Ketika benda mati sanggup hancur karena takut, tapi makhluk berakal justru berdiri tegak dengan sombongnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Di akhir ayat itu, Allah berfirman:
Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.
Supaya mereka berpikir.
Bukan supaya mereka kagum lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Bukan supaya mereka bilang “MasyaAllah, keren,” lalu melupakannya. Tapi supaya mereka berpikir. Berhenti. Merenungi. Bertanya kepada diri sendiri. Kalau gunung saja bisa hancur, kenapa aku masih berdiri tegak seolah-olah tidak ada yang perlu aku takutkan?
Aku yang terbuat dari tanah. Sesuatu yang bahkan lebih rapuh dari batu. Sesuatu yang akan hancur hanya karena terkena air. Itulah asal usulku. Tapi, dari tanah itu, mengapa aku justru malah membangun keangkuhan setinggi gunung dan hati yang sekeres batu?
Apakah mungkin ini yang dimaksud dengan hati yang terkunci. Bukan karena Tuhan yang kejam, tapi karena pemiliknya sendiri yang terus-menerus menolak untuk membuka pintunya. Terus-menerus memilih kenyamanan di atas ketundukan. Terus-menerus memilih kebisingan dunia di atas keheningan yang mendekatkan.
Kalau gunung yang paling tinggi dan paling kokoh di muka bumi ini sanggup merendah hingga menjadi debu di hadapan Kalam-Nya, maka sesungguhnya tidak ada satu alasan pun bagiku, bagi kita, untuk tetap berdiri dengan angkuh.
Aku ini bukan gunung. Aku bahkan lebih lemah dari itu.
Dan justru karena lebih lemah, seharusnya lebih mudah untuk tunduk. Lebih mudah untuk merendah.
Tapi kenyataannya…
Tinggi dan kerasnya gunung lebih peka dibanding hati manusia. Gunung lebih memilih hancur demi menghormati Keagungan dari Sang Pencipta, tetapi sementara kita memilih keras untuk menentang-Nya.
Dan itu, mungkin, adalah penghinaan terbesar yang kita timpakan kepada diri kita sendiri.
Wahai Tuhan Yang Maha Esa, lunakkanlah hatiku yang lebih keras dari gunung ini.
Hancurkan keangkuhanku sebagaimana Kalam-Mu sanggup menghancurkan batu.
Dan jadikan aku merendah, sebagaimana gunung yang rela menjadi debu di hadapan-Mu.
Aamiin.
Baru-baru ini aku menonton sebuah film Jepang berjudul: The Taste of Tea (Cha no Aji).
Dan jujur, film ini bukan jenis film yang bisa aku jelaskan dengan mudah ke orang lain.
Kalau biasanya film itu punya formula yang jelas seperti ada konflik besar, ada pahlawan, ada klimaks yang memompa adrenalin dan semacamnya, film ini justru sebaliknya. Ia seperti mengajakku masuk ke dalam keseharian keluarga “aneh”, keluarga Haruno. Tapi aneh dengan cara yang sangat hangat.
Film ini bisa dibilang adalah definisi dari surealisme yang terasa sangat hangat.
Kita tidak hanya menonton aktivitas fisik karakter-karakternya. Kita seperti merasa dipaksa masuk ke dalam isi dari kepala mereka.
Ada anak kecil di keluarga tersebut bernama Sachiko yang merasa terus-menerus diikuti oleh replika raksasa dari dirinya sendiri.
Ada paman yang dihantui oleh kenangan masa kecilnya yang sangat konyol dan membuatku tertawa dengan tingkah lakunya.
Ada seorang kakek yang eksentriknya sudah di level luar biasa.
Dan yang menarik, semua itu disajikan dengan begitu natural. Seolah-olah hal-hal absurd itu memang bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga tersebut, dan mungkin memang begitu adanya.
Setiap anggota keluarga Haruno punya dunia batinnya masing-masing. Ada yang sedang jatuh cinta diam-diam, ada yang berjuang dengan identitasnya, ada yang sederhana saja hanya ingin membuat animasi. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Semuanya diceritakan dengan porsi yang sama, dengan ketenangan yang sama.
Biasanya sesuatu yang “absurd” atau tidak masuk akal seringkali terasa membingungkan, bahkan menakutkan. Tapi di film ini, absurditas itu justru seperti menjadi bumbu yang manis dan hangat.
Kejadian-kejadian aneh yang terjadi di sana terasa sangat manusiawi. Seolah-olah sutradara film ini ingin bilang bahwa setiap orang memang punya “dunia kecil” yang aneh di dalam pikirannya masing-masing. Dan itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau disembunyikan. Itu justru yang membuat kita menjadi manusia.
Ada satu hal yang aku sadari setelah menonton film ini mengenai bahwa kita itu kadang terlalu sering menuntut sesuatu untuk masuk akal. Kita ingin semuanya bisa dijelaskan, bisa dilogikakan, bisa dipahami dengan rapi. Padahal hidup sendiri jarang sekali beroperasi dengan logika yang sempurna.
Kadang kita memikirkan hal-hal yang aneh juga. Kadang kita bermimpi tentang sesuatu yang tidak masuk akal. Kadang ada perasaan yang tidak bisa kita jelaskan. Dan film ini bilang, “ya, itu tidak apa-apa kok.”
Secara visual, film ini indah dengan cara yang sangat Jepang sekali. Mulai dari pemandangan pedesaan yang hijau, jalan-jalan kecil yang sepi, langit sore yang keemasan. Semuanya disajikan dengan tempo yang lambat, melankolis, seolah memberikan ruang bagi penontonnya untuk benar-benar merasakan, bukan hanya menonton.
Tidak ada soundtrack yang dramatis. Tidak ada editing yang cepat. Semuanya mengalir seperti air sungai yang tenang, pelan, tapi terus bergerak.
Menonton film ini rasanya persis seperti judulnya. Tenang. Sedikit pahit di beberapa bagian. Tapi meninggalkan rasa nyaman yang lama.
Film ini memang tidak berusaha mengajarkan pelajaran hidup yang besar. Tidak ada monolog inspiratif. Tidak ada momen “aha” yang mengubah hidup. Yang ada hanyalah kehidupan itu sendiri dengan segala keanehan, keindahan, dan kesunyiannya.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesarnya, bahwa hidup memang terkadang tidak selalu harus masuk akal untuk bisa dinikmati. Kadang, cukup dengan duduk, santai, menyeruput teh, dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya.
Aku punya satu pemikiran yang mungkin terdengar paranoid. Mungkin ini terdengar teori konspirasi. Mungkin saja.
Tapi semakin aku pikirkan, semakin masuk akal juga. Atau setidaknya, semakin sulit untuk diabaikan.
Bagaimana kalau AI, deepfake, dan semua teknologi manipulasi konten yang sedang berkembang pesat saat ini bukan hanya sekedar kemajuan teknologi? Bagaimana kalau semua ini adalah bagian dari skenario besar yang dirancang oleh segelintir orang paling berkuasa di dunia untuk menghancurkan satu hal fundamental yang menjadi fondasi dari kebenaran itu sendiri, yaitu, kepercayaan pada apa yang kita lihat dan dengar?
Coba pikirkan.
Dulu sebelum era deepfake, kalau ada rekaman video seseorang melakukan sesuatu, itu adalah bukti. Titik. Tidak bisa dibantah. Rekaman audio, foto, video, semua itu punya kekuatan hukum yang sangat kuat. Jika ada pejabat tertangkap kamera melakukan tindakan yang menyalahi aturan hukum, jika ada rekaman suara seseorang merencanakan kejahatan, itu sudah cukup untuk menjatuhkan mereka. Bukti visual dan audio adalah senjata terakhir rakyat kecil untuk melawan kebohongan para elit atau orang-orang yang berkuasa.
Sekarang?
Dengan hadirnya AI, kita bisa membuat video palsu yang nyaris sempurna, suara tiruan yang tidak bisa dibedakan dari aslinya, dan gambar rekayasa yang terlihat sepenuhnya nyata. Kini siapa pun bisa membantah bukti apa pun, karena sekarang semua orang tahu bahwa AI bisa membuat semua itu.
Di satu sisi, konten palsu memang benar-benar ada dan menyebar di mana-mana, membuat kita harus skeptis terhadap segala sesuatu. Tapi di sisi lain, skeptisisme massal itu justru bisa dimanfaatkan untuk membantah bukti yang benar-benar asli.
Misalnya. Ada seorang pejabat tertangkap kamera melakukan tindakan-tindakan amoral. Mungkin orang-orang akan menyangka bahwa itu hanyalah Deepfake, “Ah tidak mungkin, mungkin saja pakai AI?”. Ada rekaman audio perencanaan korupsi bocor ke publik? “Ah itu suara AI palingan yang dibuat oleh orang yang ingin menjatuhkan dia.” Video kejahatan perang tersebar, dan lain sebagainya.
Karena hal tersebut, mungkin mereka tidak perlu lagi gempar dengan adanya bukti. Mereka tidak perlu lagi mengancam saksi. Mereka tidak perlu lagi membakar dokumen-dokumen. Sekarang cukup tanamkan keraguan di masyarakat. Cukup buat semua orang percaya bahwa segala sesuatu di zaman ini bisa dipalsukan dengan mudah menggunakan AI, maka tidak ada yang bisa dibuktikan lagi kebenarannya.
Ini bukanlah sekedar masalah teknologi. Ini adalah gaslighting dalam skala global.
Gaslighting bagi yang belum tahu adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang membuat korbannya meragukan persepsi, ingatan, dan bahkan kewarasannya sendiri. Dan sekarang, hal itu sedang dilakukan kepada seluruh umat manusia sekaligus. Kita sedang diajari untuk tidak percaya pada mata dan telinga kita sendiri. Kita sedang dikondisikan untuk meragukan segalanya, sampai akhirnya kita tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang rekayasa.
Dan siapa yang paling diuntungkannya?
Yang diuntungkan adalah para elit manipulator. Para oligarki, korporasi raksasa, politisi korup, dan semua pihak yang selama ini paling takut terhadap bukti. Mereka yang sebelumnya bisa dijatuhkan oleh satu bukti dokumen, rekaman video dan lain sebagainya, kini punya tameng yang sempurna. Mereka bisa saja melakukan apa pun. Kejahatan perang, korupsi sistematis, kelakuan amoral, dan ketika buktinya muncul, mereka tinggal berkata, “Itu AI.” Dan publik, yang sudah terlalu lelah dan bingung membedakan mana asli dan mana palsu, hanya akan mengangguk dan melanjutkan hidupnya kembali.
Coba perhatikan bagaimana investasi terhadap AI datang dari mana. Siapa yang mendanai risetnya? Perusahaan teknologi raksasa yang berafiliasi erat dengan pemerintahan dan badan intelijen. Bukan kebetulan bahwa teknologi yang paling menguntungkan kekuasaan justru mendapatkan pendanaan terbesar. AI ini bisa saja bukan hanya inovasi yang tumbuh secara organik, tetapi memang proyek yang didorong dari atas ke bawah, dari elit untuk melindungi elit.
Ada satu teori yang namanya The Dead Internet Theory.
Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas di internet saat ini sudah bukan berasal dari manusia lagi. Komentar, postingan, diskusi, review, bahkan akun-akun yang kita pikir adalah orang sungguhan, sebagian besarnya bisa saja adalah bot dan AI. Internet yang kita kenal sudah “mati,” dan yang tersisa hanyalah ilusi keramaian yang diciptakan oleh mesin-mesin.
Kedengarannya memang gila dan paranoid. Tapi coba kita perhatikan. Ada berapa banyak akun di media sosial yang bagi kita terasa aneh? Komentar-komentar yang generik, profil tanpa wajah nyata, diskusi yang terasa seperti template. Kita sudah hidup di era di mana bot bisa membuat post, membalas komentar, bahkan mungkin berdebat dengan kita di kolom komentar tanpa kita sadari bahwa lawan bicara kita itu memang bukan manusia asli.
Jika The Dead Internet Theory ini benar, bahkan sebagian saja, maka opini publik pun bisa saja direkayasa, bukan?
Trending topic bisa saja dibuat untuk dimanipulasi. Narasi bisa saja sudah diarahkan. Konsensus publik bisa saja sudah diciptakan dari nol oleh sekelompok orang yang mempunyai kendali atas pasukan bot di tangannya. Kita bisa saja berpikir bahwa kita sedang membaca “suara-suara rakyat” yang ada di internet, padahal yang kita baca adalah skenario yang sudah ditulis oleh orang-orang yang memiliki kendali atas semua hal tersebut.
Dan ini bersambung langsung dengan bahasan deepfake sebelumnya. Kalau konten saja bisa dipalsukan, dan sekarang bahkan “orang” di internet pun bisa dipalsukan, maka apa yang tersisa? Kita tidak hanya kehilangan kepercayaan pada bukti, tetapi juga kehilangan kepercayaan pada siapa yang nyata dan siapa yang tidak.
Dunia di mana kebenaran sudah menjadi relatif. Di mana bukti sudah kehilangan maknanya. Di mana semua orang saling curiga tapi tidak ada yang bisa membuktikan apa pun. Dan sekarang, bahkan “orang” yang kita ajak bicara di internet pun belum tentu nyata. Maka yang mati bukan hanya kebenaran, tetapi juga kepercayaan itu sendiri.
Itulah dunia kita saat ini.
Dan ironisnya, kita sendiri juga yang membantu membangunnya. Setiap kali kita share konten AI, setiap kali kita menggunakan deepfake untuk hiburan, setiap kali kita menormalisasi teknologi ini, kita seperti sedang menambah satu batu bata demi satu batu bata di dinding yang akan mengurung kebenaran itu sendiri di masa yang akan datang.
Aku tidak bilang AI itu sepenuhnya jahat. Menurutku, teknologi itu netral. Tapi cara ia dipopulerkan, cara ia dimasukkan ke setiap aspek kehidupan tanpa regulasi yang memadai, seperti deepfake yang dibiarkan berkembang liar, itu yang harusnya dipertanyakan, baik dari sisi etika maupun regulasinya.
Karena ketika semua orang sudah terbiasa dengan dunia di mana segalanya bisa dipalsukan, maka tidak ada lagi yang bisa dipercaya. Dan ketika tidak ada yang bisa dipercaya, mereka yang berbohong pun tidak akan pernah bisa tertangkap.
Aku tahu bahwa setiap konflik punya lapisan-lapisan yang rumit, bahwa setiap pihak punya narasi masing-masing, dan bahwa melihat sesuatu secara biner itu berbahaya. Aku tidak bisa melihat ini hanya dari kacamata siapa Syiah, siapa Sunni, siapa Barat, siapa Timur, atau label-label sempit lainnya. Kita harus membedakan mana pemahaman teologis dengan bagaimana kita menyikapi geopolitik. Dunia tidak sesederhana itu, aku sadar betul.
Dengan konteks panas Geoplitik di Timur Tengah akhir-akhir ini antara AS-Israel VS Iran, kalau aku harus memilih berdiri di satu garis yang mana antara dua barisan tersebut, maka aku sudah tahu di mana kakiku berpijak.
Aku memilih berdiri di barisan Iran.
Bukan sebagai pendukung buta, bukan sebagai pengikut fanatik, tapi sebagai seseorang yang sudah terlalu muak melihat kelakuan Amerika Serikat dan Israel selama bertahun-tahun.
Karena jujur saja, kalau kita mau bicara soal siapa yang selama ini menjadi sumber masalah di Timur Tengah, jawabannya sudah sangat jelas.
Amerika Serikat.
Dan Israel.
Dua nama itu sudah seperti sinonim dari kekacauan di kawasan tersebut. Invasi Irak dengan dalih senjata pemusnah massal yang ternyata tidak pernah ada. Campur tangan di Libya yang meninggalkan negara itu dalam reruntuhan. Dukungan tanpa syarat kepada Israel yang terus-menerus melanggar hukum internasional. Sanksi demi sanksi yang dijatuhkan kepada negara-negara yang berani menolak tunduk. Semua itu bukan teori konspirasi. Itu fakta sejarah yang sudah didokumentasikan oleh dunia.
Dan Israel?
Negara yang dibangun di atas tanah yang dirampas. Negara yang membombardir pemukiman sipil lalu menyebutnya “pertahanan diri.” Negara yang mengurung jutaan manusia di Gaza seperti hewan dalam kandang, memblokir makanan, air, obat-obatan, lalu bersikap seolah-olah mereka yang jadi korban. Negara yang bisa membantai anak-anak dan wanita tak bersalah di depan mata dunia tanpa konsekuensi apapun, karena mereka tahu ada Amerika yang selalu siap memveto setiap resolusi PBB yang mengecam mereka.
Kemunafikan. Itu kata yang paling tepat.
Amerika bicara soal demokrasi, tapi mendukung rezim-rezim otoriter yang patuh kepada mereka. Bicara soal hak asasi manusia, tapi tutup mata ketika Israel melakukan apa yang oleh banyak pakar hukum internasional sebagai genosida. Bicara soal kebebasan, tapi menjatuhkan sanksi seenak jidatnya kepada siapa pun yang berani berdiri “melawan Amerika”.
Propaganda mereka begitu halus, begitu masif, sampai-sampai setengah dunia percaya bahwa Amerika itu “polisi dunia yang baik hati” dan Israel itu “negara demokrasi satu-satunya di Timur Tengah.” Lucu sekali. Demokrasi macam apa yang dibangun di atas penindasan dan perampasan tanah orang lain?
Dan di tengah semua itu, di tengah dunia yang diam membisu, di tengah negara-negara Arab yang sibuk normalisasi hubungan dengan Israel demi kepentingan ekonomi mereka sendiri, Iran berdiri.
Iran yang berada di garda terdepan membela Palestina.
Saat negara-negara lain hanya bisa mengeluarkan “kecaman keras” dan “keprihatinan mendalam” yang tidak ada artinya, Iran justru berani maju ke garis depan. Saat dunia terlalu pengecut untuk bersuara, Iran bersuara. Saat yang lain sibuk berdiplomasi kosong, Iran menunjukkan bahwa ada yang masih punya nyali untuk melawan.
Apakah Iran sempurna? Tidak. Tentu saja tidak.
Tidak ada negara yang sempurna. Iran punya masalahnya sendiri, punya kekurangannya sendiri, punya sisi-sisi yang bisa aku kritisi juga. Aku tidak menutup mata dari itu semua. Aku bukan tipe orang yang meninggikan satu pihak lalu menutup diri dari kekurangannya.
Tapi di antara pilihan yang ada, di antara pihak-pihak yang berseteru ini, Iran adalah pihak yang paling masuk akal untuk didukung. Bukan karena mereka malaikat, tapi karena pihak seberangnya jauh lebih buruk.
Ketika kita bicara soal siapa yang menghancurkan Palestina, jawabannya bukan Iran. Ketika kita bicara soal siapa yang membombardir rumah sakit dan sekolah, jawabannya bukan Iran. Ketika kita bicara soal siapa yang membuat jutaan pengungsi kehilangan segalanya, jawabannya bukan Iran.
Maka daripada itu, aku memilih berdiri di barisan Iran.
Bukan sebagai pendukung penuh yang fanatik. Bukan sebagai orang yang menganggap Iran tidak bisa salah. Tapi sebagai seseorang yang sudah gerah, sudah muak, sudah tidak tahan lagi melihat kemunafikan, kepicikan, dan kebiadaban yang dilakukan oleh Amerika dan Israel, dan memilih untuk tidak diam.
Aku berdiri di barisan Iran. Bukan karena Iran sempurna, tapi karena aku tahu siapa yang selama ini selalu menjadi sumber masalahnya.