Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisasi semua penerima beasiswa KIP-K. Apa yang aku sampaikan di sini hanya berdasarkan sebagian kasus yang aku temui secara langsung di lapangan.
Kadang aku berpikir, mungkin bukan hanya pendidikan yang mahal, tapi juga dengan kejujuran.
Di kampus, aku terkadang melihat mahasiswa yang menyandang status penerima beasiswa KIP-K, sebuah program mulia yang sejatinya memang diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar berjuang dari bawah, yang setiap harinya harus menimbang antara makan atau untuk membayar ongkos agar bisa tetap merasakan bangku perkuliahan, namun di lapangan, kenyataannya tidak selalu seindah niat awalnya.
Ada yang mendapatkannya lewat jalur kedekatan, ada pula yang lihai membangun citra di hadapan auditor seolah-olah hidupnya serba kekurangan, padahal kehidupan sehari-harinya jauh dari kata “sulit”. Kendaraan bagus masih terparkir di halaman rumah, liburan dan jalan-jalan selalu terekspos di dunia maya, handphone ternama model buah selalu di tangan.
Bukan berarti penerima beasiswa harus menahan diri dari menikmati hidup atau merasa lebih rendah dibanding mahasiswa lain. Maksudku bukan melarang mereka untuk bahagia atau menikmati fasilitas yang ada. Sebagai mahasiswa reguler, aku setuju sekali dengan bahwa yang namanya setiap orang itu sangat berhak merasakan kebahagiaan dan kenyamanannya masing-masing. Namun, yang aku tekankan di sini adalah pentingnya kesadaran dan tanggung jawab moral. Beasiswa seharusnya digunakan sesuai tujuan utamanya: mendukung pendidikan dan kebutuhan pokok, bukan untuk membenarkan gaya hidup berlebihan atau pamer. Jadi, bukan soal membatasi kebebasan, tapi soal menjaga integritas dan menghargai kesempatan yang telah diberikan.
Ada rasa ganjil yang sering aku lihat pada kenyataannya di lapangan, ketika yang disebut bantuan untuk mereka yang membutuhkan malah jatuh ke tangan mereka yang tidak benar-benar butuh.
Sementara di luar sana, ada mahasiswa yang tidur di kos sederhana tanpa kipas angin, yang rela jalan kaki ke kampus karena uangnya lebih baik digunakan untuk mencetak laporan, yang menahan lapar agar bisa membayar uang semester, tapi tidak terpilih, hanya karena ia terlalu jujur menggambarkan hidupnya apa adanya.
Bahkan, ada cerita dari salahsatu rekan mahasiswa reguler yang curhat kepadaku. Ia rela menggadaikan rumahnya hanya demi bisa menyelesaikan tanggungan administrasi di kampus, agar tetap bisa melanjutkan kuliah dan mendapatkan sebuah gelar. Perjuangan seperti ini sering luput dari perhatian, padahal inilah realita pahit yang dialami oleh banyak mahasiswa yang benar-benar berjuang tanpa bantuan.
Lucunya, kadang sistem lebih percaya pada drama daripada realita.
Yang pandai bercerita tentang kemiskinan, lebih cepat mendapat simpati daripada mereka yang benar-benar hidup dalam kesunyian perjuangan.
Dan pada titik itu, aku mulai sadar bahwa kejujuran sering kali kalah oleh kepandaian dalam berpura-pura.
Aku tidak ingin menuduh siapa pun. Aku hanya merasa miris, bahwa di tengah semua semangat “merdeka belajar,” masih banyak yang merdeka dengan cara yang keliru.
Selain itu, menurutku penting juga bagi penerima beasiswa untuk menyesuaikan gaya hidupnya. Beasiswa seharusnya mendorong pola hidup sederhana dan bertanggung jawab, bukan justru menjadi alasan untuk bergaya hidup konsumtif atau berlebihan dan flexing. Kadang, ada yang lupa bahwa tujuan utama beasiswa adalah mendukung pendidikan dan kebutuhan pokok, bukan untuk memenuhi keinginan yang tidak mendesak. Dengan menyesuaikan gaya hidup, kita bisa lebih menghargai kesempatan yang diberikan dan memastikan bantuan tersebut benar-benar bermanfaat.
Karena beasiswa seharusnya menjadi jembatan bagi mereka yang hampir tenggelam, bukan sekedar bonus tambahan bagi mereka yang sudah bisa berenang.
Tapi ya, begitulah realitanya… sistem bisa disalahgunakan, dan hati manusia pun bisa tumpul oleh rasa ingin menang sendiri.
Aku hanya berharap, suatu hari nanti, beasiswa tidak lagi diukur dari siapa yang paling pandai membentuk citra, tapi dari siapa yang benar-benar butuh dan yang berjuang dalam diam.
Karena pendidikan sejati tidak hanya mengajarkan kita cara berpikir, tapi juga cara berperilaku jujur, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Yang terpenting, seharusnya ada kesadaran moral dalam diri setiap individu. Kesadaran bahwa setiap rupiah beasiswa yang diterima itu bisa jadi adalah hak milik orang lain yang lebih membutuhkan. Kesadaran bahwa ketika kita mengambil apa yang bukan hak kita, kita tidak hanya menipu sistem, tapi juga merampas kesempatan mereka yang benar-benar membutuhkan untuk mengubah nasib melalui pendidikan.