Aku sering membayangkan dan bermimpi bahwa suatu hari nanti ingin sekali bisa berkeliling Indonesia menggunakan campervan.
Rasanya menyenangkan membayangkan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menyusuri pesona alam Indonesia dari ujung barat sampai timur, dari Sabang hingga Merauke.
Bukan hanya untuk sekedar bertualang dan berwisata, tetapi untuk benar-benar menikmati setiap perjalanan dan bertafakur pada hasil eksistensi dari Sang Maha Pencipta.
Tidur di tepi danau, bangun pagi dengan pemandangan gunung yang sejuk dan hijau, atau memasak sarapan sederhana di dalam mobil sambil mendengar suara ombak dari tepian pantai. Atau bertemu, bercengkrama dan berbagi kisah dengan orang-orang baru yang ditemui. Rasanya sangat menyenangkan jika dibayangkan.
Campervan bukan cuma sekedar kendaraan, tapi simbol kebebasan, kebersahajaan, dan petualangan yang bermakna.
Mungkin sekarang belum bisa, tapi semoga suatu hari nanti, dengan tekad dan perencanaan yang matang, impian itu bisa jadi kenyataan. Aamiin.
Aku ingin mencapai berat badan yang ideal. Aku ingin tubuh yang sehat dan ringan.
Aku ingin lebih percaya diri saat bercermin dan saat berjalan.
Tapi di sisi lain, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Makanan yang dulu membuatku bahagia kini jadi hitungan angka yang membuatku merasa waswas.
Tertawa sambil menikmati camilan kesukaan berubah jadi rasa bersalah. Jalan menuju tubuh ideal ini seperti menuntutku mengorbankan hal-hal kecil yang dulunya memberi rasa “hidup”.
Apakah bisa menjalani diet tanpa kehilangan rasa syukur atas hidup yang penuh rasa ini?
Aku masih mencari titik seimbang antara menjaga tubuh dan tetap merayakan hidup.
Mungkin aku hanya membutuhkan program diet yang lebih seimbang dan tetap bisa dibawa enjoy.
Meski begitu, aku tetap merasa bersyukur atas perjalanan ini dan atas segala hal yang masih bisa kunikmati setiap hari.
Semangat, perjalanan ini belum selesai, dan aku yakin aku bisa menjalaninya.
Aku menemukan cinta kasih bukan dalam gemerlap dunia atau riuhnya manusia, melainkan dalam sunyinya dinding bilik ini dan lurusnya hamparan sajadah.
Dalam sujud yang hening, aku bersimpuh menyembah dan mengagungkan-Mu, Tuhanku, Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Butiran dzikir mengalun lembut, menuntunku untuk menyelami kedalaman makna dan cintaku kepada-Mu.
Deretan kalam suci Al-Qur’an mengalirkan ketenangan yang tak mampu diberi oleh dunia yang fana ini. Saat ‘ku resitasi ayat demi ayat, hatiku larut, jiwaku lepas dari belenggu kesementaraan ini.
Di tengah ketenangan serta kedamaian ini, aku berdoa dalam diam, dengan harapan do’a ini ingin dikabulkan pada suatu hari nanti oleh-Mu…
Wahai Allah, wahai Sang Maha Kasih, jika tiba saatnya aku kembali kepada-Mu, izinkan aku berada dalam tubuh yang suci, jiwa yang bersih dari noda, dalam keadaan beribadah kepada-Mu, berdo’a kepada-Mu atau bersujud memohon ampun kepada-Mu, seraya mengagungkan betapa tak terbatasnya kebesaran dan kekuasaan-Mu itu. Allah, aku ingin pulang bukan sebagai hamba-Mu yang lalai, tapi sebagai pencinta yang tak pernah lelah merindukan-Mu dan Kekasih-Mu yaitu Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Aamiin.
Peperangan adalah bukti dari betapa besarnya ego manusia.
Ketika satu pihak merasa lebih benar, lebih kuat, lebih pantas menguasai, maka lahirlah konflik. Kata-kata tak lagi cukup, diplomasi telah diabaikan, dan akhirnya peluru menjadi bahasa terakhir. Setiap peluru yang ditembakkan, setiap bom yang dijatuhkan, adalah hasil dari keangkuhan manusia yang tak mau mengalah.
Apa yang diperoleh dari perang?
Nyawa manusia menjadi sangat murah.
Tanah yang direbut berubah jadi kuburan massal.
Bangunan yang dihancurkan tak lagi bisa menampung harapan.
Anak-anak kehilangan masa depan, dan generasi muda dipaksa menjadi saksi kehancuran.
Kelak, ketika dunia hanya tersisa menjadi abu karena ratusan ton bom nuklir yang saling dijatuhkan, saat itulah umat manusia akan benar-benar tersadarkan, betapa merugikannya pengorbanan yang harus dibayar hanya demi peperangan.
Tetapi sayangnya semua itu sudah terlambat.
Terlambat untuk meminta maaf.
Terlambat untuk memperbaiki.
Terlambat untuk membangun kembali.
Yang tertinggal hanyalah kesunyian… dan penyesalan.
Perang, pada akhirnya, adalah kesia-siaan yang megah.
Ia memuaskan ego sesaat, tetapi mengorbankan seluruh peradaban.
Dan ketika umat manusia akhirnya menyadari betapa tidak bergunanya semua perang itu, mungkin kita sudah tak ada lagi kesempatan untuk belajar dari kesalahan.
Ingatlah hal ini.
Jika ditanya, “Dalam perang ini, pihak mana yang kamu dukung, A atau B?”
Baru saja aku nonton dokumenter Joe Hattab tentang Brunei Darussalam, negara kecil yang bahkan kalau di-zoom di peta pun hampir nggak kelihatan. Tapi lihatlah apa yang mereka punya: rakyat makmur, rumah sakit dan pendidikan gratis, hidup tenang dan terjamin, semua karena satu hal: mereka cuman jualan minyak.
Sekarang, lihat Indonesia. Negara 330 kali lebih besar dari Brunei. Punya segalanya: minyak, tambang, laut, hutan, sawah, gunung, emas, nikel, batubara, gas alam, semua jenis kekayaan bumi ada di sini.
Tapi rakyatnya? Masih harus jungkir balik demi makan dan biaya sekolah.
Kenapa bisa? Karena negara ini tidak diatur untuk rakyat!
Tahun 2016, Oxfam melaporkan bahwa 1% orang terkaya di Indonesia menguasai hampir separuh (49%) dari seluruh kekayaan nasional, menjadikan Indonesia berada pada peringkat keenam dalam kategori ketimpangan distribusi kekayaan terburuk di dunia. Artinya: 281 juta lebih orang sisanya harus berebut sisa-sisa remah dari meja kekuasaan para kapital.
Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari sistem yang bobrok, kapitalisme yang dibiarkan merajalela tanpa kendali.
Kapitalisme membuat segelintir orang bisa menghisap hasil keringat jutaan orang lain tanpa rasa malu. Perusahaan-perusahaan besar merampas tanah, sumber daya alam hingga hancur seperti di Raja Ampat, lalu eksploitasi hasil produksi rakyat, terus mengekspor keuntungan mereka ke luar negeri atau kantong elite.
Negara? Diam saja. Atau bahkan jadi kaki tangan alias babu mereka.
Dan yang paling menyakitkan?
Setiap kali rakyat mencoba berpikir alternatif, dengan membaca, bicara, atau belajar tentang sosialisme atau ide-ide kiri, langsung dicap komunis, langsung dibungkam!
Ini warisan Orde Baru yang menjijikkan. Pemikiran kiri diberangus habis-habisan. Bukan karena berbahaya, tapi karena mengancam kenyamanan para penguasa dan pemilik modal.
Padahal, nilai-nilai pemerataan dan keadilan sosial itu bukan milik satu ideologi tertentu. Pancasila sendiri mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini tentang memastikan kekayaan bangsa ini dinikmati oleh SEMUA ORANG, bukan cuma segelintir elit rakus!
KIRI bukan berarti PKI!
Aku berharap suatu saat nanti, masyarakat kita bisa lebih terbuka untuk berdiskusi dan berpikir kritis tentang berbagai ide, termasuk yang berkaitan dengan keadilan sosial, tanpa langsung dihakimi atau dibungkam.
Kita sudah terlalu lama dibodohi oleh sistem kapitalisme yang mengakar. Sudah saatnya Indonesia bicara lantang: cukup!
Indonesia seharusnya lebih adil dan merata dalam mendistribusikan kekayaan alamnya!
Biar rakyat bangkit. Biar kekayaan negeri ini kembali ke tangan yang berhak, siapa lagi kalau bukan RAKYAT. BUKAN KORPORASI!
Sejak tulisan ini dibuat. Dalam 1–2 minggu ke depan, aku akan menghilang sejenak dari media sosial dan juga dari pergaulan di dunia nyata. Aku ingin memberi ruang bagi diriku untuk menenangkan diri dari kebisingan, keramaian, dan segala hal yang membuat batin terasa riuh. Karena jujur, aku kurang suka dengan segala bentuk keramaian.
Ini adalah waktu yang aku pilih untuk kembali mendekat pada hal-hal yang selama ini terasa asing dan samar bagi indraku, pada yang hakiki, yang sunyi, yang tak banyak bicara, tapi menyimpan banyak makna. Tuhan, Semesta dan relung hati yang terdalam.
Maaf jika ada pesan yang tidak bisa terbalas, maaf jika ada telepon yang tidak terjawab. Tolong beri diri ini waktu untuk menikmati kesendiriannya.
Aku ingin menjadi orang yang baik, bukan karena ingin dipuji, tapi karena hatiku merasa damai saat berbuat baik.
Aku ingin menjadi orang yang tulus, bukan karena ingin terlihat sempurna, tapi karena ketulusan itu membebaskan, dari pura-pura, dari topeng, dari lelahnya berpura-pura bahagia.
Menjadi baik bukan soal tak pernah marah, tak pernah kecewa, atau selalu tersenyum. Tapi soal bagaimana aku memilih untuk tidak membalas luka dengan luka. Tentang memaafkan, meski tidak selalu dimengerti. Tentang tetap peduli, meski pernah disakiti.
Menjadi tulus bukan tentang selalu memberi tanpa batas, tapi tentang memberi tanpa hitung-hitungan. Tentang berkata jujur, meski bisa saja disalahpahami. Tentang mencintai sedalam-dalamnya dan tulus.
Aku tahu, ada kalanya aku lelah. Tapi aku ingin terus belajar… menjadi lebih sabar, lebih sederhana, dan lebih bersih hatinya.
Karena dunia butuh lebih banyak kebaikan yang nyata. Dan kalau bukan aku yang memulai dari diri sendiri, lalu siapa?
Aku takut…
Takut jika aku menjadi orang yang tidak jujur.
Bukan hanya takut dipandang buruk oleh sesama, tapi lebih dalam dari itu, aku takut kehilangan cerminan diriku sendiri.
Aku takut jika suatu hari nanti, kata-kataku tak lagi bisa dipercaya.
Aku takut senyumku menyimpan kepalsuan, dan tindakanku hanyalah topeng untuk menutupi kegelisahan nurani.
Aku takut menjadi orang yang ringan berkata bohong, walau awalnya hanya hal kecil.
Aku takut jika akhirnya aku menjadi pribadi yang mengkhianati nilai-nilai yang seharusnya kujaga.
Lebih dari segalanya, aku takut di hadapan Tuhan.
Takut jika aku mulai menipu diri sendiri demi kenyamanan sesaat.
Takut jika langkahku menjauh dari cahaya yang seharusnya membimbing.
Karena kejujuran bukan sekedar perkara benar atau salah, tetapi tentang kesetiaan pada nurani yang bersih.
Aku pernah melihat seseorang, seseorang di tempat ‘ku menimba ilmu, seseorang yang tidak menggurui, tetapi memberi teladan dalam kejujuran yang tulus.
Ia tidak mengangkat suara, tidak memaksa. Tapi caranya hidup, caranya berkata, caranya bertindak… membuatku terdiam.
Darinya aku belajar, bahwa jujur itu bukan untuk dipamerkan.
Jujur itu tentang keberanian diam-diam, tentang memilih yang benar walaupun arus yang telah menjadi lawan.
Tentang setia pada prinsip, bahkan saat tidak ada hadiah menunggu.
Kesetiaan pada jalan itu, walaupun godaan dilema selalu saja muncul di depan mata.
Aku ingin seperti itu.
Ingin tetap bisa menatap mata orang lain dengan tenang.
Ingin bisa tidur tanpa beban rahasia.
Ingin berdiri di hadapan Tuhan tanpa membawa dusta dalam genggaman.
Terkadang aku rapuh, terkadang aku tergoda untuk menyimpang.
Tapi semoga aku selalu diberi kekuatan.
Harus jujur, meski menyakitkan.
Harus jujur, meski sunyi.
Harus jujur, karena aku ingin hidup damai, di mata manusia, dan terutama, di mata Tuhan.
Salah satu alasan aku begitu menikmati kebebasan dan belum merasa perlu memiliki pasangan saat ini adalah karena aku masih sering melakukan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang terlihat “childish”. Tapi buatku, itu bukan sesuatu yang salah atau kekanak-kanakan dalam arti negatif. Justru, itu adalah caraku menikmati hidup, melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkan, seperti anak kecil yang bebas bermain tanpa beban.
Aku masih suka menari sendiri saat dengar lagu favorit, tertawa karena hal-hal receh, menonton kartun, bermain game di depan komputer, atau asyik membuat sesuatu yang mungkin dianggap aneh atau nyeleneh oleh orang lain. Tapi semua itu memberiku ruang untuk merasa hidup, merasa utuh sebagai diriku sendiri.
Dan jujur saja, kalau suatu saat aku menemukan pasangan yang bukan hanya menerima, tapi justru ikut tertawa melihat sisi “childish”-ku, yang nggak melarang, nggak menghakimi, tapi malah merasa itu bagian lucu dan sisi jujur dari diriku… bisa jadi, di saat itu aku benar-benar jatuh cinta. Tidak, cinta mati sepertinya malah. Karena buatku, perempuan seperti itu bukan hanya pasangan, tetapi juga rumah bagiku.
Untuk sekarang, aku masih ingin merayakan kebebasan ini. Tapi jika suatu saat kebebasan dan tawa itu bisa dibagi dengan seseorang yang memahami dan menikmati versiku yang paling jujur… saat itu aku ingin hidup bersamanya selamanya.
Sabtu pagi, seperti biasa aku mengawali hari dengan berolahraga. Langkah kaki ringan di antara keramaian orang-orang yang juga menyambut pagi dengan semangat. Di antara mereka, senyum-senyum hangat bertebaran, senyum yang tak saling mengenal, tapi seolah mengerti bahwa kita sedang sama-sama mengisi hidup.
Udara pagi begitu segar, menyelinap lembut ke dalam dada. Kabut tipis masih menggantung rendah, seakan belum rela meninggalkan malam. Dan di ufuk timur, matahari mulai menampakkan diri perlahan, membelah langit dengan cahaya keemasannya.
Saat itu, aku terdiam sejenak. Menikmati keindahan yang tak dibuat-buat. Sunrise pagi itu dengan kabut dan sinarnya terasa seperti senyuman dari seorang wanita yang anggun. Senyuman yang tenang, tulus, dan menyejukkan batin. Ia tak berkata apa-apa, tapi mampu meredakan gelisah yang mungkin tersembunyi dalam hati.
Di pagi seperti ini, aku merasa hidup. Merasa cukup. Dan merasa bersyukur.