Di ufuk waktu, senyummu merekah
Menyisip tenang dalam denyut senja
Warna kulitmu, bagai gula Jawa yang larut
Namun manismu bukan sekedar warna, ia pancaran alami jiwa
Matamu teduh seperti danau di hening pagi
Menatap dunia dengan lirih yang menawan
Gerakmu ringan seperti desir angin padi yang selalu teringat
Menggetarkan sunyi, mengusik diamku yang pelan
Aku tertegun dalam diam yang panjang
Menjadi saksi bagi senyummu yang menari
Tak terucap kagumku dalam terang
Tersimpan rapi di relung yang tak bertepi
Malam-malam dilewati bersama bayangmu
Mencatat rindu dalam sunyi tak terjamah kata
Dan kupanggil engkau dalam diam yang bermuara
Wahai si manis gula Jawa
Pagi ini, aku menyetel musik reggae, nada-nadanya mengalir pelan, seirama dengan damainya suasana pagi. Di benakku, aku membayangkan sedang berada di tempat yang tenang, di sebuah pagi yang sempurna.
Seakan-akan cakrawala langit biru sedang membentang luas, dihiasi awan putih lembut yang mengalir perlahan mengikuti arah angin. Udara sejuk menyentuh kulit, menyegarkan paru-paru, dan membuat hati terasa lapang. Daun-daun bergoyang ringan, seperti ikut berdansa bersama irama reggae yang mengalun dari speaker.
Setiap dentuman bass dan petikan gitar membawa rasa syukur, seakan dunia sedang dalam ritme yang pas. Tak ada yang terburu-buru. Semua tenang, damai, dan terasa hidup. Aku menutup mata sejenak, membiarkan musik dan suasana pagi membawaku pada kebahagiaan yang sederhana.
Reggae di pagi hari bukan sekedar musik, tapi perasaan. Perasaan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Lihatlah dunia ini. Rusak. Hancur. Dihabisi perlahan tapi pasti oleh makhluk paling sombong dan rakus yang pernah menginjakkan kaki di bumi, manusia. Lebih tepatnya, manusia yang tunduk pada nafsu tak berujung dan diperbudak sistem keji bernama kapitalisme.
Hutan-hutan kita paru-paru dunia, dibabat tanpa belas kasihan. Dibakar hidup-hidup demi kebun sawit, demi tambang, demi vila-vila mewah untuk segelintir orang yang tak tahu arti cukup. Gunung dikeruk, laut diracuni, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah. Semua atas nama “kemajuan”. Semua demi pertumbuhan ekonomi yang nyatanya hanya memperkaya para bajingan yang sudah kaya sejak lama.
Kerusakan-kerusakan ini tidak hanya soal hutan yang dibabat habis atau sungai yang mati. Kapitalisme dan keserakahan juga menyalakan api pembakaran untuk bumi bernama pemanasan global. Asap pabrik, pembakaran hutan, kerakusan industri, semuanya menumpuk menjadi karbon di udara, membuat bumi semakin panas, membuat es di kutub semakin mencair, cuaca menjadi gila, banjir dan kekeringan pun datang silih berganti. Ekosistem porak-poranda, jutaan makhluk hidup kehilangan rumah, tetapi manusia tergilakan oleh kerakusan tetap pura-pura buta demi sebuah tumpukkan uang.
Global warming bukan ancaman masa depan, ini adalah bencana hari ini, sekarang, di depan mata, dan semua itu buah dari kerakusan yang tak pernah tahu kapan akan berhenti.
Dan yang lebih busuk lagi,
pemerintah ikut menjadi dalangnya…
Pemerintah yang mana?
Pemerintah yang korup. Pemerintah yang menutup mata pada penderitaan rakyat dan kerusakan alam, tapi membuka tangan lebar-lebar untuk suap, untuk izin tambang, untuk proyek-proyek yang hanya menguntungkan segelintir elite. Pemerintah yang pura-pura peduli di depan kamera, tapi di belakang meja menandatangani kontrak penghancuran bumi. Pemerintah yang membiarkan aparatnya jadi alat pemukul, bukan pelindung. Pemerintah yang lebih takut kehilangan investasi daripada kehilangan hutan, sungai, dan masa depan anak cucu bangsanya sendiri.
Alih-alih melindungi alam dan rakyatnya, mereka malah menjadi kaki tangan kapitalisme. Proyek-proyek yang katanya “pembangunan”. Jalan tol, bendungan, bandara, tambang, kawasan industri, semuanya dibangun di atas reruntuhan hutan, kampung adat, sawah rakyat, dan kehidupan flora-fauna yang dilenyapkan. Mereka seolah-olah tuli terhadap jeritan masyarakat adat, terhadap laporan ilmuwan, terhadap teriakan aktivis lingkungan, terhadap kenyataan bahwa bumi pada hari ini sedang sekarat. Tuli, atau lebih tepatnya mereka memilih untuk tidak peduli.
Mereka menyebut ini investasi, pertumbuhan, modernisasi. Tapi nyatanya ini adalah penghancuran sistematis atas alam oleh negara, untuk segelintir elite. Hukum dijadikan alat penjaga kepentingan mereka. Aparat dikerahkan bukan untuk menjaga hutan, tapi untuk memukul mundur warga yang melawan perampasan tanah.
Semuanya satu komplotan: pengusaha rakus, pejabat korup, dan birokrat pengecut. Mereka merampok alam di siang bolong dan berharap kita diam. Tapi tidak. Kita harus marah. Kita harus teriak. Kita harus menolak.
Karena jika kita diam sekarang, yang akan diwariskan ke anak cucu bukan dunia yang layak huni, tapi kuburan raksasa penuh debu, api, dan air yang tak bisa diminum. Alam tidak butuh manusia. Tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Dan kalau hari itu tiba, hari di mana semua telah hancur tak bersisa, kita tahu siapa yang harus disalahkan.
Bukan hanya kapitalisme. Tapi juga pemerintah yang mengkhianati amanahnya, membiarkan, bahkan menyetujui pembantaian terhadap bumi.
Dan kepada mereka semua, darah kehancuran ini ada di tangan kalian.
When the last tree is cut, When the last river is emptied, When the last fish is caught, Only then will Man realize that he can not eat money. —Eric Weiner
Sebagai akhiran, mari dengarkan lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul sama, “Efek Rumah Kaca”. Lagu ini adalah pengingat dan refleksi tentang apa yang sedang terjadi pada bumi kita hari ini.
Terkadang aku merenung cukup dalam tentang apa sebenarnya arti bahagia dan bagaimana cara menemukannya. Dalam proses kontemplasi, aku menyadari bahwa selama ini aku terlalu sering terjebak dalam kenangan masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Aku menyadari bahwa hal-hal yang membuatku tidak bahagia sering kali datang dari pikiranku sendiri, dari membiarkan luka lama dan rasa kecewa terus menguasai hari-hariku.
Namun dari perenungan ini, aku menemukan satu titik terang bahwa kebahagiaan ternyata bisa sesederhana memilih untuk hadir sepenuhnya di saat ini. Fokus pada apa yang sedang terjadi sekarang, bukan apa yang sudah atau belum terjadi. Dengan memusatkan perhatian pada momen yang sedang kulalui, aku bisa lebih menerima, lebih bersyukur, dan lebih sadar akan banyak hal kecil yang sebenarnya bisa membuatku tersenyum.
Aku ingin belajar untuk tidak lagi membiarkan diriku terjebak dalam rasa sedih atau marah yang berkepanjangan. Aku ingin berusaha sepositif mungkin setiap waktu, tanpa mengabaikan kenyataan, tetapi juga tidak membiarkan kenyataan itu menghisap habis semangatku.
Karena aku percaya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus selalu dicari jauh-jauh. Ia bisa hadir di sini, sekarang, asal aku memilih untuk membuka hati dan mata terhadapnya.
Ada beberapa hal dari Nazi yang cukup menarik perhatianku, tapi perlu sekali ditekankan dari awal bahwa aku sama sekali tidak mendukung atau membenarkan kebiadaban, kekejaman, dan kejahatan kemanusiaan yang telah mereka lakukan. Yang aku kagumi lebih ke aspek-aspek non-ideologis yang terpisah dari sisi kebrutalan mereka.
Pertama, kemampuan mereka dalam membangun disiplin militer dan organisasi. Struktur militer Nazi memang terkenal sangat terorganisir, rapi, dan efisien dalam menjalankan operasi. Mereka sukses mengimplementasikan strategi-strategi militer yang di zamannya tergolong maju, terutama dalam penggunaan taktik Blitzkrieg yang sangat efektif untuk perang kilat.
Kedua, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Beberapa penemuan teknologi di masa Nazi, seperti mesin roket V2, jet tempur pertama, dan perkembangan medis, jadi bukti bagaimana mereka bisa memobilisasi para ilmuwan untuk menghasilkan terobosan-terobosan penting. Walaupun banyak penelitian dilakukan dengan cara yang tidak beretika dan penuh kekejaman, tetap saja hasil inovasinya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Ketiga, propaganda yang efektif. Nazi benar-benar memanfaatkan propaganda secara masif dan terstruktur untuk mengendalikan opini publik dan membangun citra tertentu. Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi, sukses merancang strategi komunikasi yang memanipulasi media dengan sangat efektif. Teknik-teknik propaganda yang mereka kembangkan bahkan masih jadi bahan studi penting buat para ahli komunikasi sampai sekarang.
Keempat, fashion militer mereka yang ikonik. Uniform SS, rancangan Hugo Boss, sampai berbagai atribut militer Nazi memang punya estetika yang tegas, terstruktur, dan menarik secara visual. Walaupun sekarang atribut itu identik dengan kekejaman, tidak bisa dipungkiri kalau desainnya tetap berpengaruh ke tren fashion militer sampai hari ini.
Tapi sekali lagi, kekaguman terhadap aspek-aspek tadi sama sekali bukan pembenaran atas kekejaman mereka. Justru, ini sebagai pengingat bahwa ideologi yang destruktif bisa sekali mengendalikan potensi manusia ke arah yang salah. Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih waspada agar sejarah kelam seperti itu tidak terulang kembali.
Berikut beberapa video yang aku maksud di note kali ini:
Evolution of German Uniforms | Animated History
The Powerful Secrets of Nazi Science and Technology
What Was Nazi Propaganda? | Holocaust Explainer
Why Were The Nazis So Stylish? // Secret History Revealed
Alasannya mungkin sederhana, saat ini aku memang belum memiliki niat atau keinginan untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku merasa belum ada urgensi untuk terlibat dalam hubungan romantis. Justru, aku lebih nyaman menikmati waktu sendiri, sehingga bisa fokus mengejar hal-hal yang ingin kucapai tanpa distraksi dari hubungan asmara.
Dari sudut pandang agama yang aku anut, sebenarnya konsep pacaran memang tidak dikenal. Salahsatu alasannya itu, kenapa aku lebih memilih untuk tidak berpacaran. Aku ingin, jika memang nanti ingin menjalin hubungan, itu adalah hubungan yang serius dan jelas tujuannya, bukan sekedar hubungan sementara yang tanpa arah.
Selain itu, aku juga berusaha realistis. Saat ini, aku merasa belum siap untuk berkomitmen dengan seseorang, baik secara mental maupun material. Bagiku, hubungan bukan hanya soal romantisme, tapi juga kesiapan untuk menjadi teman hidup yang saling mendukung hingga akhir hayat nantinya. Jika memang belum siap, menurutku lebih baik tidak perlu memaksakan diri. Untuk sekarang, aku memilih untuk menikmati hidupku sendiri terlebih dahulu.
Untuk saat ini, mungkin aku akan memilih untuk “menolak” dengan menjaga jarak (diam). Bukan karena tidak menghargai sama sekali, aku tidak pernah bermaksud seperti itu sedikitpun… tapi justru demi menjaga perasaan mereka agar tidak berharap pada sesuatu yang belum bisa aku berikan dan dapat menimbulkan perasaan kekecewaan. Walaupun mungkin saja rasa didalam dada ini bertolak belakang dengan semua keputusan itu.
Di malam yang hening, bintang-bintang bersinar,
menyinari langit, bagai permata di samudra.
Bulan tersenyum lembut dari atas,
menemaniku dalam perjalanan ini, yang tak pernah usai.
Seperti bintang di langit, hidupku penuh warna,
ada masa gelap, ada masa terang, semuanya berharga.
Setiap langkah, setiap jejak, adalah pelajaran,
mengajarkanku arti dari keberanian dan kesabaran.
Di tengah kegelapan, kadang aku tersesat,
namun, cahaya harapan selalu ada di depan.
Seperti angin yang berbisik, memberi semangat,
mengajakku untuk terus melangkah, tak pernah berhenti.
Malam ini, aku merenung, tentang apa yang telah kulalui,
dan apa yang masih menanti di depan sana.
Dengan hati yang penuh syukur, aku melangkah maju,
menghadapi hari esok, dengan semangat yang baru.
Di sudut kamar yang tak pernah ramai,
terpasang engkau, kipas angin setia.
Tak bersuara memanggil, tak mengeluh lelah,
namun terus berputar, menyejukkan gelisah.
Aku baru tersadar, di malam-malam panjang
saat gerah menusuk dan kantuk menjauh,
engkaulah yang lembut mengusir panas,
mengayun hening dengan desah yang halus.
Bukan hanya angin yang kau beri,
tapi ketenangan, kenyamanan,
yang tak pernah kuucapkan terima kasih,
karena aku terlalu terbiasa akan hadirmu.
Kini, kulihat engkau tak sekuat dulu,
dengan baling-baling yang mulai renta,
namun tetap setia, tetap ingin berguna,
walau tak ada balas budi dari manusia.
Terima kasih, kipas angin di kamarku.
Untuk kesetiaanmu, untuk hembusanmu.
Maafkan aku yang lupa menghargai,
benda mati yang diam-diam menyelamatkan malamku.
Yang membuatku enggan diam dan patuh saja sebagai warga negara Indonesia adalah kebiasaan warganya yang begitu mudah terjangkit penyakit fanatisme terhadap pemimpinnya, terutama yang tampak bersinar di mata dan merdu di telinga. Saat fanatisme menguasai isi kepala, batas antara salah dan benar sudah menjadi buram alias abu-abu. Segala tindakan akan dibela mati-matian, seolah pemimpin adalah makhluk suci dan sempurna tanpa sebuah cela.
Kita boleh berbangga-bangga pada pemimpin yang katanya berpihak pada rakyat, yang mendengar dan menolong rakyat. Tetapi sehebat apa pun ia, tetaplah manusia biasa, penuh batas dan potensi khilaf. Sebagai masyarakat, akal sehat harus jadi kompas utama. Jika ia benar, dukung dan patuhi. Jika ia salah, luruskan dan suarakan. Jangan sampai kita terseret oleh arus dan tersesat dalam kepatuhan membabi buta karena mengedepankan emosional semata.
Sudah saatnya kita bercermin dari masa lalu. Kini Indonesia justru dikatakan sedang mundur karena dipimpin oleh mereka yang tak cukup cakap mengurus negeri. PHK massal, kemiskinan naik, harga-harga melambung, nilai Rupiah terjun bebas, hingga pemangkasan anggaran pendidikan atas nama efisiensi.
Dan semua ini berpangkal dari apa?
Dari kalian yang membela para pemimpin hanya karena emosi, bukan karena akal dan nurani!
Kecantikan dari wanita bukan sekedar rupa yang menyenangkan mata, melainkan gema sunyi dari kebijaksanaan yang tak terucap, dan kekuatan yang dibalut kelembutan abadi. Dalam setiap kisah, mereka dimuliakan sebagai simbol suci, hadir dalam dongeng nenek moyang, dan hidup dalam adat yang mengajarkan penghormatan. Mereka adalah puisi yang ditulis semesta, bait-baitnya mengalir dalam darah peradaban.
Para filsuf mungkin menyebutnya harmoni antara bentuk dan jiwa, antara apa yang tampak dan apa yang terasa. Namun aku, sebagai seorang lelaki yang masih belajar cara membaca makna di balik tatapan dan senyuman itu, lebih sering terdiam, terperangkap dalam kekaguman yang tak terucap. Aku tidak sekedar melihat kecantikan itu, aku tenggelam di dalamnya. Dalam senyum yang lahir tanpa sadar, dalam tutur kata dan gerak yang halus, ia mampu menenangkan badai di dalam batin ini, seolah dunia berhenti sejenak untuk mendengarkan bisikan lembut dari mereka.
Kecantikan itu bukan miliknya seorang saja. Ia menjalar lembut, seperti aroma bunga di pagi hari yang diam-diam mengubah udara menjadi puisi. Ia menyentuh cara dunia memandang, meresap ke dalam caraku bermimpi, menari di antara harapan dan kenyataan. Aku, dengan segala keterbatasan dan keraguan, belum mampu untuk mengangkat pintu besi raksasa itu untuk benar-benar memiliki seluruh keindahan itu. Namun, begitulah, aku masih hanya ingin cukup dekat untuk memahami kedalaman samudra di dalam kedua mata itu, dan cukup jauh untuk terus mengagumi cahaya yang tak pernah padam di hati dan jiwanya.